Sambal Goreng Lalat

Apa pasal ada air bening dibungkus plastik tergantung di atas makanan yang dijual di warung pinggir jalan di Bogor, gondal-gandul begitu. Katanya itu untuk mengusir lalat (laler). Bukan untuk membunuh, hanya mengusir saja, agat lalat tak menclok di atas makanan. Itu bagaimana teorinya, saya ndak tahu juga, tapi tampaknya berdaya dan berhasil guna tuh, kalo ndak kan ndak mungkin dipasang terus sama yang empunya warung. Orang butuh bukti, bukan janji dan teori.

Mengusir hewan yang dirasa mengganggu kelancaran usaha begini bukan hanya masalah warung-warung mepet pinggir jalan. Warung-warung yang ndak mepet pinggir jalan juga mengalaminya. Ada yang menanggulanginya dengan memasang lilin yang menyala, sedotan berperekat dan ada pula yang memasang pembunuh lalat dengan menggunakan sinar biru penarik lalat yang lantas lalat nahas tersebut bakal terjebak diantara jeruji-jeruji logam beraliran listrik. Tak lincah terbang …. pretpret … garing seketika terpanggang listrik, kriuk.

Lalat diemohi, karena dia sering klayaban ke tempat-tempat “jorok” dan menclok di benda-benda tak layak sentuh. Apa-apa yang dihinggapinya bakal menempel riang di kaki-kaki lalat dan jika lalat tersebut lantas pindah ke makanan, bisa-bisa yang nempel tadi bakal tertinggal di makanan itu. Kalau sudah begini, jeroan goreng lezat penuh kolesterol itu bisa jadi tambah tak sehat untuk disantap oleh orang-orang seusia saya.

Pengusiran hewan begini tidak hanya berlaku di warung makanan. Untuk tempat berusaha lain, hewan yang hendak diusir lain pula jenisnya. Sawah misalnya, pak tani lantas memasang orang-orangan sawah (bebegig sawah) untuk mengusir burung-burung bondol dan gelatik yang mengincar bulir-bulir padi.

Di bandara udara, para petugas keselamatan penerbangan sibuk mencari alat untuk mengusir burung-burung yang dengan cueknya mencari makan di pinggir landasan pacu, atau malah jemur-jemur di tengah landasan pacu. Burung yang tak waspada bisa tersedot masuk ke dalam turbin pesawat. Pesawat bisa celaka, karena mesin mati, bilah-bilah kipas turbin berantakan dan burungnya keluar tak berbentuk lagi.

Di laut, duyung bisa bikin sibuk. Geraknya yang lambat tak lincah menghindar baling-baling kapal. Duyung beruntung bisa saja “hanya” luka-luka ringan punggungnya tersabet baling-baling, yang nahas … jadi kornet.

Kembali ke soal lalat di warung, apa enak ya makan makanan di warung pinggir jalan yang ndak dirubung lalat? atau mungkin demi memenuhi tuntutan pasar, penjual perlu menyediakan makanan dengan dan tanpa lalat. Atau, bikin saja makanan dengan bahan pokok lalat …. sambel goreng lalat?

Join the Conversation

18 Comments

  1. lebih asyik lagi jualan penganan yang ada kurungan manuk.. nuwun sewu ya pakdhe mbilung jikalau panjenengan pecinta dan pehobi manuk memanuk..
    saya pernah tau dan jajan disitu, asyiknya kayak manuk cucak ijo (kalo nggak salah) lagi sesiram nyegerke swiwi.. bajirutnya cipratan banyu kolam renang dan ampas kolam renangnya (nggak tau apa, tapi berbentuk seperti kelenjar ireng kecil koyo ampas godhokan ayam ato kulit gajih iwak bandeng)hinggap di wedang kopi teman saya (dan pastinya langsung ajer dan nyampur).. saya ngak enak kalo ngasih tau teman itu, soalnya dia lagi lahap lahapnya makan sambil nggedabrus.. daripada kehilangan selera.. jadi dengan sangat terpaksa saya biarkan saja beliau ini menyruputnya..

  2. nah kalo yang pakai air diplastikin sepertinya mujarab tuh. Lalat ada banyak macemnya. Ada lalat bangkai dan lalat buah. Di tempatnya den Mbilung lalatnya jenis apa?

    Eh anu sekalian titip bahan ndobosan ya: “Untuk apa bernegara?”

    (wheleh kok tahu aku anjing?)

  3. mas mbilung, emping lalat mungkin enak juga tuh, bisa mahal harganya. Apa jepang mau impor dari indonesia ?

  4. UWEEEK…koq do pngen to ya?alasannya pa?wong nagkep ja setahun g mesti dapet 3 koq mau mask segala…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *