Hari ini, tanggal 31 Desember, hari terakhir di tahun 2008 dan pekerjaan saya untuk tahun 2008 masih lumayan banyak yang tersisa untuk diselesaikan. Ah, berpikiran positif sajalah, saya masih punya waktu lebih dari 15 jam.
Untuk sampeyan sekalian, selamat tahun baru 2009. Untuk Bapak di Bandung, 1 Januari Pak … selamat ulang tahun yang ke 73, kadonya minta sama menantumu saja ya.
Continue Reading
31 Comments

Uang logam, recehan, itu menyebalkan! Terselip di kantong, sering meyakitkan kalau saya duduk (salahnya pakai celana kok sempit), secara fisik saya telah di(ter)siksa oleh uang logam itu. Uang logam juga tukang bikin gara-gara juga kalau saya melewati pemeriksaan yang menggunakan detektor logam. Alat itu menjerit-jerit, ada uang logam yang maish terselip di kantong tampaknya, lantas lelaki kekar minim senyum menghampir. Buat saya sungguk tidak ada nyaman-nyamannnya diraba-raba lelaki kekar itu.
Sulit untuk menemukan barang yang bisa saya beli dengan satu uang logam, kecuali di tempat-tempat khusus seperti di Yogja misalnya. Jika mendapat uang kembalian berupa uang logam, saya biasanya memilih untuk menambah belanjaan saya agar uang logamnya terbelanjakan. Biasanya saya memerlukan beberapa uang logam untuk membeli barang atau jasa. Jika uang logamnya hanya satu, sulit juga “membuang”nya. Pengamen sering cemberut jika diberi uang logam, padahal pada saat dia menyanyi secara paksa di depan saya, dia sudah membuat saya cemberut. Sungguh tidak adil.
Singkat kata, bagi saya uang logam itu mengesalkan. Biasanya uang logam itu saya kumpulkan saja di dalam sebuah wadah. Niat awalnya, jika sudah terkumpul agak banyak, akan saya tukarkan ke bank dengan uang kertas. Hanya saja, buat saya yang pemalas ini, prosesnya menjadi rumit.
Uang kok bikin cemberut. Ah tapi itu dulu. Saya harus berterima kasih kepada Hanny dan Nia yang merubah mood saya terhadap uang logam. Tengoklah apa yang mereka gagas di sini. Barang yang (bagi saya) menjengkelkan itu, bisa menjadi amat sangat bermanfaat. Saya tidak akan bercerita apa itu Coin A Chance, sampeyan baca saja sendiri.
Ikutlah. Paling tidak sekarang sampeyan punya alasan untuk kopdar dengan Hanny atau Nia atau keduanya, dan saya jamin sampeyan tidak akan rugi.
Continue Reading
30 Comments
Tentang masa lalu, dengan segala kemanisan dan kepahitannya, adalah bahan obrolan yang kok ya ndilalah sering diulang-ulang. Sebagian besar isi cerita adalah soal kebanggan, seperti “… jaman revolusi dulu, kakekmu ini … wooo … dapur umum”. Gagah. Tetapi, tidak selamanya kisah “menyenangkan” memang, kadang ya soal kesusahan walaupun tetap dengan nada penuh kebanggaan (susah kok bangga?) seperti ” … dulu itu, bapakmu kalau ke sekolah harus jalan kaki 5 km !!!” Atau kisah yang kikir fakta seperti “… jaman bapakmu sekolah dulu, bapakmu ini penjaga gawang kesebelasan sekolah, dan tidak pernah kebobolan.” Tetapi fakta kalau sang bapak adalah penjaga gawang cadangan (dengan sengaja) tidak diceritakan.
Continue Reading
49 Comments

Hiyaaaa, bisa update blog ini. Jadi begini, sebulan ini saya praktis hidup bersama koper saya itu. Ada Dili, Kupang, Jogyakarta, Brisbane, Townsville, Great Barrier Reef, Singapura dan tentu saja Bali. Ada banyak cerita sebenarnya yang menurut seorang kawan semestinya ditulis. Tetapi toh pada akhirnya tidak ada yang ditulis. Tidak tentang cerita orang-orang Lamalera dan Boti, tidak tentang cerita pemandangan bawah laut The Great Barrier Reef yang masih kalah indah dibandingkan dengan Taman Nasional Wakatobi, juga tidak tentang mengayuh sepeda dari pasar Cebongan ke Warak. Semua cerita tadi akhirnya hanya diceritakan secara lisan saja kepada orang-orang yang tertimpa kemalangan karena duduk di depan saya dan harus mendengarkan saya ngoceh.
Mungkin karena saya lelah (kok ndak pernah lelah ngoceh ya?), atau memang sedang malas saja menulis. Semua itu akhirnya hanya tersimpan di ingatan saya yang sudah dari dulu memang lemah dan terserak di ingatan beberapa orang saja. Karena saya berkeyakinan selalu ada hal baik dari semua kejadian, perkara sepele dan ndak penting semacam jarang update blog begini juga ada berkahnya. Saya jadi punya bahan obrolan jika bertemu dengan kawan. “Ada cerita apa, blogmu sepi cerita”. Lantas, mengapa ini perlu?
Dua hari lagi akan ada kumpul-kumpul besar para blogger di Jakarta. Konon katanya laris manis, ada banyak yang akan datang nanti. Saya berencana untuk datang walaupun tampaknya akan terlambat. Kepada sang manusia kursi hajatan ini saya sudah berkabar, “dengan sangat menyesal, tampaknya saya tidak akan bisa mengikuti acara pidato-pidato”. Dia tidak berkeberatan, karena toh saya bukan salah satu orang yang akan memberikan pidato. Saya hanya ingin bertemu dengan banyak kawan yang sudah lama tidak saya jumpai, dan lantas bertukar cerita. Jika waktu yang tersedia di perhelatan besar itu belum cukup, masih ada warung seorang kawan yang ingin saya sambangi. Betapa sedapnya bertukar cerita sembari menyeruput wedang yang kata sang juragan warung akan diberikan gratis untuk saya. Sampeyan mau ikut? Saya ada banyak cerita.
Lantas itu foto koala di atas apa hubungannya dengan tulisan ini? … Ndak ada hubungannya.
Continue Reading
51 Comments

Si Mas sudah besar … secara harafiah ya begitu. Nomor sepatunya saja lebih mirip nomor rumah. Buat saya dia memang anak yang luar biasa dengan banyak kelebihan. Beberapa waktu lalu saya sempat bilang ke dia, “Mas nanti kamu ulang tahun, Bapak tidak ada di rumah (lagi).” Dengan enteng dia menjawab “Ah, gak apa-apa, kan sudah biasa begitu Pak.” Miris juga mendengar jawabannya. Hari ini dia berulang tahun dan saya hanya bisa mengucapkan Selamat Ulang Tahun dari jauh saja.
Foto oleh Gage Batubara.
Continue Reading
51 Comments