1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Sendang Bening

Badannya tegap, tangan berotot keras dengan wajah yang menyiratkan kegagahan. Bersih wajahnya, rambutnya digelung sekadarnya, ada kain gringsing mengikat kepalanya. Celoteh burung dan jeritan kera mengiring langkah kakinya yang kukuh menapak lantai hutan yang basah. Disusurinya pinggiran kali kecil itu. Kali kecil jernih yang bermula dari sebuah sendang bening tersembunyi di tengah hutan. Tarub namanya, dia hendak membasuh diri di sendang bening yang tak pernah kering.

Pintu langit terbuka, ada pelangi menjuntai genit menjamah bumi. Jembatan bagi bidadari yang tak kenal duka. Sebentuk kaki-kaki elok bergegas menuruni titian lembut. Sesekali angin-angin nakal menyibak rendah kain sutera berhias emas, memberi kesempatan pada sang matahari menjamahi betis molek itu dengan sinarnya. Wajahnya yang bersinar, memancarkan kecantikan surgawi. Nawangwulan namanya, dia hendak mengunjungi sendang bening yang tak pernah kering.

Tubuh polos itu basah, berkilau diterpa matahari. Ada pancaran kegagahan dari lekukan otot-ototnya yang keras. gelung terlepas sedari tadi, rambutnya menjuntai hingga ke bahu. Air sendang bening itu menyegarkan raganya yang penat. Kesegaran yang membuatnya betah berlama-lama merendam diri, seperti tak mau berbagi sendang dengan mahluk lainnya. Raga Tarub yang polos menikmati kesendiriannya. Waktu seolah berhenti di sendang bening yang tak pernah kering.

Mata bening yang berkilau berpagar alis yang melengkung sempurna, menatap takjub. Daun-daun pohon berbaik hati memberi celah agar mata itu tak terhalang memandang. Ranting dan daun bersepakat, menyamarkan tubuh semampai elok bahkan dari mata seekor harimau paling ulung sekalipun. Angin berhenti berhembus, agar wewangian tubuhnya tak berserak mengundang curiga. Nawangwulan terpaku, memandangi kepolosan Tarub, dari tepian sendang bening yang tak pernah kering

Ada getar aneh di palung hatinya, getar yang belum pernah dirasakannya. Getar yang mengganggu kesadarannya. Getar yang tak dimengertinya itu, memberi rasa hangat. Kehangatan yang mendebarkan yang ingin terus dimilikinya. Keinginan itu pulalah yang membuatnya tak peduli mana kala sang pelangi memanggilnya untuk pulang. Pelangi beringsut pergi, pintu langit tertutup kembali. Nawangwulan masih terpaku memandangi kepolosan Tarub dari tepian sendang bening yang tak pernah kering.

Tarub menyeka tetes air dari dadanya. Membiarkan matahari menghisap sisanya. Udara hutan memenuhi rongga dadanya. Ada tangan yang terjulur menyentuh pundaknya, dingin. Tarub berbalik cepat. Sosok indah itu berdiri tegak di hadapannya. Tarub kehilangan kata. Tarub paham hutan ini, tak ada danyang yang menghuninya. Tarub kehilangan kata yang lenyap dilibas pesona. Tarub dan Nawangwulan, berdiri mematung di tepi sendang bening yang tak pernah kering.

Rumah itu sederhana saja, beratap jerami dan ijuk aren, berdinding bambu yang bersahaja. Ada cahaya di dalamnya, dari api yang membakar getah damar, bergoyang lembut menerangi dua sosok yang duduk berdampingan. Mereka lewatkan malam dengan canda. Esok Tarub akan ke bandar yang gersang berdebu, meninggalkan Nawangwulan barang sejenak, di rumah bersahaja yang menghadap sendang bening yang tak pernah kering.

*cerita berdasarkan kisah Jaka Tarub, untuk menidurkan adik kecil yang sedang lelah bergerak.

13 orang ikut ndobos

1

Gravatar

24 January 2007 18:20:57

den baguse

waaahhhh……….saruuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

he?

2

Gravatar

24 January 2007 18:26:53

Blanthik Ayu

“berisitirahatlah dengan tenang, dek” sambil menaburi dengan kembang melati huahahahahahahaha

whooooo ndas ku nggak gedhe banget kok :p

mau tidur kok malah disuruh mantenan

3

Gravatar

24 January 2007 18:27:35

den baguse

eh, saru gak to? kok anak kecil dicritain adegan di gubug…sekalian aja gubugnya goyang,bergoyang lembut…hallah

adegan opo? kok goyang, ono lindu?

4

Gravatar

24 January 2007 19:56:19

bangsari

sip ki… gimana kalo joko tarubnya yang diajak ke kahyangan ya?

naik bis atau kereta?

5

Gravatar

24 January 2007 20:20:37

kenny

hayahhh tarub ki njijik’i mosok iler nganti klomoh ning dodo sih :D

seneni wae budhe … mbeling bocah e, ra gelem cukur diseneni guru ne malah ra sekolah, nglangi ben dino

6

Gravatar

24 January 2007 20:48:12

yati

huhuhu….terharu saya….ma kasih ceritanya kk besar…buat adik kecil nan manis ini….ma kasih banget.

Esok Tarub akan ke bandar yang gersang berdebu, meninggalkan Nawangwulan barang sejenak, di rumah bersahaja yang menghadap sendang bening yang tak pernah kering.
[satu pertanyaan aja: tarub bakal pulang ga sih? nawangwulan nunggu… :( ]

yeeeh … terharu … tiduuurrrr!!!!

7

Gravatar

24 January 2007 20:54:41

dewi kunti...L

Wah, aku yo request po’o Pak Dhe. Piye carane iso duwe bojo 5 koyo Drupadi kae…he..he.. Wenak tenaaann..

lho, iki request opo njaluk konsultasi?

8

Gravatar

24 January 2007 21:07:31

-tikabanget-

Jangan jangan ituh Tarub anaknya Nawangwulan???
*moga moga salah… wekekek..*

wadoooh tikaaaaa …. :-$

9

Gravatar

24 January 2007 22:29:21

ndoro kakung

kayaknya mesti ganti nama jadi pendongeng.com …. hihihi

lantas, sampeyan yang ndobos ya ndoro?

10

Gravatar

24 January 2007 23:26:52

bibisp

jadi nawangwulan yang nginjen tarub? … sip…

ndak bermaksud mengingatkan masa lalumu bibi   :D

11

Gravatar

25 January 2007 00:39:16

Herman Saksono

“Mereka lewatkan malam dengan canda.”

Mosok satu malam cuma bercanda sih? Sayang banget. Ceritanya boleh saya kasih treatment nggak? Sapa tau bisa masuk Cosmopolitan Hottest Bedtime Stories gitu?

lakukan mon … posting di blogmu ya

12

Gravatar

25 January 2007 19:19:42

Pailul

Wah neng nggubug ngapain wae tho kok nganti wetenge biru/cyanoventris

mainan pukulan tapak racun kali   :D

13

Gravatar

26 January 2007 01:00:57

Rara

Woww… dongeng yang menggetarkan.. hi,hi,

selamat bergetar

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya