1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Sikatan lompobattang

Seribu Intan nomer 16

Pada bulan Agustus 1931, Stresemann dan Heinrich berangkat meninggalkan Malino di Sulawesi Selatan, untuk melakukan eksplorasi ilmiah di sisi Barat Gunung Lompobattang. Ekplorasi yang berakhir pada bulan Oktober pada tahun yang sama itu berhasil mendapatkan 22 ekor burung sikatan berukuran kecil yang awetannya sekarang tersimpan di 5 museum di Eropa. Burung sikatan kecil itu dikenal dengan nama Sikatan lompobattang, atau Lompobattang Flycatcher (Ficedula bonthaina). Hingga saat ini, burung Sikatan lompobattang hanya diketahui hidup di Gunung Lompobattang saja, tidak ada di tempat lain di dunia. Sikatan Lompobatan adalah bintang minggu ini

Untuk burung sikatan, ukuran burung ini ndak umum kecilnya, kurang dari setengah jengkal normal orang dewasa dari ujung kepala hingga ujung ekornya. Sudah badannya kecil, hidupnya juga di bagain bawah hutan yang rapat, susah untuk melihatnya. Tidak heran jika sejak pertama kali burung ini dilihat di Tasoso, lereng Timur-Laut Gunung Lompobattang, pada bulan Oktober 1895, jarang sekali ada yang berhasil melihatnya, hingga Stresmann dan Heinrich berhasil mendapatkan “barang hidupnya” pada tahun 1931.

Setelah explorasi yang dilakukan Stersemann dan Heinrich itu, burung ini seperti hilang. Tidak ada laporan mengenai perjumpaan dengan burung sikatan kecil yang gemar bersembunyi ini. Sikatan lompobattang baru terlihat kembali 64 tahun kemudian pada tahun 1995 di sekitar Lanying pada ketinggian 1.770 m. Sulit mencarinya, begitu catatan yang menggambarkan upaya pencarian burung ini.

Seperti halnya burung sikatan lainnya, burung ini adalah burung yang lihai menangkap serangga di udara. Hanya saja, Sikatan lompobattang tidak melakukannya dari tempat yang tinggi sebagaimana burung sikatan lainnya. Tempat mereka menunggu dan lalu menangkap serangga, tidak jauh dari tanah.

Hilangnya tempat hidup yang cocok untuk burung ini di Gunung Lompobattang menjadikan Sikatan lompobattang lantas dimasukan ke dalam daftar burung yang secara global terancam punah dengan status Genting (Endangered). Menjaga hutan yang tersisa di Gunung Lompobattang tidak hanya menjamin kelestarian burung kecil satu ini, tetapi juga diyakini dapat menjaga daerah tangkapan air bagi kota Makassar. Membabat habis hutan di tempat ini tidak hanya dapat menyebabkan punahnya mahluk kecil satu ini, tetapi juga dapat berujung bencana bagi manusia. Apa bencana yang sekarang bertubi-tubi melanda masih kurang?

Foto © James Eaton/Birdtour Asia, diambil dari sini.

4 orang ikut ndobos

1

26 January 2007 00:48:14

yati

burung yg ini punah, tar lagi manusia sekitar lompobattang juga punah karena banjir…aduh, bapak mama ma sodara2 disuruh ngungsi kemana ya? kalimantan juga udah ancur… :(

lho…kok ngungsi?? ya diperbaiki yang rusaknya

2

26 January 2007 09:12:59

-tikabanget-

duh, kecil banget tuh burung…!!
Pantes ajah susah nemunyaa..!!
Kalopun ketemu, tu burung mesti gampang keinjek deh..
Lha sukanya maen di tanah..
Ntar cacingan loh..
*piye tho maksudku ki..*

pake sandal biar ndak cacingan *nasehat kuno yang ndak nyambung*   :D

3

26 January 2007 21:40:34

tito

burung siapa yang kecil ?

lha coba dilihat dulu burungmu itu

4

27 August 2009 18:13:26

edward

wow burung mu kecil amt hehehehe!

Ikutan Ndobos

|