Malin Sendang
Bandar itu gersang berdebu, seolah matahari tengah membenci, menjilati bandar dengan lidah apinya. Semua orang berpeluh, menyumpahi panas yang memanggang diri. Serapah yang menguap bersama panas. Pun begitu, ramai bandar disesaki orang. Saudagar dan pengemis berjalan di jalan yang sama, bercampur dengan kereta kuda dan gerobak sapi yang mengangkut barang di tanah yang kering dan berdebu. Anak kecil tak berbaju, berlarian kian kemari, jalanan adalah ajang beradu lari. Ada kapal-kapal besar merapat di tepian sungai, mengangkut kayu, rempah bahkan budak. Kapal-kapal yang datang dari tempat yang jauh, layarnya terlipat rapat, membuang sauh di bandar yang kering berdebu.
Tarub melangkah tegap, suara langkahnya tertutup derap kuda dan teriak masa. Tarub melangkah tegap memikul damar, madu dan sekepal gaharu yang hendak ditukarnya dengan garam dan rempah. Penjaja cermin dan manik-manik menyodorkan dagangannya. Tarub tersenyum, melaluinya. Penjual obat berkalung taring harimau dan cakar beruang, menebar kata manis. Tarub tak suka orang itu, ada kegelapan memayunginya. Pedagang cita menggelar sutra, halus. Tarub berhenti, bayang Nawangwulan melintas sejenak. Pasar yang ramai di bandar yang kering dan berdebu.
Rumah megah itu berdiri sombong, ada rusa di halaman rumputnya yang berpagar tinggi. Ada patung berlian tegak berkilau di halamannya. Seorang perempuan tua duduk bersandar di kursi megah di beranda, sirih, pinang dan kapur menemaninya. Sepasang giwang berlian menghias cuping telinganya. Tak ada senyum di wajahnya. Wajah perempuan itu menyentak Tarub. Wajah yang sama yang melantunkan dongeng, yang menyuapinya, yang menyusuinya. Tarub terkesima, bibirnya bergetar, lututnya goyah. Damar, madu dan gaharu terserak-serak di tanah berdebu. Ada getar ragu di ucapnya “… ibu …???” lirih, tak akan mampu menggetarkan gendang telinga perempuan tua yang duduk bersandar di kursi megah di beranda, di bandar yang kering dan berdebu.
Tarub berdiri di hadapan perempuan tua itu, wajah yang kadang hadir dalam mimpi rindunya. Aroma tubuh yang dia akrabi sejak kecil. Bentuk jemari yang dia rindukan untuk membelai kepalanya. “Siapa engkau anak muda?” perempuan tua itu bergumam heran. “Aku anakmu, Malin“. Ada pandang selidik pada mata perempuan tua, “Malin anakku sudah membatu di halaman sana, kutukku menimpanya, kesaktianku tak lekang karena usia“. Tarub terhenyak, sekarang hanya bertumpu pada dua lututnya “Orang di sini memanggilku Tarub. Kuganti namaku, karena tak elok namaku menyamai nama saudagar kaya di bandar ini“. Ada geletar girang pada perempuan tua, ditemukannya anaknya di bandar yang kering dan berdebu.
Nawangwulan bersimpuh luruh, di bawah tatapan kagum perempuan tua akan kecantikan surgawi. Penyihir sakti kini berputri bidadari. Ditinggalkannya sudah rumah sombong di bandar kering yang berdebu. Bertiga mereka menapaki sisa hidup, di rumah sederhana di tepi sendang bening yang tak pernah kering. Malin Udang telah berjaya.
*bagian akhir dari rangkaian cerita ini dan ini, gambar “Joyful Spirits” oleh Chidi Okoye, diambil dari sini.
16 orang ikut ndobos
25 January 2007 00:52:22
bibisp
emak malin kayaknya perlu ganti kacamata…
.
25 January 2007 00:56:54
Herman Saksono
Semacam paralel story nih, serasa Babel…
25 January 2007 02:19:02
Hedi
ooo ini cerbung tho, pantes yang sebelumnya suka bingung….
*bagus…kata pak Tino Sidin :D*
25 January 2007 08:17:06
-tikabanget-
Wakakakakakk…
*ngakak*
Ceritanya jadi ginih..
HUehehhehhee..
Harus makasih sama sayah ini, pakdhe..
*loh?!*
25 January 2007 09:16:06
evi
loh….gitu ya cerita akhirnya….?
Pakdhe emang pantes jd saingan HC Anderson hehehe…..
25 January 2007 10:31:41
kenny
wes rampung po sir beres2 e, kog malah ndobos wae
ojo lali bungkuske tv sing tokcer lho.
25 January 2007 11:06:50
guntur
pakdhe, hla njuk yang udah kadung dadi watu gimana nasibnya?
25 January 2007 11:39:51
Herman Saksono
Tika dihukum aja itu
25 January 2007 13:37:55
tetangga rindu Honjo
‘Glek’
Begitu bunyi perasaan saya kalo jadi Mak Malin. Udah capek2 marah, eh, yang dikutuk orang laen pulak…
25 January 2007 15:14:45
yati
huaaaaa…..kok jadi gini ceritanya???? curaaanggg…merusak fantasi
huh, gw bikin versi lain ajah
25 January 2007 23:57:14
venus
ealaaa…tiwas aku nyimak dengan tertib dan duduk manis. wakakaka…
26 January 2007 01:12:28
Rara
*zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZ* sukses dongengnya.. tidur nyenyakk..
26 January 2007 09:14:50
-tikabanget-
“mau bikin yang emaknya Malin dikutuk jadi batu sama Nawangwulan, lantas Tarub eh Malin main gila sama Bawang Putih. Nawangwulan ndak terima dia lalu pergi sama Ande-Ande Lumut. mereka lalu punya anak yang hilang waktu masih kecil, lantas Nawangwulan bertemu lagi dengan anaknya setelah anaknya dewasa dan nama anaknya Sangkuriang …. gitu? ”
weh.. asik ituhh…
hayuukkk… tuliiisss…
26 January 2007 11:08:36
trie
komen ah……
jan wis top markotop, sip markesip, jos markojos…
sir… aku request dongeng berlatar belakang mahabharata yo, tapi emoh lek pandawa kalah judi dadu, emoh pandawa sing di buang ke hutan, dan pandawa harus menang semua saat ki kurusetra…
(yoo..bumi gonjang-ganjing langit kelap kelap…oo thok.terothok..thokk)
26 January 2007 17:12:58
Pembaca Yg Manis
plok..plok…[keplok2 ala tukul]
ndongeng lagi Sir…”ngancam.com”
30 January 2007 17:41:45
ngamroe
Mekso banget kik…But apik. Sir Mbilung iso nyastro