Pulang
Seorang kawan di Tokyo, sebut saja namanya Ninien, mengirimi saya tulisannya. Falcons will always come home, begitu judulnya. Kawan itu menulis bagaimana burung harus bermigrasi, pindah, ke tempat asing yang jauh dari rumah untuk tetap dapat bertahan hidup. Nyaman sekali tempat barunya itu, ada makanan berlimpah dan udara bersahabat. Lantas dia menganalogikan peristiwa tersebut dengan fenomena brain drain yang banyak terjadi.
“A developing country’s most precious brain or asset drained into a well developed country who gained the brain by providing welfare and prosperity” begitu kawan itu menulis. Begitulah memang adanya, paling tidak di tataran permukaan. Mencari penghidupan yang lebih baik adalah jawaban yang tampaknya paling sering terlontar jika ditanya kenapa kerja di luar negri. Tengok saja tulisan-tulisan di sini.
Fenomena buruh migran begini terasa hebat di negara-negara yang dikatakan sudah maju. Tengok saja di negara yang tak jauh dari Indonesia seperti di Singapura. Negara-negara kaya di Timur Tengah juga seperti lampu mengundang laron. Perancis dijejali buruh migran. Inggris, Jepang, Amerika, idem ditto. Lantas ada apa dengan tenaga kerja lokal? Mengapa pula negara seperti Mexico dan Philippina bisa mengirim begitu besar tenaga kerja ke luar negaranya?
Ah itu kan hanya tenaga kasar yang disedot? Yang tampak adalah demikian, tetapi seperti juga gunung es justru bagian pentingnyalah yang tersembunyi, bagian yang bisa menenggelamkan kapal besar. Pernah dalam sebuah acara kuis di Indonesia dihadirkan seorang muda berpenampilan malu-malu. Peserta kuis diminta menebak apa pekerjaan orang tersebut. Hingga waktu permainan berakhir, pekerjaan orang tersebut tak tertebak. Dia ahli membuat satelit dan bekerja pada sebuah korporasi besar di negara asing.
Pernah pula ada diberitakan tentang seorang yang lagi-lagi muda, terpaksa hengkang dari Indonesia. “Jadi pengangguran saya di sini”, begitu katanya. Dia seorang yang piawai di bidang fisika. Cerita begitu bukan hanya sekali saya dengar, ada yang juga yang jagoan matematika dan kimia. Tak hanya soal uang yang dipermasalahkan walaupun harus diakui pendapatan mereka di Indonesia, kalaupun akhirnya mereka bisa mendapatkan kerja sesuai bidangnya, bisa bikin rekannya di luar negri terperangah.
Lantas jika ditanya soal pulang ke Indonesia bagaimana? Ada pancaran kilat di mata mereka, hanya sekejap, sebuah keinginan besar yang tertahan. Pulang menjadi cita-cita bagi banyak buruh migran. Kawan saya itu menutup tulisannya dengan kalimat “Migrate to survive if you must, but falcons will always fly home”.
Terima kasih buat tulisanya Nin, kapan ngeblog?
9 orang ikut ndobos
17 December 2006 03:37:08
bibi SP
Ada juga yg ingin pulang mas, tapi udah terlanjur ganti paspor… jadi susah katanya. Kenapa ganti paspor? Karena jabatan2 yang dianggap tinggi seperti direktur, profesor, dll biasanya di prioritaskan untuk pemegang paspor lokal (kasus Jerman).
Lah karena saya cuma buruh harian dan tentu saja masih pegang paspor ijo, ya mau pulang juga ikut2 para falcon itu. Ayo pulang, “gaji honorer yg tidak honourable” sudah menunggu….
17 December 2006 03:56:57
Yoki
Welcome home Sir Mbilung, the Falcon from Jap
17 December 2006 11:46:19
dirac
kata orang, Pakdhe, hujan emas di negri orang tidak lebih baik dari hujan batu di negri sendiri. Apapun kenikmatan di negri sebrang, kalo saya koq pingin kembali ya?
*berharap hujan emas di negri sendiri*
17 December 2006 17:38:35
tito
looh..yang komen di sini cuma orang-orang yang hobi minggat?
17 December 2006 19:58:03
bangsari
jadi inget mantan pacar nih.
btw, kapan kodar pakde?
18 December 2006 01:48:05
qq
yupp … selalu pada akhirnya pulang …. tapi masalahnya adalah pulang kemana ya Pakde? Suka bingung jawabnya hehehehe
18 December 2006 12:34:25
bu guru
walah pakdhe baru saja saya mau migrasi eh lah kok ada tulisan ini, tp nek ga migrasi aku jd pengangguran je pakdhe, piye jal?
18 December 2006 12:57:27
venus
sebaiknya memang njenengan pulang, kecuali masih pengen nambah beberapa digit lagi rekening di bank
18 December 2006 17:54:08
jt
Mangan ora mangan kumpul Pakdhe… (whalah opor)