1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Malin Sendang

Bandar itu gersang berdebu, seolah matahari tengah membenci, menjilati bandar dengan lidah apinya. Semua orang berpeluh, menyumpahi panas yang memanggang diri. Serapah yang menguap bersama panas. Pun begitu, ramai bandar disesaki orang. Saudagar dan pengemis berjalan di jalan yang sama, bercampur dengan kereta kuda dan gerobak sapi yang mengangkut barang di tanah yang kering dan berdebu. Anak kecil tak berbaju, berlarian kian kemari, jalanan adalah ajang beradu lari. Ada kapal-kapal besar merapat di tepian sungai, mengangkut kayu, rempah bahkan budak. Kapal-kapal yang datang dari tempat yang jauh, layarnya terlipat rapat, membuang sauh di bandar yang kering berdebu.

Tarub melangkah tegap, suara langkahnya tertutup derap kuda dan teriak masa. Tarub melangkah tegap memikul damar, madu dan sekepal gaharu yang hendak ditukarnya dengan garam dan rempah. Penjaja cermin dan manik-manik menyodorkan dagangannya. Tarub tersenyum, melaluinya. Penjual obat berkalung taring harimau dan cakar beruang, menebar kata manis. Tarub tak suka orang itu, ada kegelapan memayunginya. Pedagang cita menggelar sutra, halus. Tarub berhenti, bayang Nawangwulan melintas sejenak. Pasar yang ramai di bandar yang kering dan berdebu.

Rumah megah itu berdiri sombong, ada rusa di halaman rumputnya yang berpagar tinggi. Ada patung berlian tegak berkilau di halamannya. Seorang perempuan tua duduk bersandar di kursi megah di beranda, sirih, pinang dan kapur menemaninya. Sepasang giwang berlian menghias cuping telinganya. Tak ada senyum di wajahnya. Wajah perempuan itu menyentak Tarub. Wajah yang sama yang melantunkan dongeng, yang menyuapinya, yang menyusuinya. Tarub terkesima, bibirnya bergetar, lututnya goyah. Damar, madu dan gaharu terserak-serak di tanah berdebu. Ada getar ragu di ucapnya “… ibu …???” lirih, tak akan mampu menggetarkan gendang telinga perempuan tua yang duduk bersandar di kursi megah di beranda, di bandar yang kering dan berdebu.

Tarub berdiri di hadapan perempuan tua itu, wajah yang kadang hadir dalam mimpi rindunya. Aroma tubuh yang dia akrabi sejak kecil. Bentuk jemari yang dia rindukan untuk membelai kepalanya. “Siapa engkau anak muda?” perempuan tua itu bergumam heran. “Aku anakmu, Malin“. Ada pandang selidik pada mata perempuan tua, “Malin anakku sudah membatu di halaman sana, kutukku menimpanya, kesaktianku tak lekang karena usia“. Tarub terhenyak, sekarang hanya bertumpu pada dua lututnya “Orang di sini memanggilku Tarub. Kuganti namaku, karena tak elok namaku menyamai nama saudagar kaya di bandar ini“. Ada geletar girang pada perempuan tua, ditemukannya anaknya di bandar yang kering dan berdebu.

Nawangwulan bersimpuh luruh, di bawah tatapan kagum perempuan tua akan kecantikan surgawi. Penyihir sakti kini berputri bidadari. Ditinggalkannya sudah rumah sombong di bandar kering yang berdebu. Bertiga mereka menapaki sisa hidup, di rumah sederhana di tepi sendang bening yang tak pernah kering. Malin Udang telah berjaya.

*bagian akhir dari rangkaian cerita ini dan ini, gambar “Joyful Spirits” oleh Chidi Okoye, diambil dari sini.

16 orang ikut ndobos

1

Gravatar

25 January 2007 00:52:22

bibisp

emak malin kayaknya perlu ganti kacamata… :-) .

tapi pinter masak juga dia  :D

2

Gravatar

25 January 2007 00:56:54

Herman Saksono

Semacam paralel story nih, serasa Babel…

wah … blum nonton mon

3

Gravatar

25 January 2007 02:19:02

Hedi

ooo ini cerbung tho, pantes yang sebelumnya suka bingung….
*bagus…kata pak Tino Sidin :D*

iyo mas, cerbung … cerita gemblung

4

Gravatar

25 January 2007 08:17:06

-tikabanget-

Wakakakakakk…
*ngakak*
Ceritanya jadi ginih..
HUehehhehhee..
Harus makasih sama sayah ini, pakdhe..
*loh?!*

ya deh, terima kasih untuk tika yang sudah membuat cerita ini jadi berbelok entah ke mana

5

Gravatar

25 January 2007 09:16:06

evi

loh….gitu ya cerita akhirnya….?
Pakdhe emang pantes jd saingan HC Anderson hehehe…..

itu kakaknya Pamela Anderson ya?   :D

6

Gravatar

25 January 2007 10:31:41

kenny

wes rampung po sir beres2 e, kog malah ndobos wae
ojo lali bungkuske tv sing tokcer lho.

belum  :D , daripada bingung mbuangi barang ya ndobos wae

7

Gravatar

25 January 2007 11:06:50

guntur

pakdhe, hla njuk yang udah kadung dadi watu gimana nasibnya?

didhol … lumayaaaan nggo urip    :)

8

Gravatar

25 January 2007 11:39:51

Herman Saksono

Tika dihukum aja itu :P

laksanakan mon    :)

9

Gravatar

25 January 2007 13:37:55

tetangga rindu Honjo

‘Glek’

Begitu bunyi perasaan saya kalo jadi Mak Malin. Udah capek2 marah, eh, yang dikutuk orang laen pulak…

ndak bisa ‘Glek’, nanti sirihnya ketelen   :D

10

Gravatar

25 January 2007 15:14:45

yati

huaaaaa…..kok jadi gini ceritanya???? curaaanggg…merusak fantasi
huh, gw bikin versi lain ajah

mau bikin  yang emaknya Malin dikutuk jadi batu sama Nawangwulan, lantas Tarub eh Malin main gila sama Bawang Putih. Nawangwulan ndak terima dia lalu pergi sama Ande-Ande Lumut. mereka lalu punya anak yang hilang waktu masih kecil, lantas Nawangwulan bertemu lagi dengan anaknya setelah anaknya dewasa dan nama anaknya Sangkuriang …. gitu?   :D

11

Gravatar

25 January 2007 23:57:14

venus

ealaaa…tiwas aku nyimak dengan tertib dan duduk manis. wakakaka…

lha pemirsa ndobos memang harus tertib dan manis    :D

12

Gravatar

26 January 2007 01:12:28

Rara

*zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZ* sukses dongengnya.. tidur nyenyakk..

tuek ileran … nggilani

13

Gravatar

26 January 2007 09:14:50

-tikabanget-

“mau bikin yang emaknya Malin dikutuk jadi batu sama Nawangwulan, lantas Tarub eh Malin main gila sama Bawang Putih. Nawangwulan ndak terima dia lalu pergi sama Ande-Ande Lumut. mereka lalu punya anak yang hilang waktu masih kecil, lantas Nawangwulan bertemu lagi dengan anaknya setelah anaknya dewasa dan nama anaknya Sangkuriang …. gitu? ”

weh.. asik ituhh…
hayuukkk… tuliiisss…

lho? kok saya?

14

Gravatar

26 January 2007 11:08:36

trie

komen ah……
jan wis top markotop, sip markesip, jos markojos…
sir… aku request dongeng berlatar belakang mahabharata yo, tapi emoh lek pandawa kalah judi dadu, emoh pandawa sing di buang ke hutan, dan pandawa harus menang semua saat ki kurusetra…
(yoo..bumi gonjang-ganjing langit kelap kelap…oo thok.terothok..thokk)

hayaaah, kalo pesenan gini mbok ya cerita sendiri

15

Gravatar

26 January 2007 17:12:58

Pembaca Yg Manis

plok..plok…[keplok2 ala tukul]
ndongeng lagi Sir…”ngancam.com”

ada honornya?

16

Gravatar

30 January 2007 17:41:45

ngamroe

Mekso banget kik…But apik. Sir Mbilung iso nyastro :D

lha wong nama panjang saya itu Sir Mbilung McNdobos Nyastrowardoyo kok, boleh disingkat Mbilung Sastro :D

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya