1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Tumpukan Batu

Mengunjungi candi kuno tanpa dicegat dan diuber-uber penjaja cindera mata dan penjaja makanan – minuman benar-benar menyenangkan. Kesunyian begitu membuat saya punya waktu untuk menikmati candi. Duduk manis sambil menatapi tumpukan batu lantas melamun dan menduga-duga cerita apa yang ada di tumpukan batu itu. Begitulah, saya menyambangi sebuah candi kecil di utara Jogja yang diberi nama Candi Kedulan.

Candi ini kecil saja, tidak semegah dan sebesar Borobudur atau Prambanan. Candi bercorak Hindu yang tampaknya dibangun pada masa Mataram kuno di masa pemerintahan Rakai Kayu Wangi. Ada satu candi utama dengan 3 candi perwara (pendamping). Candi yang ditemukan secara tidak sengaja pada bulan November 1993 oleh para penggali pasir ini masih dalam tahap disusun ulang.

Ada dua prasasti yang ditemukan di dekat candi itu pada bulan Juni 2003 yang memberikan sedikit gambaran bagaimana ongkos operasional candi itu diadakan. Candi untuk persembahyangan begini mestinya dibiayai oleh para penggunanya. Mungkin hasilnya belum mencukupi sehingga harus ada sumber pendanaan lain.

Ceritanya, ada sebuah bendungan yang mestinya ada di dekat-dekat Candi Kedulan itu, bendungan untuk mengairi persawahan . Desa-desa yang memanfaatkan bendungan lantas membayar dan bendungan tersebut mestinya juga membayar pajak kepada penguasa. Dalam kasus ini, bendungan tidak dibebani pajak, tetapi harus memberikan sebagian penghasilannya untuk keperluan candi. Tiwaharyyan, begitu nama candi tersebut, yang tampaknya merupakan nama asli dari Candi Kedulan.

Apa yang terjadi dengan candi itu kemudian? Mas Rovicky pernah menulis soal nasib Candi Kedulan ini di sini. Menarik. Candi itu ditinggalkan, begitu katanya. Lantas kenapa ditinggalkan? Gempa? Bisa jadi.

Mari berandai-andai lebih jauh lagi. Jelas prasasti menyatakan ada bendungan yang pendapatannya dipakai untuk membiayai candi. Jika sumber pembiayaan hilang, bisa jadi candi terpaksa ditutup … ditinggalkan. Bagaimana sumber bisa hilang? Lahar Merapi bisa menjadi penyebab. Sungai beralih, bendungan mati, candi tidak lagi bisa dibiayai.

Mencermati pahatan di batu-batu candi membuat saya melamun akan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan matinya candi itu. Ada sebuah makara gajah sedang mangap yang sekarang tersimpan di bangunan kantor pemugaran candi. Pada mulut gajah ada burung yang dipahat. Burungnya jelas burung berparuh bengkok (parrot). Tongkrongannya amat sangat mirip dengan Kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea).

Hanya saja jenis burung ini tidak pernah tercatat keberadaannya di Pulau Jawa. Di dekat-dekat Jawa, jenis burung ini saat ini masih ada di Nusa Penida dan di Kepulauan Masalembo (mungkin sudah punah). Di relief Candi Borobudur saya juga pernah melihat pahatan burung kakatua ini.

Lantas apa salahnya memahat binatang yang ndak ada di Pulau Jawa untuk candi yang ada di Jawa. Gajah juga tidak pernah hidup di Jawa. Kenapa tidak pakai badak atau harimau? Ya ndak ada salahnya. Toh ada juga patung singa di banyak candi di Jawa. Buat saya ini adalah sebuah peleburan yang menarik. Peleburan begini tidak hanya terjadi di Jawa saja. Lihat itu lambang negara Britania Raya dan Irlandia Utara, ada singanya. Lha kapan ada singa klayaban ke sana?

Asik memang melamun sambil menatapi tumpukan batu berukir.

8 orang ikut ndobos

1

21 March 2007 14:15:34

Goio

…Lha kapan ada singa klayaban ke sana?…

Hummm, yah mungkin saat window untuk transfer pemain liga Inggris dibuka? …

*komen bener-bener gak penting dan gak bermutu. Maap Ndoro…

2

21 March 2007 15:08:10

bu guru

sekali kali ke candi songo pakdhe, dijamin pegel kaki naik ke atas bukit

3

21 March 2007 15:35:39

zam

wah.. saya pernah baca cerita tentang candi ini pakde, cuma saya belum tau lokasi persisnya.. :)

di mana to pakde?

4

21 March 2007 15:47:42

Hedi

Berarti jaman itu sudah ada orang yang melanglang buana, entah ke afrika atau belahan dunia lain. Apalagi Nusantara waktu itu kan sudah tenar dengan kerajaan² kuno-nya.

5

21 March 2007 15:48:01

yati

waaa….ini oleh2 jalan2nya? si dokter dikutuk jadi candi aja kalo ga ketemuan :p

6

21 March 2007 15:48:25

ndahmaldiniwati

kasian banget, terbengkalai gara2 ga’ ada biaya. emange ga’ ada petugas pencari dana yang mbagiin amplop di sarana transportasi umum (pedati?) atau yang melambaikan jaring ditengan jalan?? Hmm..ra’ kreatiP!

7

22 March 2007 18:41:28

didi

oooo… gitu toh cara menikmati candi.

8

26 January 2011 13:23:59

maniak watu

kok potone sitikmen
kasih petane nog. ben bisa nglayap situ

Ikutan Ndobos

|