1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for January, 2007

Malin Sendang

Bandar itu gersang berdebu, seolah matahari tengah membenci, menjilati bandar dengan lidah apinya. Semua orang berpeluh, menyumpahi panas yang memanggang diri. Serapah yang menguap bersama panas. Pun begitu, ramai bandar disesaki orang. Saudagar dan pengemis berjalan di jalan yang sama, bercampur dengan kereta kuda dan gerobak sapi yang mengangkut barang di tanah yang kering dan berdebu. Anak kecil tak berbaju, berlarian kian kemari, jalanan adalah ajang beradu lari. Ada kapal-kapal besar merapat di tepian sungai, mengangkut kayu, rempah bahkan budak. Kapal-kapal yang datang dari tempat yang jauh, layarnya terlipat rapat, membuang sauh di bandar yang kering berdebu.

Continue Reading 16 Comments

Sendang Bening

Badannya tegap, tangan berotot keras dengan wajah yang menyiratkan kegagahan. Bersih wajahnya, rambutnya digelung sekadarnya, ada kain gringsing mengikat kepalanya. Celoteh burung dan jeritan kera mengiring langkah kakinya yang kukuh menapak lantai hutan yang basah. Disusurinya pinggiran kali kecil itu. Kali kecil jernih yang bermula dari sebuah sendang bening tersembunyi di tengah hutan. Tarub namanya, dia hendak membasuh diri di sendang bening yang tak pernah kering.

Continue Reading 13 Comments

Malin Anting

Perempuan tua itu duduk tegak, di atas sampan, ada keriangan di wajahnya. Kerut di ujung bibir dan matanya tak bisa disembunyikan oleh bedak kampungnya yang tebal. Kebaya yang dipakainya tak bisa dibilang baru, tapi itulah baju terbaik yang dia miliki. Ada kewangian sederhana yang menguap dari tubuhnya yang telindung payung kertas murah. Tetes keringat mengalir di dahinya, menghapus sedikit bedak. Terik sangat memang hari itu, sudah lama hujan tak turun. Kelesuan alam yang haus, tak kuasa menghapus senyum di wajah perempuan tua itu. Hari ini dia akan menemui anaknya yang telah lama hanya hadir dalam mimpinya. Anak satu-satunya, yang menurut kabar tetangga di dusunnya, telah menjadi saudagar kaya yang bisa membeli dunia. Malin Udang telah berjaya.

Continue Reading 16 Comments

Hitung Mundur

Layaknya pesawat ruang angkasa yang siap berlepas, hitung mundur untuk saya sudah dimulai. Kalender hingga tanggal 30 Januari sudah penuh ditandai dengan pekerjaan ini itu yang harus selesai. Pekerjaan beres-beres barang dan bersih-bersih tempat tinggal. Kepanikan jelas melanda saya, wong saya itu orang ndak beres kok disuruh beres-beres. Beres ndak beres tanggal 30 Januari nanti adalah hari terakhir saya bekerja di pabrik yang sekarang ini saya kerjai. Tanggal 31 Januari adalah waktu untuk saya berlepas kembali ke Indonesia. Yihaaaa … saya pulang!!!

Continue Reading 23 Comments

Sarahita

Namaku Sarahita, karib Kakang Togog Tejamantri. Tidak berbaju, hanya bersarung saja. Walau tanpa wibawa, golok sederhana ada di pinggangku. Bertopi karena rambut tak rapi. Hanya abdi bagi penguasa tak berbudi. Kata-kata bijak ku tak pernah mereka dengar, kejahilanku yang mereka gugu. Itu pilihannya, dia toh raja.

Seperti juga pilihan orang lain untuk tak menyukai wajah dan tingkahku. Menyebalkan katanya. Tubuhku tak tumbuh tinggi menjulang, sama dengan hidungku yang tak payah didaki semut. Kulitku gelap, tak kenal lulur, walaupun pupur membalur wajah. Tetapi itu bukan berarti aku harus rendah diri.

Continue Reading 11 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru