1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Bubar

Sebuah negara besar di masa dahulu biasanya meninggalkan monumen-monumen berukuran luar biasa. Tengok saja itu Angkor Wat, Borobudur atau Prambanan. Keindahan dan ukurannya benar-benar mengundang decak kagum … ck ck geleng-geleng. Sebuah karya yang tentunya merupakan hasil pengerahan sumber daya negara yang sangat besar tentunya. Bangunan-bangunan seperti itu tidak hanya membutuhkan buruh angkut batu, tetapi juga seniman (pematung dan pemahat), ahli-ahli berhitung dan ahli-ahli perancangan bangunan. Belum lagi keperluan-keperluan penunjang pembangunan besar seperti logistik. Makmur betul itu negara sampai-sampai bisa membuat bangunan seperti itu.

Lantas, apa peninggalan dari Kerajaan Majapahit yang kabarnya amat besar itu? Mana candi-candi raksasa bikinan mereka? Jika penggambaran dalam Nagarakretagama (Desawarnnana) tentang kebesaran Majapahit (hingga masa pemerintahan Hayam Wuruk) adalah benar adanya. Ataukah kebesaran Majapahit dalam Nagarakretagama itu hanya bisa-bisanya penulisnya saja, Dang Acarya Nadendra, yang menyamarkan dirinya dengan nama Prapanca?

Lha menurut teman saya yang hidup di jaman keemasan Majapahit dulu, Kakang Duren Njepat dan Kakang Dondong Kepidhak, negara itu benar-benar besar dan makmur. Ndak ada itu yang namanya antrian bensin atau antrian minyak tanah. Walupun ada bencana alam yang terjadi seperti kekeringan dan gunung meletus (pada saat lahirnya Hayam Wuruk), tidak ada musibah kecelakaan pesawat. Kakang Njepat dan Kakang Kepidhak berkisah bagaimana trio Gajah Mada, Adityawarman dan Nala menjadikan Majapahit sebagai negara berwilayah luas.

Lantas, ke mana larinya candi-candi besar dan bangunan-bangunan megah? Menurut Kakang Kepidhak, kekayaan Majapahit tidak digunakan untuk membangun monumen raksasa. Kekayaan Majapahit digunakan untuk mewujudkan impian Gajah Mada menyatukan Nusantara di bawah Majapahit. Pengiriman ekspedisi penaklukan ke banyak tempat membutuhkan biaya besar, belum biaya untuk bikin kapalnya. Menjaga keutuhan wilayah juga perlu biaya yang tidak sedikit.

Siapa pula yang mau secara sukarela dikangkangi Majapahit. Urusan seluruh Nusantara harus bersatu karena Gajah Mada punya kekhawatiran Majapahit pada suatu saat nanti akan disambangi dan digempur angkatan perang dari Tartar, itu urusan Majapahit. Toh moyang-moyang Majapahit yang bikin masalah dengan Tartar. Kertanegara menatah pesan menolak untuk takluk di jidat utusan Tartar atau Sanggramawijaya membabat pasukan Tartar setelah dibantu mengenyahkan Jayakatwang … itu urusan Majapahit dengan Tartar. Kakang Dondong Kepidhak berkisah tentang beberapa upaya daerah taklukan untuk lepas dari Majapahit. Semua gagal, Majapahit terlalu kuat.

Lantas, jika Majapahit akhirnya menjadi negara besar kenapa pula bisa runtuh. Sirna hilang kertaning bumi, chandrasangkala bermakna 1400 saka, tahun di mana Majapahit akhirnya menjadi taklukan Demak. Kakang Njepat berkisah bahwa perebutan kekuasaan sepeninggal Hayam Wuruk lah yang menjadi biang melemahnya Majapahit. Perang Paregreg yang merupakan perang saudara untuk memperebutkan tahta seolah menjadi tanda awal kemunduran Majapahit. Berkelahi sesama saudara, tidak adanya pemimpin yang kuat, daerah taklukan sudah bosan takluk … ramuan pas bagi runtuhnya sebuah negara, sekuat dan sebesar apapun negara itu.

Duren Njeplak dan Dondong Kepidhak bercerita sembari adu catur di bawah pohon jambu. Saya cuma numpang dengar.

Gambar diambil dari sini.

18 orang ikut ndobos

1

08 March 2007 15:22:27

anakperi

duh, kyai… rupanya kyai sudah mulai diresahkan oleh keraguan… bagaimana pula nasib para kurawa momongan paduka itu, kyai…..?

2

08 March 2007 15:32:29

evi

jadi ingat pelajaran sejarah jaman sma dulu….. maksudnya ingat gurunya, cakep sih…….

3

08 March 2007 16:09:22

Rara

Mangkanya.. ndak usah rebut2an *klepon*, gontok2an, umbreng2an, biar langgeng jaya.. Gemah ripah loh jinawi..

4

08 March 2007 16:12:17

Rara

aku ra iso mbengokkk.. *nesu* Kapan celengane diserahterimakan??? hi,hi.. Tak jumput nang mbogor ya.. *hayah, napsu*

5

08 March 2007 16:54:27

ndahmaldiniwati

“Berkelahi sesama saudara, tidak adanya pemimpin yang kuat, daerah taklukan sudah bosan takluk … ramuan pas bagi runtuhnya sebuah negara, sekuat dan sebesar apapun negara itu”

koq mirip penyakit yang diderita bangsaku, plus tidak ada rasa bangga sbg warga negara kayaknya ramuannya tambah manjur.

6

08 March 2007 18:50:08

Anang

bakat jadi sejarawan sampeyan pakdhe

7

08 March 2007 19:00:04

trie

ayoo..semua duduk manis, guru sejarah *baru* sudah mulai mbuka kitab nya.
ditunggu..perang bubat nya, pak guru :)
*keycodenya kalo dibalik iso di woco “qu(m)matabit(h)or, hahaha…*

8

08 March 2007 19:00:39

Didi

lho? berarti beneran ada toh? bukan ndobosan pak karno?? tapi…
sik, tak moco blog liane.

9

08 March 2007 20:43:32

diditjogja

lho kok jadi semangad mbahas jaman kerajaan to pakde?

10

08 March 2007 21:07:54

escoret

cerita yg seru bgt..!!!
btw,nyari barang-barang itu dimana ya pak de..???
di bale cristi lagi laris manis..hehhehe

11

09 March 2007 01:03:17

lenje

Hehehehe… idealnya sih belajar dari sejarah ya, apa yang meruntuhkan suatu negara? Perasaan selama ini assessment mengenai penyebab keruntuhan suatu negara di masa lalu cuma jadi makanan historian, atau paparan pendek di buku2 pelajaran sejarah. Tapi rasanya assessment itu jarang disebut2 ketika bicara mengenai current affair. Bisa jadi karena dianggap gak relevan lagi (Padahal sejarah kan selalu berulang). Atau bisa jadi juga karena kita gak suka nginget2 hal2 yg gak enak — soalnya kalo soal kejayaan kerajaan2 dulu itu (Majapahit, Sriwijaya) sering banget disebut2 hehehe…

12

09 March 2007 09:35:58

bangsari

“Nagarakretagama itu hanya bisa-bisanya penulisnya saja, Dang Acarya Nadendra, yang menyamarkan dirinya dengan nama Prapanca?”

Oh, jadi dari dulu yang namanya penulis menyamarkan diri itu sudah lumrah ya? sampeyan nulis kitab apa kisanak?

13

09 March 2007 16:18:43

Pailul

Lha crita tentang Kakang Gendheng Nggilani ketemu dengan Mbakyu Wudho Mbiraheni bagaimana selanjutnya Pakdhe

14

12 March 2007 00:41:30

fifi

kok ngepas banget ya Pak De. saya sedang baca novel Arus Baliknya Mbah Pram. Waah, sehati apa ya?

15

12 March 2007 17:54:03

kawula alit

lha sekake duren njeplak karo dondong kepidak sing mat sopo dhe..? kok ora dilaporke sisan..?

16

14 March 2007 11:33:50

Waskita

Moco sejarah kerajaan Jawa. isi-ne mung jegal-jegalan, rebutan. Mulai saka Ken Arok nganti Brawijaya.
Wah ra beda karo saiki.

17

26 March 2007 06:41:56

odydasa

Pak Dhe…
Ada pendapat lain mengenai runtuhnya Majapahit:
http://rovicky.wordpress.com/2007/03/20/bencana-lusi-di-jaman-majapahit-1297-caka/

18

11 September 2008 15:51:27

GALUNG

aduh……, perhatikan tu peninggalan sejarah

Ikutan Ndobos

|