1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Mandar gendang

Seribu Intan nomer 12

Burung satu ini di dunia hanya hidup di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Berwarna gelap, dengan paruh panjang berwarna merah, dan kaki-kaki yang juga panjang dan cocok untuk hidup di daerah berawa-rawa. Hanya saja, burung satu ini pemalunya minta ampun, susah sekali dilihat apalagi difoto. Hingga sekarang belum pernah ada foto burung yang satu ini. Sangking susahnya dilihat burung ini dalam Bahasa Inggris lantas dinamai Invisible Rail (Habroptila wallacii).

Kata gendang untuk nama burung ini dalam Bahasa Indonesia berasal dari suara seperti gendang yang dihasilkan oleh burung ini. Bukan suara aslinya, menurut yang sudah pernah lihat, itu suara yang dihasilkan oleh batang sagu yang sedang disepaki oleh burung ini.

Ya, burung satu ini hidup di rawa-rawa terutama rawa-rawa sagu di Pulau Halmahera. Hanya ada 6 lokasi yang diketahui di mana burung ini hidup. Tiga lokasi diantaranya merupakan lokasi dari catatan yang sudah sanat tua. Tiga lokasi tersebut adalah Fanaha, Weda dan Gani yang terletak di “kaki” Pulau Halmahera. Tiga lokasi yang saat ini diketahui masih menjadi tempat hidup Mandar gendang saat ini adalah di rawa-rawa Sondo, Pasir Putih dan Tewe. Sementara itu ada laporan yang belum dikonfirmasi akan keberadaan burung ini di Kao, Lalobata dan Ako Jilolo. Tempat lain yang tampaknya juga menjadi tempat hidup burung ini adalah rawa-rawa di Sidangoli, Buli dan Dodaga.

Sebagai penghuni rawa sagu, burung ini memakan bagian akar tanaman sagu dan serangga air. Pernah pula ada laporan burung ini sedang mematuki batang sagu yang sudah dibelah, mungkin sedang memakan sagu atau sedang mencari ulat sagu.

Mandar gendang hidup berpasangan dan jumlah anaknya sekali menetas mungkin 4 sampai 5 ekor. Hanya saja hal inipun belum pasti. penduduk setempat yakin pada saat musim kering, burung ini keluar dari rawa-rawa sagu.

Tidak banyak yang telah diketahui tentang burung yang pemalunya amit-amit ini. Sementara rawa-rawa sagu di Halmahera terus menyusut. Entah itu karena dikeringkan atau untuk diubah menjadi sawah dan tambak. Keadaan ini menyebabkan Mandar gendang dimasukkan sebagai hewan yang secara global terancam punah dengan status Rentan (Vulnerable).

5 orang ikut ndobos

1

29 December 2006 10:45:36

bebek

pakde/paklik/kang/om… mbok sekali-sekali kiy ojo manuk wae sing diposting… aku request posting masalah kewan dari spesies bebek sing paling langka… terima request-an posting kan? :D

2

29 December 2006 11:00:42

kawula alit

manuk’e akdos menapa ta pakdhe? kok pemalu kuwi lho..

kula ngertose manuk sing pemalu menika manuk sing niku..
mben dino sobo nanging mumpet wae.. koyo wedi ditladung manuk liyane, menapa malah isin amargi bentuke bedo ora umume manuk liyane..? mung canggihe pol.. wonten pandangan sing ‘apik tur semlohai’ manuk niku ugi saged ngertos..

sampun nate diulas manuk canggih sing niku dhe..?

3

29 December 2006 13:41:47

Anang

pakdhe ki hobi manuk ket biyen kae posting manuk terus hehehe.. manuke diposting yuuu

4

29 December 2006 14:03:04

yati

Hanya saja, burung satu ini pemalunya minta ampun, susah sekali dilihat apalagi difoto. Hingga sekarang belum pernah ada foto burung yang satu ini.>>> lha kok tau ada burung kek gini? ini burung apa gw sih? hahaha…invisible girl, ga mau difoto :p
mas, kalo burung Enggang (burung khasnya org2 dayak, bener ya namanya Enggang?) kapan diceritain?

buset, dapet nangka

5

22 April 2007 20:22:54

roelus hartawan

udah banyak tuh yang ke halmahera dengan obsesi dapetin fotonya tapi gak dapet. Trus mereka memberi julukan baru: impossible rail!

Ikutan Ndobos

|