Fany & Yudis
Ihiiiy mereka berdua … sejak hari ini mereka menjadi suami - istri. Selamat.
Ihiiiy mereka berdua … sejak hari ini mereka menjadi suami - istri. Selamat.

Setiap mengikuti perhelatan macam pertemuan kemarin itu di Manado, barang bawaan saya selalu bertambah berat. Ada setumpuk dokumen yang harus dipilah-pilah dan ditindak lanjuti (merajang di mesin perajang dokumen termasuk salah satu tindak lanjut juga), pernak-pernik perhelatan, kartu-kartu nama dari kenalan baru (dan kenalan lama yang sudah ganti juragan/kumpeni) serta segepok tanda pengenal (id-card). Oleh-oleh juga? Ah…saya terlalu kikir dan malas untuk membeli oleh-oleh, bahkan berceritapun kadang malas.
“Saya sudah update blog sayaaaaaaaaaa…”
Begitu jeritan girang pemilik blog ini.
Dasar orang aneh !!!

Dahulu pertanyaannya adalah “Kapan sampeyan menikah?” Itu sudah saya jawab, dengan tindakan menikahi perempuan itu. Lantas belakangan banyak yang bertanya, “Kenapa sampeyan perlu menikah?” … sebetulnya jawaban pertanyaan itu ya sudah tampak. Jika sampeyan kenal saya, maka saya tidak akan bisa seperti sekarang ini jika saya tidak menikahi perempuan itu.
Ada banyak ucapan selamat dan doa yang disampaikan seharian ini, dari kawan, anak-anak dan kerabat. Saya hanya dapat membalas dengan ucapan terima kasih. Bicara soal ucapan, ada satu ucapan selamat dari seorang kawan yang ingin saya bagi. Begini isinya :
selamat merayakan hari pernikahan.
jalanilah hidup secara menyenangkan.
misalnya mengurangi blogging, microblogging, milis, dlsb.
juga kurangilah bergaul dengan anak-anak muda bermasa depan suram itu.*sekali lagi: selamat!
perkawinan bukanlah penjara — sepanjang kita betah di dalamnya.
Benar adanya saudara Rentjoko, saya betah di dalamnya.
Untuk perempuan yang sudah menjadi istri saya selama 17 tahun itu, saya berterima kasih. Dia memang perempuan pintar. Jika sampeyan minta bukti … dia masih memilih saya menjadi suaminya sampai sekarang.
*: Entah siapa yang dimaksudnya. Dia memang orang yang membingungkan.
Photo oleh Gage.
Pagi ini pikiran saya seperti penuh sekali, akibatnya salah naik kereta. Di dalam kereta saya sempat memperhatikan bagaimana para pengguna jasa menjaga barang-barang bawaannya dengan kewaspadaan tinggi. Mungkin khawatir dicopet atau dijambret. Di jaman susah seperti sekarang, kriminalitas kecil-kecilan kelas teri begini memang sering terjadi.
Jika dompet dicopet, mungkin jumlah nominal uang yang ada di dalam dompet tak seberapa, hanya jengkelnya kehilangan dompet itu dapat mengganggu keseimbangan jiwa. Karena dompet toh tidak hanya berfungsi sebagai wadah uang, tetapi juga wadah untuk KTP, SIM, Kartu ATM dan Kartu Kredit atau Kartu Debit. Kehilangan kartu-kartu itu yang bikin jengkel.
Lantas mengapa kejahatan kecil begini seolah dibiarkan saja? Kemana para polisi sang penegak hukum, pembela kebenaran dan pelindung masyarakat? Di gerbong kereta yang saya tumpangi tadi, tak ada seorang polisipun. Baiklah, saya berpikiran positif saja … Para polisi itu mungkin sedang sibuk melayani masyarakat yang ingin membuat surat keterangan kehilangan karena dicopet atau dijambret.