Malin Anting
Perempuan tua itu duduk tegak, di atas sampan, ada keriangan di wajahnya. Kerut di ujung bibir dan matanya tak bisa disembunyikan oleh bedak kampungnya yang tebal. Kebaya yang dipakainya tak bisa dibilang baru, tapi itulah baju terbaik yang dia miliki. Ada kewangian sederhana yang menguap dari tubuhnya yang telindung payung kertas murah. Tetes keringat mengalir di dahinya, menghapus sedikit bedak. Terik sangat memang hari itu, sudah lama hujan tak turun. Kelesuan alam yang haus, tak kuasa menghapus senyum di wajah perempuan tua itu. Hari ini dia akan menemui anaknya yang telah lama hanya hadir dalam mimpinya. Anak satu-satunya, yang menurut kabar tetangga di dusunnya, telah menjadi saudagar kaya yang bisa membeli dunia. Malin Udang telah berjaya.
Kelapa, jagung, pisang dan tak lupa semangkuk pulut kegemaran anaknya ada dalam gendongannya. Langkahnya mantap, luar biasa untuk orang seumurnya. Payung kertas itu masih memayunginya dan senyum itu masih tak lepas dari bibirnya. Malin Udang, anaknya telah berjaya.
Rumah megah itu berdiri sombong, ada rusa di halaman rumputnya yang berpagar tinggi. Dua orang bertubuh kekar, berdada bidang berwarna coklat berangan, memotong jalannya, menatap perempuan tua itu penuh selidik. Perempuan yang menggendong kelapa, pisang dan semangkuk pulut, berpayung kertas. “Siapa yang kau cari perempuan tua?” geram seorang pria berdada bidang berwarna coklat berangan. “Anakku. Aku datang hendak menemui Malin Udang“. Ada getar ngeri dalam suara lirih perempuan tua itu. Dua orang berdada bidang itu tak bergeming. “Aku mencari Malin Udang. Dia anakku” suara perempuan itu meninggi, ada nada bangga pada ucapnya. Malin Udang telah berjaya.
Lelaki itu bersih parasnya, bertubuh tegap berbalut cita mahal. Bertopi beludru, bersarung sutera. Sebilah keris terselip dipinggangnya, Tegak berdirinya, berkacak pinggang. Tatap matanya tajam, angkuh, tak ada senyum di bibirnya yang sedari tadi mengatup rapat. Kumisnya hitam terpotong rapih, hasil karya tangan ahli. Ada kerutan tak bersahabat pada dahinya. Bibir tipis itu terbuka, “namaku Malin Udang, saudagar di bandar ini. Siapa yang kau cari perempuan tua?” suara yang berwibawa. Malin Udang telah berjaya.
“Anakku Malin, butakah dirimu? Aku ibumu” ada heran dalam suara perempuan tua itu. “Aku Malin Udang, sudah lama tak beribu, siapa engkau perempuan tua?” Ada kemarahan dalam suaranya. “Aku ibumu. Ibu yang melahirkan dan menyusuimu. Menidurkanmu dengan dongengku. Menyuapimu dengan tanganku. Membesarkanmu dengan kasihku. Aku ibumu Malin ….“. “Tahan ucap dustamu hai perempuan tua, ibuku mati ditelan rawa, ayahku mati di ujung pedang perompak lanun, yatim piatu aku semenjak dulu. Aku bukan anakmu, pegilah engkau hai perempuan tua. Ambil uang ini, cari anakmu jika kau mau, aku bukan anakmu, enyahlah engkau dari hadapanku“, menggelegar suaranya. Beberapa keping uang tembaga begemerincing membentur tanah yang kering berdebu. Panas udara, Malin Udang telah berjaya.
Tangan-tangan lelaki berdada bidang itu mencengkram kuat tangan perempuan tua itu. Menyeretnya menjauhi beranda rumah yang angkuh. Uang tembaga itu masih tercecer di tanah, bersama dengan kelapa, jagung, pisang, semangkuk pulut dan payung kertas yang kuncup. Tangan perempuan itu menyentak keras, melepaskan cengkraman lelaki berdada bidang. Berdiri tegak perempuan itu, satu tangannya teracung, mengepal dengan jari telunjuk menunjuk langit yang terang. Perempuan itu berteriak dengan marah yang membutakan matahari, empat kata terucap “anak durhaka … terkutuklah engkau!!!!“. Malin Udang tak bergeming, ada senyum bengis di wajahnya. Malin Udang telah berjaya.
Langit sontak gelap, petir menggelegar, menyambar-nyambar membutakan mata. Burung berjatuhan dari langit hitam, rusa-rusa berlarian. Bumi merekah, bergoyang garang. Secepat datangnya, secepat itu pula perginya, menyisakan serakan bencana di halaman rumah yang angkuh. Malin Udang lenyap dari tempatnya. Sebongkah patung batu tegak di sana. Sebongkah patung batu berlian.
Perempuan tua itu duduk bersandar di kursi megah di beranda, sirih, pinang dan kapur menemaninya. Sepasang giwang berlian menghias cuping telinganya. Tak ada senyum di wajahnya. Matanya tajam menatap patung itu. Patung berlian yang berdiri angkuh di halaman rumah sombong berhalaman rumput. Seekor kambing tua mengencinginya.
Jadiiii … begitu nak.Sudah ya ceritanya. Bapak sudah ngantuk.
Pak … jadi kalau aku durhaka sama ibu, aku nanti bisa dikutuk jadi anting-anting ya pak? he he he … ibu yang pintar.
*cerita berdasarkan kisah Malin Kundang, gambar diambil dari sini.
14 orang ikut ndobos
24 January 2007 01:15:02
Herman Saksono
AKu kok radong ya cerita ini maksudnya apa? Apa yang ini bisa saya tanyakan juga ke pacar sunda saya?
24 January 2007 01:48:54
yati
hehehe…kok bisa ya pake bahasanya melayu banget. emang ghilman ngerti?
24 January 2007 11:23:46
jt
saya ingin mencoba memanfaatkan do’a semacem ini. orang teraniaya doanya didengar. seperti: temen-temen tak tawari untuk saya pukuli nanti mereka mendoakan saya jadi ngganteng ato kaya, tapi sayang ndak ado yang mau.
Nanti kalo Bunda Mbilung mau mengeluarken kutukan, titip doa pakdhe, doaken saya jadi ngganteng ya….
24 January 2007 11:34:41
kawula alit
bar nyritani ghilman trus njenengan ndak njoget tari petromaks dhe..? sing diilhami seko tari lilin..?
24 January 2007 11:43:00
kenny
yen aku simbok’e si udang, tak sawer kuwi berliane
itu gambar wajahnya sir klo kumisan yah?
24 January 2007 13:55:30
evi
terus…..Ibu bilang lagi, ” makanya Nak jangan berani sama Ibu, krn surga juga ada ditelapak kaki Ibu” eh….Bapak nyeletuk, ” tapi kuncinya Bapak yang pegang…” *dasar Bapak nakal*
24 January 2007 13:58:44
yu gembik
wah dongenge iki iso dpertanggung jawabkan ndak pakdhe???
24 January 2007 14:06:28
sing nunggu oleh-oleh
“Pak … jadi kalau aku durhaka sama ibu, aku nanti bisa dikutuk jadi anting-anting ya pak? he he he … ibu yang pintar.”
Bapak : Ya begitulah Nak..Ibumu memang pintar…Pintar menemukan suami kayak bapakmu ini…
*ndak nyambung toh yo*
24 January 2007 14:40:09
trie
zzz..zzz…., lho bun trus gimana ? ohh..ehh..oo… “uthek-uthek ugel jalan lagi, ketemu pak paijo ditanya, hey..uthek-uthek ugel, nangndi gel ?”….zz..zz..zz
itu kalo yg dongeng saya sir, berharap anak tidur malah selalu ketiduran sendiri, sementara si anak matanya malah byarr..mbuka & tanya2 terus. huhh
cocok keycodenya *ndas gede*, pantes abot maunya direbahkan terus alias molor
24 January 2007 15:05:04
venus
weee…untung bukan dibacain koleksi stensilan
24 January 2007 15:36:05
-tikabanget-
sayah itu kuwatirnya.. emang yang namanya Malin Udang ituh banyak..
Lah kalo salah kutuk kan bahaya..
Anak orang ituh..
24 January 2007 15:37:50
pitik
@venus : sampeyan nduwe po?mbok nyilih…tak nggo ndongengi “adikku”..
24 January 2007 18:23:49
Blanthik Ayu
irung patungne tak tutuk’i thithik yo pakde??? hihihi nggo nggawe cincin
24 January 2007 19:34:04
bangsari
kok jadi matre sampeyan pakde?