Gosong maluku
Ayam yang rajin klayaban malam-malam dengan serenteng keistimewaan. Walaupun masih berkerabat dekat dengan ayam, sebetulnya tidak tepat juga kalau dikatakan ayam, karena burung yang satu ini memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ayam. Burung satu ini tidak mengerami telurnya, ia menyerahkan urusan penetasan telur pada bumi dan panas matahari. Lha wong telurnya itu, yang dikeluarkan pada malam hari, dibenamkan di dalam pasir/tanah. Anaknya yang baru menetas memerlukan waktu tiga hari bahkan ada yang lebih untuk muncul ke permukaan tanah. Anak yang baru keluar dari dalam pasir/tanah itu, biasanya juga pada malam hari, langsung berlari mencari perlindungan. Selain itu, burung satu ini termasuk penerbang yang relatif kuat, dia mampu terbang menyebrangi laut.
Burung yang satu ini hanya terdapat di Indonesia, di Maluku tepatnya dan ia bernama Gosong maluku (Eulipoa wallacei). Burung ini bisa dijumpai di pulau-pulau di Maluku seperti Halmahera, Meiti, Ternate, Bacan, Buru, Boano, Seram, Ambon, Haruku, Kelang, Babi, Boano dan beberapa pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Di pulau-pulau tersebut mereka mendiami hutan-hutan di daratan yang agak tinggi bahkan ada yang di gunung. Hanya saja jika tiba waktunya bertelur, mereka turun mencari daerah pantai untuk bertelur secara beramai-ramai di kala bulan terang. Telur-telur tersebut dibenamkan di dalam pasir dan selanjutnya kemurahan bumi dan kehangatan mataharilah yang menetaskan telur-telur tersebut. Dalam satu musim bertelur, seekor betina mampu menghasilkan 10 telur, dengan rentang waktu untuk mengeluarkan satu telur dengan telur lainnya kira-kira 10 hari.
Di beberapa tempat, telur-telur burung ini dipanen. Karena burung ini bertelur secara beramai-ramai maka telur yang dapat dikumpulkan juga terbilang besar jumlahnya. Di Kailolo, Pulau Haruku, saja, dalam setahun bisa dikumpulkan hingga 50.000 butir. Sementara di Galela, Pulau Halmahera, jumlahnya dapat mencapai 30.000 butir per tahun.
Lantas apakah pengambilan telur-telur itu mengancam populasi burung ini. Bisa ya bisa tidak. Aturan-aturan adat yang ketat dalam pemanenan tanpaknya dapat menjamin kelangsungan hidup jenis ini. Hasil pemantauan selama 80 tahun di Kailolo dan Galela menunjukan tidak ada ancaman dari pemanenan tersebut. Penduduk setempat menjaga tempat bertelur tersebut dengan baik, dan tidak semua telur yang ada dipanen, ada yang disisakan.
Kisah panen memanen telur burung di Kailolo, dari hasil pengamatan pada tahun 1994, dapat diceritakan seperti ini. Setiap tahun pada saat awal musim hujan lelang untuk mendapatkan hak pemanenan telur dimulai. Pemenang lelang diberi hak untuk memanen selama 12 bulan. Uang hasil dari lelang 75% masuk ke kas Mesjid setempat sementara 25% sisanya untuk desa. Sang pemenang lelang mempekerjakan 4-6 pengumpul telur yang pada malam hari mengumpulkan telur dan siang harinya harus membersihkan tempat bertelur tersebut serta menjaganya agar bebas gangguan manusia. Tidak semua telur boleh diambil, harus ada yang disisakan paling tidak 20% nya.
Lantas, apa pasal burung ini dimasukan ke dalam daftar jenis burung yang secara global terancam punah dengan status Rentan (Vulnerable)? Tampaknya keserakahan kembali menjadi biangnya. Pada beberapa daerah bukannya panen jumlah telur diatur, malah semua yang ada digasak. Selain itu dirusaknya tempat bertelur masal ini dan hilangnya rumah burung ini (hutan) di kala sedang tidak musim bertelur adalah ancaman bagi kelangsungan hidupnya.
Foto diambil dari sini.
12 orang ikut ndobos
02 March 2007 02:02:15
Moes Jum
Kang ini burung gosong kayaknya perlu perlindungan Oom Eli
02 March 2007 10:52:35
pitik
ternyata banyak dari jenisku perlu dilestarikan…termasuk aku juga…
02 March 2007 13:33:51
Masbens
Terancam punah… (sedih)
02 March 2007 14:55:02
kawula alit
ndognya gedhi ora dhe..? proteine piro kadare..?
02 March 2007 15:54:14
anakperi
gosong maluku? berarti sudah ndak tau malu ya, kyai?
02 March 2007 16:29:25
yati
keren ya sistem panennya? tapi…huh…lagi2 manusia serakah itu merusak semuanya.
mas, sejenis ma ayam hutan ga sih?
02 March 2007 17:04:36
diditjogja
gosong? apa karna mukanya gosong alias gak ketok ya pakde?
ha itu gak ketok tenan je mukanya…
malah koyo tersangka ngono!
*nah cuman kikod casuarius yang familiar saya denger di blog ini!!*
02 March 2007 19:34:33
bangsari
burung nakal. malam-malam masih kelayapan juga.
03 March 2007 19:58:15
bebek
OOT, @pitik, nek dirimu kiy…. ra sah diselamatno.. mending digoreng rodo garing wae… enak loh pitik goreng kriuk
04 March 2007 04:58:36
bang pi'i
pakde… di ternate sudah ndak ada itu… saya liat di halmahera (bacan ki yo halmahera juga pakde..), ndognya enak!!! enak tenan…… pun sampun dahar belum, pakde???
25 March 2009 14:18:07
Kama
butuh dilindungi burungnya…..
13 October 2009 10:41:49
willy
ayo lestarikan kekayaan negeri kita…
jangan biarkan mereka punah…