1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for January, 2007

Pembayun

Sekar Pembayun tak lelap tidur. Bukan karena jabang bayi yang ada di dalam rahimnya. Sebentar lagi pagi, sebentar lagi dia akan mengiringi suaminya, Ki Ageng Mangir, menemui Panembahan Senopati, ayah Pembayun. Menuntun suaminya dengan selendang ledheknya itu menuju kematian. Seperti kehendak ayahnya, sang penguasa Mataram.

Kekuasaan tidak mengenal cinta, kekuasaan hanya mencintai dirinya sendiri. Ki Ageng Mangir harus dihukum karena menolak mengakui kekuasaan Panembahan Senopati. Untuk itu, dia harus mati. Hanya kecantikan wajah dan gerak Pembayun yang mampu membawa Ki Ageng Mangir ke hadapannya, begitu pikir Panembahan Senopati. Pembayun anak perempuannya itu, harus memikul tugas ini.

Continue Reading 11 Comments

Pemberontakan Harajuku

Harajuku, sebuah kawasan kecil di tengah metropolitan Tokyo. Sebuah kawasan yang riang, disesaki oleh toko-toko dan para pemberontak busana yang dalam bahasa positifnya disebut “trend setter“. Mbedal, tak tunduk pada aturan tak tertulis, menyegarkan. Busana yang sangat tidak Jepang tetapi di saat yang bersamaan, sangat Jepang, belum pernah saya melihat yang begini dilakukan di tempat lain kecuali oleh para peniru … para Harajuku wannabe. Ada kesinisan dan keinginan yang sangat kuat untuk menertawakan tradisi. Tidak lagi seganas masa jayanya di tahun 80-90-an memang, tetapi Harajuku toh masih saja menjadi ikon pemberontakan gaya busana di Jepang.

Continue Reading 31 Comments

Paruh-sabit kurikuri

Seribu Intan nomer 15

Pada saat menyaksikan sebuah film dokumenter, The Birds of Paradise, yang dibuat oleh kawan saya ini (pengakuan sepihak) pada tahun 1999, ada satu jenis burung yang meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Jika burung-burung lain yang ditampilkan dalam film tersebut berwarna-warni dan memiliki kemampuan menari yang luar biasa, burung yang satu ini berbeda. Burung gelap, begitu saya menamainya, anggun dan ada kesan menakutkan melihat gaya terbangnya yang seperti selembar kain sutra hitam lembut yang melayang ditiup angin. Paruh-sabit kurikuri (Epimachus fastuosus), adalah burung yang istimewa dari keluarga burung cendrawasih. Burung ini juga pernah diabadikan dalam bentuk prangko bernilai Rp. 175,- keluaran tahun 1983 dan diberi nama Cendrawasih Paruh-Sabit Hitam.

Continue Reading 9 Comments

Pirang … Pikiran Kurang?

Seorang teman, pada suatu masa dulu, dikuntit oleh bocah-bocah sambil beteriak-teriak memanggil “mister … mister … mister”. Tidak nyaman mungkin, maka sang teman yang Batak itu lantas berhenti dan sambil tersenyum menjelaskan kepada para bocah peneriak mister itu, “Saya bukan mister ya anak-anak, mister itu orangnya jangkung, hidungnya mancung, kulitnya putih dan rambutnya pirang. Mengerti anak-anak?” … penjelasan singkat gamblang jelas yang lantas dijawab oleh para bocah dengan gaya paduan suara …. “mengerti misteeeeerrrr”.

Continue Reading 17 Comments

X

Awan dapat berbentuk macam-macam. Memandangi perubahan bentuk awan kadang menarik untuk dilakukan apalagi jika sedang kurang kerjaan. Begitu? Perubahan bentuk awan dahulu dipakai oleh para “orang pandai” untuk meramal nasib, sama dengan penggunaan rajah tangan, usus ayam atau serakan tulang. Entah mana yang paling populer. Mungkin saja peramal yang menggunakan awan yang paling populer, mudah (tinggal ndangak) dan bahan baku nyaris selalu ada, ini konsekuensinya ke harga jual. Selain itu bentuk awan selalu terkinikan, paduan murah dengan kekinian, ramuan dahsyat untuk menjadi populer.

Bagi para “orang pinter” lainnya, mengamati perubahan awan bukan hanya sekedar menikmati keindahan, dengan mengamati awan mereka bisa bercerita apa-apa yang tengah atau akan berlaku di udara. Para pengamat awan ini memiliki beberapa sebutan, yang paling sering dipakai adalah cloudwatcher dan cloudspotter. Ada pula perkumpulannya.

Continue Reading 11 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru