1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Takut Pelangi

Seorang kawan berkata “aku mencintai dia Mas, sungguhan ini, aku nggak main-main“. Lantas dia bercerita tentang pria pujaannya itu, pria yang menurutnya penuh pengertian dan perhatian, baik hati, dan semua kualitas baik dari seorang manusia. Pria yang dipujanya setinggi langit itu juga mencintai dia, paling tidak begitu kata teman saya itu. Lha, kalo sudah cocok begitu apa lagi yang ditunggu? Tak mudah ternyata … teman saya yang sesenggukan sambil curhat soal pria pujaannya itu … juga pria.

Saya ndak akan ngajak diskusi soal apakah homosexual itu boleh atau tidak. Saya hanya ingin tanya, apakah kaum homo (gay dan lesbian) harus dimusuhi dan disingkirkan karena orientasi sexualnya? Misalnya begini, sampeyan punya teman yang sangat baik dan akrab, lantas pada titik di mana pertemanan itu memasuki gerbang persahabatan, teman sampeyan itu bilang kalau dia itu homo. Maju terus, atau sampeyan menyingkir sambil mindik-mindik atau lari lintang pukang.

Saya sendiri tidak ambil pusing dengan orientasi sexual teman-teman saya. Beberapa ada yang gay, ada yang lesbian, ada yang heterosexual dan ada juga yang rame rasanya (ini istilah saya untuk yang bisexual). Beberapa teman mengungkapkan kejijikannya membayangkan aktivitas sexual kaum homo. Lha kok yang dibayangkan aktivitas sexual toh? Mbok ya membayangkan yang lain saja. Apa iya mereka juga suka membayangkan aktivitas sexual temannya yang ndak homo? Ngakunya sih tidak, dan ndak perlu karena menurut saya (ndak pake in my humble opinion) hal tersebut adalah wilayah pribadi.

Ngobrol dengan beberapa teman yang menolak kehadiran kaum homosexual dalam lingkaran pertemanannya ternyata lebih didasarkan pada prasangka yang berujung pada ketakutan, bukan karena alasan lain. Bisa jadi karena sampel teman homophobic saya terlalu kecil sehingga jawabannya hanya satu itu saja.

Saya ndak sepakat jika ada orang yang lantas dikucilkan dan dibuang karena orientasi sexualnya. Lha, apa saya gay kok ujug-ujug ndobos soal homosexual segala? Bukan, saya bukan gay …. tapi kalau saya gay memangnya kenapa? tidak ada yang perlu ditakutkan toh? Ketakutan tanpa periksa kepada kaum pelangi semestinya memang tidak perlu ada.

16 orang ikut ndobos

1

Gravatar

26 November 2006 18:37:46

nananias

yap perbedaan kita ama mereka itu ya cuman orientasi seksualnya. mengucilkan mereka itu ga banget apalagi mencap mereka sakit, lha sakit apa mereka ketika mereka bahagia dengan pilihannya?

saya salut dengan pilihan teman saya untuk terbuka mengakui diri sebagai lesbian, ngga koar-koar tapi ngga pernah muna menyangkal.

2

Gravatar

26 November 2006 21:31:31

Hedi

aku pernah berteman dg seorang gay dan dapet pengalaman gila….akibatnya aku ngancem dia jgn bikin hal yg tidak² apabila masih ingin berteman….

3

Gravatar

27 November 2006 01:51:30

mbakDos

yah… kadang2 jadi berbeda dari yang kebanyakan itu memang bikin dibenci sama orang lain.

4

Gravatar

27 November 2006 02:40:43

wd

pada kasus2 tertentu.. manjadi gay sendiri sudah sebuah beban pada ybs.. kenapa mesti ditambahi beban lagi dengan menyingkiri dan mengucilkan mereka.. jadi.. sepakat sama Pakde.. :)

5

Gravatar

27 November 2006 03:10:26

supsalmon

jadi inget cerita juara miss brighton…

6

Gravatar

27 November 2006 04:34:25

tito

Nanti, deh kalau ketemu orang gay, aku tak njajal, udah berani beneran atau enggak? Survey kok sampelnya cuma satu? Sampelnya siapa coba?

7

Gravatar

27 November 2006 06:19:21

MaIDeN

Jangankan homo ato banci ato lonte sekalian …
Sumanto aja nggak boleh dimusushin ;)

8

Gravatar

27 November 2006 09:03:46

Pasiene Mbah Dipo

nggih bener klo kt ndak boleh mengucilkan kaum ‘pelangi’ itu. tp bukan berarti kt membenarkan tindakan mereka. krn dilihat dr sudut pandang manapun, tindakan mrk adalah salah. klo ndak percaya, tanya saja pada dokter sayah :D

wah, au entuk jaran maneh…

9

Gravatar

27 November 2006 10:14:53

bangsari

soal teman gay mah oke saja. kalo dikejar-kejar gay, itu baru mengerikan. hi…

10

Gravatar

27 November 2006 11:06:32

kawula alit

apa hubungan gay sama penyu? kalo gay itu suatu bentuk hubungan yang agak ora lumrah, njelehi si enggak, tergantung dari kita untuk menilainya.. wong sejatinya urip ng alam ndonyo kuwi werno werno kekarepane, lah nggih mekaten to pakdhe..?? kalo penyu? penyu itu key kode saya untuk komen. hubungannya..?? jelas nggak ada..

11

Gravatar

27 November 2006 12:24:48

Qky

tergantung sudut pandangnya, Boss…
btw, saya cuman pengen nanya, Kenapa Tuhan menghukum mereka berkenaan kaum Sodom di zaman Nabi Luth? maaf, lho, Boss

12

Gravatar

27 November 2006 17:47:42

Blanthik Ayu

aku kucing????? wuihhhh ngarang…aku blanthik kok :p pelangi kui indah tho…merah kuning ijo di langit yg biru….pelukismu agung siapa gerangan..pelangi pelangi ciptaan Tuhan :D

13

Gravatar

27 November 2006 21:54:35

venus laaah

setuju. sex, seperti juga hidup, adalah semata soal pilihan. sepertinya begitu.

lha kalo misalnya aku androgini, gak lanang gak wedok, what u say, my dear friend? mosok njuk aku dimusuhi?

walah, kok sekarang dapet ‘babi’? dear God…

14

Gravatar

28 November 2006 01:43:48

bebex

terkadang manusia2 seperti mereka itulah yang lebih bisa mengerti kita..

15

Gravatar

17 July 2007 22:18:11

Putu Alberto Lee

Nice write up.

Ya… gimana ya. Gw susah banget masuk ke alam pikiran orang2 yang belaga-jijik / anti-gay.

Kalau alasan anti-nya, prasangka “gay == sexmelulu”, well, kalau mau jujur, semuanya juga gitu, dan semuanya juga gak gitu. Mau homo, hetero, bisex. Tergantung orangnya kali (dan semua orang juga pasti mikir sex a couple of times a day, sekarang tinggal gimana ngendaliinnya kan? — kesetiaan ama pasangan adalah faktor utama — cieeh, yang setia (gw.. ha ha…))

Kali, prasangka2 itu semata-mata karena ketidaktahuan kebanyakan orang tentang “gaya hidup gay” (what the hell? gaya hidup? that sounds too cosmopolitany / harper’s bazaary / etc).

Dulu, waktu di jkt, gw juga males banget gaul dengan “lingkungan gay”, karena prasangka gw (dari yang gw liat di TV) ya semua gay macam begitu: ya macam tokoh2 selebritis indo, yang kebanyakan susah gw kasi simpati. gak tau napa. snob kali.

Tapi pas pindah ke mexico (mexico city), ternyata beda banget. Tingkat acceptance tinggi, dan gay dari semua kalangan (gak seleb doang) open-open aja, no problem.

Gak tau gimana tuh koq bisa adem gitu di mexico city. Kali kebanyakan orang-orangnya (gay and hetero) gak terlalu sok-rese / respectful ama orang lain. Kenyataanya, orang gak menilai kapasitas seseorang dari orientasi seksualnya.

16

Gravatar

04 August 2008 00:41:14

No Name

Jujur gw seorang gay. Gw tersiksa hidup keq gini. Gw taku..t bgt klo ada seorang yg tau,klo aku sbnarny gay.Aku sedih dn ingin nangis.Aku ga tau knp aku bgini.Tp waktu aku brumur 6 tahun aku disodomi oleh anak laki2 tanteku.Dr sini asal muasalku terjadi.Jd kbanyakan kaum gay,adlh kaum dimana masa kecilny suram,atau diliputi dgn masalah.Jd masalah2 yg mnumpuk tdk tau bgaimana mnghilangkanny.Dn hany sex yg dpt menghilangkan sesaat.
Knp tdk wanita?Mngapa hrs laki2?
Akupun tak bs menjawabny.
Ini e-mail sy,smg klian mau menjadi teman saya.
Genneryodan@yahoo.Co.Id

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya