1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Hujaaaaaaan …

Saya sering mendendangkan lagunya A. Rafiq, Jangan Samakan, paling tidak di dalam hati jika sedang mengemudi. Hanya liriknya saya ganti sedikit menjadi “jalannya berlubang, ikal dan bergelombang”, sementara tangan sibuk memutar-mutar setir seperti sedang mengikuti slalom test. Jalan berlubang dan keriting bisa disebabkan oleh banyak hal, tak mampu menanggung beban kendaraan yang melaluinya adalah salah satu sebab jalan menjadi keriting. Sementara direndam air bisa menjadi sebab jalan berlubang.

Soal kelebihan beban, mungkin saja kendaraan yang melaluinya memang terlalu berat atau jalannya dibuat tak sesuai dengan rancangan awal. Urusannya menjadi panjang kalau lantas pertanyaannya kenapa ada kendaraan dengan beban berlebih bisa melalui jalan itu. Sama pula panjang perkaranya jika lantas pertanyaannya adalah kenapa jalannya dibuat tidak sesuai rancangan awal. Ada banyak duga menduga di sini.

Soal jalan berlubang karena terendam air juga bisa bikin kepala bergeleng-geleng padahal tidak sedang pegal-pegal. Air hujan kok bisa-bisanya menggenangi jalanan, apa ndak ada saluran airnya di pinggir jalan. Mungkin saja ada, hanya saja airnya tak bisa masuk ke dalam saluran itu. Banyak pula penyebabnya. Mungkin karena saluran masuknya air tersumbat oleh ranting dan dedaunan dari pohon peneduh. Bisa pula karena saluran airnya mampet oleh sampah, karena toh ada saluran air yang berubah fungsi menjadi tempat membuang sampah. Atau yang aneh tapi nyata, saluran airnya ternyata dibuat lebih tinggi dari permukaan jalan. Mungkin yang membuat jalan berpikir, air itu bisa manjat. Apapun penyebabnya, akibatnya sama saja, jalan berubah menjadi sungai dikala hujan mengguyur.

Hujan sudah berhenti, genangan air masih ada di sana-sini. Pejalan kaki lantas harus extra waspada jika berjalan di dekat genangan itu, karena pengemudi tanpa empati tak mengurangi laju kendaraan, lantas pejalan kaki dipaksa mandi cipratan. Sumpah serapah lantas lancar terlontar dari pejalan kaki kepada pengemudi tuna perasaan itu. Jika genangan itu ternyata menyamarkan lubang menganga, maka sumpah serapah pengemudilah yang terlontar, hanya saja tak jelas ditujukan pada siapa.

Pada beberapa tempat yang sering saya lewati di Bogor, perubahan kondisi jalan dari mulus menjadi tergerus berlangsung tidak lama. Jika sudah menjadi parah sehingga banyak orang marah, pemulusan kembali jalan tersebut lantas dilakukan. Begitulah siklus pembangunan berjalan terus dalam frekuensi tinggi. Pembangunan yang berkelanjutan.

Musim hujan sudah datang, pesan lawas berkata sedia perahu sebelum hujan.

5 orang ikut ndobos

1

18 December 2006 15:15:33

dewi

sedia payung sebelum hujan? nah, gimana klo ternyata hujan tak hanya lewat atas? seperti genangan2 air itu pak.. apalagi yg perlu disiapkan klo gitu? spatu boots? rakit? :D

seperti saya bilang, sedia perahu sebelum hujan :D

2

18 December 2006 15:46:28

Blanthik Ayu

kemaren pulang pas deket rumah hujan dueres plus angin dan beberapa pohon tergeletak tak berdaya..dahsyat!! saphira baru lewat kali ya:D

emang putu anget kui enak pas udan-udan :D

putune sopo mbak? brondong tah?

3

18 December 2006 16:06:35

reza

Saya jadi inget artikel di “kompas” yg isinya perbaikan jalan oleh pemda perlu biaya Rp 600 juta tapi cuman tahan 2 bulan, sedangkan dengan swadaya warga harganya tjuman setengahnya dan sampai sekarang udah tahan 3 tahun!!! (tanya kenapa…).

waaaah masyarakat ini gimana toh, kok tidak mendukung program pembangunan yang berkelanjutan

4

19 December 2006 10:20:15

bangsari

untung aku seneng banjir-banjiran. murah meriah pakde… :D

angkut-angkut, resik-resik. kesel, pijetan … larang kui

5

21 December 2006 10:07:49

De'Tiz

Akhirnya di ndobosin juga nih, soal banjir di jalan. Telat bacanya…

semua ada waktunya  :D

Ikutan Ndobos

|