1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Pembayun

Sekar Pembayun tak lelap tidur. Bukan karena jabang bayi yang ada di dalam rahimnya. Sebentar lagi pagi, sebentar lagi dia akan mengiringi suaminya, Ki Ageng Mangir, menemui Panembahan Senopati, ayah Pembayun. Menuntun suaminya dengan selendang ledheknya itu menuju kematian. Seperti kehendak ayahnya, sang penguasa Mataram.

Kekuasaan tidak mengenal cinta, kekuasaan hanya mencintai dirinya sendiri. Ki Ageng Mangir harus dihukum karena menolak mengakui kekuasaan Panembahan Senopati. Untuk itu, dia harus mati. Hanya kecantikan wajah dan gerak Pembayun yang mampu membawa Ki Ageng Mangir ke hadapannya, begitu pikir Panembahan Senopati. Pembayun anak perempuannya itu, harus memikul tugas ini.

Pembayun masih ingat hari-hari pertamanya menjadi ledhek, penari jalanan. Melenggok riang dikerumuni orang ramai di pasar. Ibu-ibu yang menggendong bayi, memintanya untuk mengoleskan ludahnya ke jidat bayi yang digendongnya. Sedikit saja, hanya untuk tolak bala. Pembayun berharap suatu hari nanti dia bisa menari di depan Ki Ageng Mangir, sang pemberontak itu. Ini tugas dari ayahnya, dari seorang raja.

Ki Ageng Mangir terpesona menatap wajah dan liuk Pembayun. Ini kali pertama Pembayun menari di depan lelaki musuh ayahnya itu. Ki Ageng Mangir meminta ledhek itu menjadi istrinya, Pembayun tidak menolak, dia juga menyenangi lelaki itu. Mereka saling jatuh cinta, menikah, Pembayun hamil, dan sekarang waktunya untuk membawa pemberontak ini ke hadapan penguasa Mataram.

Ki Ageng Mangir mati. Dibunuh oleh mertuanya sendiri, musuhnya itu, penguasa Mataram. Pembayun tidak menangis, tugasnya selesai. Pembayun lalu menangis, suaminya mati. Pembayun berduka, anak di kandungan tidak lagi punya ayah.

Pembayun menarik nafas panjang, bayangan itu terlalu mengerikan buatnya. Hari sudah pagi, kebimbangan Pembayun terkikis sirna. Pembayun sudah memilih. Menguatkan hati Pembayun berkata “Mari kakang, kita berangkat menemui ayahanda”.

12 orang ikut ndobos

1

Gravatar

22 January 2007 11:47:41

nananias

… dan kebanyakan (manusia) akan memberikan penghakiman berdasarkan satu sisi saja

sisi yang nyaman bagi pemberi

2

Gravatar

22 January 2007 12:04:02

gatot burisrowo

keren…more…more..more

mau acar lagi toh?

3

Gravatar

22 January 2007 13:17:54

ronggeng

Ah, jadi inget Ronggeng Dukuh Paruk nih..

Srintil, penggowok cerdas

4

Gravatar

22 January 2007 13:45:05

pitik

pada akhirnya sebuah pilihanlah yang menentukan nasib, bukan sebaliknya…

nasib adalah konsekuensi dari pilihan … hidup ini ujian, multiple choices

5

Gravatar

22 January 2007 14:39:06

kawula alit

panembahan senopati matine kelep neng rembang.. sekar pembayun nangis ora dhe..?

waaa mbuh … waktu itu saya sudah putus sama dia

6

Gravatar

22 January 2007 17:36:25

pinkina

seperti nama anaknya temen saya di sini http://pambayuns-father.blogspot.com/

Pembayun yang cantik

7

Gravatar

22 January 2007 19:29:29

bangsari

weks. sampeyan mau menumbalkan siapa pakde?

sampeyan bersedia saya jadikan tumbal? tapi bisa njoget kan?  :D

8

Gravatar

23 January 2007 11:42:06

mariskova

Pilih bapak atawa suami?
Kalo pilih pacar baru boleh gak je?

boleh … tapi ada yang harus dienyahkan dahulu   :D

9

Gravatar

23 January 2007 16:05:55

Herman Saksono

Menarik penyajiannya maju mundur. Ada flashback. :) Ini sindiran atau apa pakde?

nyindir siapa mon?  :D

10

Gravatar

23 January 2007 18:43:10

Herman Saksono

Lha ndak tau saya :)

tanya sama pacar sundamu mon ;)

11

Gravatar

26 January 2007 08:35:09

jeng endang

mbawa suami menghadap kematian, pake iringan tembang dandhang gulo tlutur….waduuuh, kangen aku sama panggungku…

ayo mbaaaaak, njoget lagi

12

Gravatar

26 October 2008 00:04:21

R.Darmawan

top..sejarah yg tak akan lekang karena masa. mungkin ada yang lain cerita dari leluhur maupun cucu ato cicit, Panembahan Senopati?
aku tunggu

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya