Pembayun
Sekar Pembayun tak lelap tidur. Bukan karena jabang bayi yang ada di dalam rahimnya. Sebentar lagi pagi, sebentar lagi dia akan mengiringi suaminya, Ki Ageng Mangir, menemui Panembahan Senopati, ayah Pembayun. Menuntun suaminya dengan selendang ledheknya itu menuju kematian. Seperti kehendak ayahnya, sang penguasa Mataram.
Kekuasaan tidak mengenal cinta, kekuasaan hanya mencintai dirinya sendiri. Ki Ageng Mangir harus dihukum karena menolak mengakui kekuasaan Panembahan Senopati. Untuk itu, dia harus mati. Hanya kecantikan wajah dan gerak Pembayun yang mampu membawa Ki Ageng Mangir ke hadapannya, begitu pikir Panembahan Senopati. Pembayun anak perempuannya itu, harus memikul tugas ini.
Pembayun masih ingat hari-hari pertamanya menjadi ledhek, penari jalanan. Melenggok riang dikerumuni orang ramai di pasar. Ibu-ibu yang menggendong bayi, memintanya untuk mengoleskan ludahnya ke jidat bayi yang digendongnya. Sedikit saja, hanya untuk tolak bala. Pembayun berharap suatu hari nanti dia bisa menari di depan Ki Ageng Mangir, sang pemberontak itu. Ini tugas dari ayahnya, dari seorang raja.
Ki Ageng Mangir terpesona menatap wajah dan liuk Pembayun. Ini kali pertama Pembayun menari di depan lelaki musuh ayahnya itu. Ki Ageng Mangir meminta ledhek itu menjadi istrinya, Pembayun tidak menolak, dia juga menyenangi lelaki itu. Mereka saling jatuh cinta, menikah, Pembayun hamil, dan sekarang waktunya untuk membawa pemberontak ini ke hadapan penguasa Mataram.
Ki Ageng Mangir mati. Dibunuh oleh mertuanya sendiri, musuhnya itu, penguasa Mataram. Pembayun tidak menangis, tugasnya selesai. Pembayun lalu menangis, suaminya mati. Pembayun berduka, anak di kandungan tidak lagi punya ayah.
Pembayun menarik nafas panjang, bayangan itu terlalu mengerikan buatnya. Hari sudah pagi, kebimbangan Pembayun terkikis sirna. Pembayun sudah memilih. Menguatkan hati Pembayun berkata “Mari kakang, kita berangkat menemui ayahanda”.
12 orang ikut ndobos
22 January 2007 11:47:41
nananias
… dan kebanyakan (manusia) akan memberikan penghakiman berdasarkan satu sisi saja
22 January 2007 12:04:02
gatot burisrowo
keren…more…more..more
22 January 2007 13:17:54
ronggeng
Ah, jadi inget Ronggeng Dukuh Paruk nih..
22 January 2007 13:45:05
pitik
pada akhirnya sebuah pilihanlah yang menentukan nasib, bukan sebaliknya…
22 January 2007 14:39:06
kawula alit
panembahan senopati matine kelep neng rembang.. sekar pembayun nangis ora dhe..?
22 January 2007 17:36:25
pinkina
seperti nama anaknya temen saya di sini http://pambayuns-father.blogspot.com/
22 January 2007 19:29:29
bangsari
weks. sampeyan mau menumbalkan siapa pakde?
23 January 2007 11:42:06
mariskova
Pilih bapak atawa suami?
Kalo pilih pacar baru boleh gak je?
23 January 2007 16:05:55
Herman Saksono
Menarik penyajiannya maju mundur. Ada flashback.
Ini sindiran atau apa pakde?
23 January 2007 18:43:10
Herman Saksono
Lha ndak tau saya
26 January 2007 08:35:09
jeng endang
mbawa suami menghadap kematian, pake iringan tembang dandhang gulo tlutur….waduuuh, kangen aku sama panggungku…
26 October 2008 00:04:21
R.Darmawan
top..sejarah yg tak akan lekang karena masa. mungkin ada yang lain cerita dari leluhur maupun cucu ato cicit, Panembahan Senopati?
aku tunggu