Perjanjian Tordesillas

Kawan Didi meminta saya untuk ndongeng lagi. Kalau diingat-ingat ya sudah lama juga saya ndak ndongeng. Lha kok mintanya soal Perjanjian Tordesillas, ini bukan ndongeng namanya, ndobos pol kalau sudah urusan begini. Saya sebetulnya sudah pernah ndobos sedikit soal Perjanjian Tordesillas di rumah saya yang lama dulu, ya waktu ndobos soal bumbu-bumbu itu di sini. Masih inget toh ndobos berseri yang bikin saya mengkis-mengkis itu? Tak mengapalah, karena sejarah toh memang semestinya diulang-ulang kisahnya agar tak terulang kejadian buruknya. Jasmerah, begitu kata seorang pemimpin dulu.

Singkatnya Perjanjian Tordesillas adalah perjanjian yang dibuat antara Portugal dan Spanyol pada tahun 1494 di sebuah kota di Spanyol yang bernama Tordesillas. Perjanjian tersebut dibuat untuk menengahi konflik yang terjadi antara kedua negara setelah Paus Alexander VI, yang kelahiran Spanyol, membuat sebuah garis demarkasi untuk bagi-bagi wilayah pada tahun 1493.

Lha ini semua gara-garanya dimulai oleh “penemuan” Benua Amerika oleh Columbus pada tahun 1492. Columbus yang kembali pada tahun 1493 lantas mendatangi Paus Alexander VI yang pada masa itu bertindak sebagai wasit dalam segala hal di Eropa. Paus Alexander lantas mengeluarkan keputusan bahwa semua tanah-tanah baru yang ditemukan di sebelah Barat garis bujur yang terletak sekitar 300 mil laut dari kepulauan Cape Verde merupakan hak Spanyol, sedang di Timur garis itu menjadi milik Portugal.

Raja Portugal yang ndak puas dengan keputusan itu lantas mengajak Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol untuk rundingan agar garis bujurnya tadi bisa digeser sedikitlah, biar Portugal juga bisa dapat lahan di benua baru tersebut. Akhir dari runding-runding itulah yang menghasilkan Perjanjian Tordesillas yang menggeser garis tersebut lebih ke arah Barat. Sehingga Portugal bisa mendapatkan hak atas wilayah di sebelah Timur benua baru tersebut yang sekarang merupakan wilayah negara Brazil. Ini juga bisa dipakai untuk menjelaskan mengapa di Amreka Selatan hanya Brazil yang menggunakan Bahasa Portugis sedang lainnya memakai Bahasa Spanyol. Vatikan sendiri, melalui Paus Julius II, baru mengakui perjanjian tersebut pada tahun 1506.

Jika saja bumi itu rata ndak berbentuk bola, masalahnya bisa selesai sampai di situ. Hanya saja bundernya bumi dan adanya keinginan untuk menguasai sumber rempah-rempah di Maluku bikin runyam cerita selanjutnya. Kapal-kapal Portugis akhirnya bisa sampai duluan di Maluku pada tahun 1512 di bawah pimpinan Antonio d’Abreu. Akan tetapi kemudian Ferdinan Magellan yang sebenarnya orang Portugis tetapi membelot ke Spanyol berhasil mencapai Philippina pada tahun 1521 dengan kapal-kapal berbendera Spanyol. Magellan juga mengatakan bahwa Maluku yang merupakan sumber rempah-rempah itu ada di bagian wilayah miliknya Spanyol. Nah lo, gara-gara baru ini.

Akhirnya setelah eker-ekeran ndak karu-karuan sebuah perjanjian baru dibuat, Perjanjian Zaragoza yang ditanda tangani pada tahun 1529. Intinya pada perjanjian ini bumi dibagi dua dengan garis pembagi menggunakan bujur dari Perjanjian Tordesillas yang diputer kumplit mengelilingi bumi. Berdasarkan perjanjian ini Maluku dan tanah-tanah lain di sebelah Barat Samudra Pasifik dimiliki oleh Spanyol akan tetapi Spanyol mau melepas klaim atas Maluku dan memberikannya kepada Portugal dengan bayaran 350.000 dukat emas.

Garis batas bagi-bagi bumi ini dalam kenyataannya tidak ditaati secara apa adanya. Spanyol masih mengangkangi Philippina, toh Portugal juga ndak berkeberatan karena ndak ada rempah-rempah di Philippina.

Acara bagi-bagi bumi jaman dahulu ini pengaruhnya masih tersisa hingga kini. Lihat saja kebudayaan di Amerika Selatan dan Philippina yang terpengaruh Spanyol, sementara Portugal meninggalkan pengaruh di Brazil, beberapa negara Afrika, Timor Leste dan Maluku.

Lha kok enak bumi dibagi-bagi buat dua negara itu saja? Pada jaman itu dua negara itulah yang boleh berjuluk super power dunia. Itu yang namanya penghuni asli cuma boleh nurut, kalau ndak ya dibedil. Inca, Aztec dan Maya di Amerika Tengah dan Selatan luluh lantak karena mesiu dan penyakit seperti sipilis dan cacar yang dibawa oleh orang-orang Spanyol. Sementara wilayah yang dikangkangi Portugis didera kemiskinan hebat.

Sekarangpun walau lebih samar bentuknya, pembagian dunia masih berlangsung dengan dahsyat. Hanya saja, kalau dulu para super power itu mencari restu dan dukungan dari kalangan agama, para super power masa kini mencari dukungan dari para pedagang.

Gambar diambil dari sini

Join the Conversation

13 Comments

  1. kayaknya mas Mbilung dah pernah dongeng ini panjang lebar sampe berapa ndobosan soal ini ya? Waktu ndobos Bumbu dapur itu loh…

  2. Weee….sori, ndak baca bener2 paragraf atasnya.. cuma liat judul ama buntut..hehe…Emang sdh di ndobosin ya Mas?

    baca preambule ngapah….adik macam apah?

  3. wah top ini.
    sekedar info, pakde. yang bumbu dapur 5 serial itu saya cetak dan tak kasihkan ke adik saya yang jadi guru dikampung sana. dipake buat bahan ngajar lho…

    Mas….mbok generasi muda harapan bangsa jangan dirusak to ya…

  4. baru mo protes dah pernah diposting…hihihi…hampir dikatain aco macam apa :p

    tempe? baru aja makan, ditawari lagi 😛 trus gw ditinggal rame2…pada marah ya? sumpah, dah sembuh…pake pempers kok!

    teliti sebelum njeplak … berguna kan? 😀

  5. saya sambung dhe…
    si Ferdinand Magellan diuber uber sama tentara portugis kemudian lari ke tanah Djawi, setelah berlabuh didaerah pinggir pantai, diperbukitan (sekarang bergota semarang) lalu misuh gara gara wetenge luwe gak ada warung karena sejatinya situ adalah kuburan, adanya wong dodol kembang sama maesan, “asem arang warung tenan iki.. as*..!” (asem, jarang warung beneran ini.. anj*ng.-red) makanya namanya kawasan itu jadi semarang.. trus beliau berjalan ke selatan dan sampai di perbukitan Menoreh, ngobrol lama kemudian mengukuhkan diri sebagai raja di kawasan itu dan dinamai magellans resideent.. namun sayangnya Ian Kasela belum lahir jaman itu, jadi harapan Ferdinand Magellan tidak pernah tersampaikan dan menjadi harapan yang tak kunjung datang.. perkembangan jaman dan lidah orang pribumi kemudian namanya membumi menjadi Magelang, kota harapan..

    lhaaa …. Ian Kasela ki sopo toh Mas Endi?

  6. Betul itu saudara Kawula Alit….

    Biarlah mereka membagi bumi, nanti kita akan membagi angkasa…

    semua galaxy yang ada pada jarak 1000000000000000 tahun cahaya dari bumi milik INDONESIA

    njur nggo opo? ngurusi yang sekarang aja klimpungan kok

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *