Mentok rimba

Seribu Intan nomer 10

Burung satu ini adalah mentok paling langka di dunia, masih berkerabat dekat dengan jenis mentok yang sering dipelihara orang, hanya saja jenis ini tidak memiliki tonjolan kulit berwarna merah pada daerah sekitar matanya. Hidupnya di hutan dan jika sedang terbang warna bulu sayapnya yang putih akan terlihat jelas yang lantas menjadi nama burung ini dalam Bahasa Inggris, White-winged Duck. Dalam Bahasa Indonesia mentok ini dinamai Mentok rimba sesuai dengan tempat hidupnya, sedangkan di dunia ilmiah dia dikenal dengan nama Cairina scutulata. Inilah salah satu burung favorit saya, dan karena burung ini pula saya menggunakan lebih dari dua tahun umur saya untuk hidup di dalam hutan.

Sama halnya dengan mentok peliharaan, burung ini berukuran tubuh lumayan besar. Hanya saja berbeda dengan mentok peliharaan, Mentok rimba adalah penerbang yang tangguh. Sarangnya untuk bertelur saja ada di lubang-lubang pohon besar yang tinggi. Anaknya yang baru menetas langsung loncat ke luar lubang sarang dan menjadi penerjun bebas. Menghantam tanah atau air yang ada belasan meter di bawah lubang sarang, tanpa cedera. Induknya akan mengikuti keluar dari lubang dan akan menemani anaknya yang tak bisa terbang itu untuk menjalani hidup penuh bahaya di lantai hutan atau di sungai-sungai, hingga anaknya mampu terbang.

Burung ini hanya ada di Asia, di negara Indonesia, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Bangladesh dan India. Dahulunya burung ini juga terdapat di Malaysia, tetapi tampaknya sudah punah dari negara itu. Di Indonesia burung ini hanya ada di Pulau Sumatera, walaupun dahulu diketahui pernah ada di Pulau Jawa. Catatan lama untuk Pulau Jawa menuturkan burung ini pernah hidup di Jawa Barat dan Jawa Tengah (Kebumen). Catatan terakhir burung ini di Pulau Jawa adalah dari Ujung Kulon pada tahun 1932. Selain itu ada beberapa laporan yang mengatakan keberadaan burung ini di Pulau Siberut, hanya saja laporan tersebut belum pernah dikonfirmasi.

Lha wong namanya mentok ya tentu saja hidupnya dekat-dekat dengan air. Di Sumatera burung ini hidup di hutan-hutan dengan lahan basah (wetlands) seperti hutan-hutan rawa dan hutan di sepanjang aliran sungai. Pembabatan hutan dan pengeringan rawa menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup Mentok rimba. Akan tetapi selama rawa belum kering dan masih ada pohon-pohon besar dengan lubang yang cocok untuk bersarang, masih ada harapan bagi Mentok rimba untuk tetap hidup.

Tempat paling mudah untuk melihat Mentok rimba di Indonesia adalah di Taman Nasional Way Kambas. Taman Nasional ini dulunya adalah wilayah pengusahaan hutan. Hanya saja, tidak semua pohon dibabat habis. Pohon renghas misalnya, adalah pohon yang termasuk diogahi oleh penebang kayu. Kayunya tenggelam di sungai, sehingga sulit dibawa ke pengilangan kayu, selain itu getah pohonnya bisa membuat kulit melepuh hebat. Selamatlah pohon renghas dari hajaran gergaji kayu. Di Way Kambas, di pohon-pohon inilah Mentok rimba membuat sarang. Hanya saja, walaupun praktis aman dari gergaji, pohon ini tidak aman dari api. Kebakaran hutan bisa memangsa pohon yang penting bagi kehidupan Mentok rimba.

Kalaupun pohon bersarangnya aman, Mentok rimba masih perlu rawa. Pengeringan rawa untuk dijadikan perkebunan atau pemukiman masih mengancam kelangsungan hidup burung ini. Akibat ancaman yang masih ada dan karena jumlahnya juga tak banyak, hanya sekitar 800-an ekor, burung inipun lantas masuk ke dalam daftar hewan yang terancam punah dengan status Genting (Endangered). Ancaman hidupnya tidak hanya datang dari manusia, alam juga menyediakan musuh alami bagi burung ini. Seekor Mentok rimba yang dipasangi radio transmiter di Way Kambas, pada saat sedang dilacak balik, sinyalnya tak bergerak. Radionya masih mengirimkan sinyal. Sinyal itu dipancarkan dari dalam perut seekor ular piton. Dasar ular, makan mentok kok ya radionya dimakan sekalian, apa ndak seret itu.

Sampeyan ingin melihat Mentok rimba? Way Kambas tidak hanya punya gajah, tempat ini juga merupakan rumah bagi mentok paling langka di dunia.

Foto © Pete Morris (Birdquest) diambil dari sini.

Join the Conversation

14 Comments

  1. mentog.. mentog.. tak kandani..
    mung rupamu.. angisin ngisini..
    mbok yo podo ngetok.. nggo sarapan wae..
    wareg wareg ngorok.. ora nyambut gawe..

    lagunr si ulo koyo ngono yo dhe..??

    lha mbuh, ndak pernah nyanyi di depan ulo saya

  2. Mentok, bahasa Indonesianya apa ya? Tulisan ini bagus. Gaya dan temanya ilmiah, tapi campur-campur bahasa ala Ndobos Pol. Hahaha.

    Bahasa Indonesianya Mentok …. hmmmm sudah ndak bisa terus lagi, misalnya; karirnya sudah mentok

  3. Jadi inget, mas Mbilung… dulu tim yang ‘nguber’2 mentok satu ini suka namain “Neng Ina” ya? Aku bruntung sudah pernah liat mentok ini terbang deket banget, kan dulu pernah ikutan seminggu di utan, ikut nginceng nunggu si “Neng Ina” ini lewat. Kapan lagi ya, bisa bgitu…

    kapan maunya?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *