1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Nggragas

Surat kabar yang saya baca pagi ini ada memuat foto mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore sedang menggenggam Piala Oscar, karena film di mana dia terlibat (an inconvenient truth) menerima penghargaan sebagai film dokumenter terbaik. Itu film soal lingkungan. Pada halaman lain ada tulisan panjang soal Badak sumatera. Masih ada lagi foto mobil balap Formula I Honda yang digambari wajah bumi sebagai pembawa pesan lingkungan. Isu lingkungan sudah masuk ke mana-mana.

Banjir, longsor, kekeringan, naiknya suhu permukaan bumi, meningkatnya jumlah dan kekuatan topan bukanlah deraan yang sifatnya lokal. Yang begini-begini ini sudah terjadi di mana-mana. Itu baru akibat yang langsung-langsung saja, lha yang ndak langsung seperti penyakit dan kelaparan juga “ngiring bingah”.

Setiap aksi ada konsekuensinya, telaga ditimbun, air hujan mbleber ke mana-mana. Pohon dibabati lantas siapa yang akan mengubah gas-gas berbahaya macam zat asam arang itu menjadi udara bersih? Pohon bakau ditebangi, mau kemana ikan dan udang memijah … ke losmen jam-jaman? Gas-gas rumah kaca disemburkan ke udara, lantas banyak orang menjadi kegerahan. Jika semua lantas digabung, maka berita di surat kabar akan penuh dengan berita petaka.

Semua yang ada di bumi ini merupakan bagian dari sebuah jaring raksasa, jaring kehidupan. Jaring di mana semua saling terkait satu dengan lainnya. Adalah bencana besar jika jaring itu terurai karena pada dasarnya tidak ada yang dapat hidup sendiri, karena keterkaitan itulah maka kehidupan ini ada.

Menyelamatkan apa-apa yang ada di bumi pada akhirnya bukanlah hanya untuk menyelamatkan hewan atau tumbuhan saja,  tetapi juga menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Kelompok musik Koes Plus pada tahun 70-an pernah bernyanyi “bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu”. Itu dulu.

Sudah terlambatkah untuk mengembalikan berkah dan mengurangi bencana?  Tergantung mau usaha atau tidak. Saya kok merasa selama ini saya terlalu banyak mengambil, nggragas … rakus, sembari terlalu sibuk menuding.

10 orang ikut ndobos

1

27 February 2007 17:48:49

Pak'e Damar Dimaz

Wah, ini ndobos disetel prihatin yang jarang2 ada. Ikut prihatin, Sir dan salam kenal sesama warga Bogor.

2

27 February 2007 18:12:21

Nananging Jagad

Leres gandhes atur sampeyan Mbah…..manusialah yang memanggil bencana datang dan menggali kubur untuk dirinya sendiri.

3

27 February 2007 18:51:37

diditjogja

tiada badai tiada topan kau temui,..

walah…lha koes plus blum menyambangi jogja je..!! berantakan pakde!! bukti nggragasing manungso!!

4

27 February 2007 20:28:49

Anang

bencana yang timbul di muka bumi ini adalah hukuman karena manusia pada nggragas.. saling menindas hak sesama… korupsi merajalela… duh!

5

27 February 2007 23:20:04

anakperi

Eyang Billy, padahal negarane wis kebacut dipasrahke bala nggragas je… piye ki?

6

28 February 2007 00:44:43

mariskova

Menuding?

hihihi… kayak pidatonya mpresiden kita ajah…

7

28 February 2007 07:03:15

Pailul

Dimulai dari sifat aslinya nggragas dan serakah yang turun-temurun.

Penerapannya ya embat sini embat sosno… korupsi apa saja dan dimana saja. Sampe-sampe keadilan/hukumpun dikorupsi/diperjual belikan.

Akibatnya tak ada yang tertarik menanamkan modal disini bahkan yang sudah adapun minggat angkat kaki, melainkan cuma bencana yang sering singgah dan akrab dengan kita.

Duh pak dhe sampeyan niku kok mbukak-mbukak wadi.

8

28 February 2007 10:53:09

dendi

jadi pingin nonton filmnya pak Al Gore.. di Semarang gak masuk bioskop .

9

28 February 2007 10:59:52

jeng endang

ngeri ah postingnya…lha sampeyan sibuk ngeblog juga toh?

10

28 February 2007 16:04:35

yati

wooo…marah2 juga…? ayo, terusin ngomel2nya…

Ikutan Ndobos

|