1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Dekolgen Sombong

Hidup saya praktis berada ditengah-tengah teman. Bisa dikatakan ikatan emosional saya dengan teman-teman tersebut sangat kuat. Hidup dengan teman ini boleh dibilang mencapai puncak pada saat saya sedang di perguruan tinggi. Rumah orang tua saya, atau tepatnya garasi kendaraan di rumah itu, menjadi sarang gerombolan teman-teman saya ini. Tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga tempat menginap. Setiap harinya bisa belasan anak menginap di rumah. Orang tua dan adik-adik saya menamai mereka sebagai anak-anak garasi.

Berhubung anak-anak garasi itu sedang dalam masa pertumbuhan, maka selera makan mereka lebih mirip anak gergasi. Ini tentu saja membuat kalang kabut pengatur belanja rumah tangga saya … adik saya yang paling kecil. Hanya saja, toh dia juga dapat “pengawal” dan pengantar jemput gratis sebagai imbal baliknya.

Dari sekian banyak teman-teman sepeniduran itu, ada delapan laki-laki yang menjadi inti anak garasi. Kelompok ini lantas sering dipanggil sebagai kelompok DEKOLGEN (delapan kon**l gentayangan). Lha wong jomblo semua. Walaupun saya lebih suka istilah LIPAN TUWA (lelaki tampan tuna wanita). Yang perempuan tidak mau kalah, beberapa dari mereka lantas berkumpul dalam kelompok WTS (wanita tanpa susu).

Di garasi yang tidak pernah sepi itulah lahir banyak sekali ide kegiatan seperti melakukan ekspedisi “ilmiah” ke banyak tempat. Kalau saja saya baca kembali laporan-laporan ekspedisi “ilmiah” itu sekarang, bisa ketawa-ketawa sendiri. Kok ya berani-beraninya ngaku itu karya ilmiah.

Kegiatan umum yang sering terjadi di garasi itu adalah pertukaran pemikiran akan banyak hal. Diskusi ndak jelas ujung pangkal sering kali terjadi. Dari omong-omong begitu ada saja cita-cita idealis ala anak muda yang muncul. Omongan seperti “pokoknya nanti saya akan begini begitu” umum saja terlontar. Begitulah hingga akhirnya kelompok anak-anak garasi yang rajin ngomong “pokoknya” itu bubar seiring dengan selesainya masa kuliah.

Lama juga saya tidak bertemu dengan teman-teman kelompok DEKOLGEN saya itu, dan saya merindukan mereka. Malam kemarin itu entah bagaimana sebagian dari DEKOLGEN itu bisa berkumpul kembali di emperan yang merangkap warung makanan di Bandung. Senang sekali masih bisa melihat mereka-mereka itu. Tidak banyak perubahan tampak luar dari teman-teman itu. Kecuali saya. Penampakan saya banyak sekali berubah … saya makin tampan.

Pertemuan itu tentu saja diisi dengan bincang-bincang masa lalu, termasuk perihal “pokoknya” itu. Cibiran banyak terlontar. Bagaimana ndak diolok-olok, lha wong apa-apa yang dulu dilontarkan dengan gaya gagah berani bak pejuang jalan pedang, ternyata lebih banyak omong doangnya saja kok. Sebagai pembelaan diri, tentu saja ada banyak hal yang lantas dirasa layak untuk dijadikan tameng, dan kami menamai hal-hal tersebut sebagai faktor arus samping. Arus yang secara perlahan menggeser (bukan membelokkan) kami dari jalan semula untuk menuju ke “pokoknya” itu tadi.

Dalam perjalanan hidup selepas DEKOLGEN, ada saat-saat di mana keputusan harus dibuat dan keputusan tersebut berpengaruh pada “pokoknya” itu. Ada toleransi pada setiap pengambilan keputusan, dan celakanya pengambilan keputusan penting itu harus sering dilakukan. Tidak heran jika kemudian “pokoknya” itu jadi bergeser karena diberi toleransi berkali-kali.

Pada akhirnya, acara reuni yang banyak diisi dengan kata “dulu itu” berakhir dengan kesadaran baru. Betapa sombongnya kami dahulu itu.

11 orang ikut ndobos

1

30 March 2007 16:43:01

trie

horreee..pertamaxxx!!

ah…jadi inget ‘mereka’ juga, konco cangkrukan dulu..kemana ya mereka ??
baetewe….ini jum’at toh?, mana seribu intan nya ? apa udah bubar ? ato ketularan yg di sana itu…bolos posting menu utamanya?? hehehhee….

2

30 March 2007 17:36:19

mbah atemo

wah hahahahaaa? yg gentayangan aja bisa pulang ya pakdhe…

3

30 March 2007 17:50:46

pitik

idealisme (baca = kesombongan) masa muda ternyata harus mengalah pada kenyataan masa kini…hmm..

4

30 March 2007 18:11:17

-tikabanget-

saya dulu hampit tiap hari nginep di KM kampus waktu masi jadi mahasiswa.. eh, maksud saya.. waktu masi banyak temen seangkatan yang jadi mahasiswa… hihi..

sekarang nginep di kantor terus..

5

30 March 2007 18:13:19

yoyok

kalo ditempat saia, namanya club KIMI
Kaya Ide Miskin Implementasi

*keluh*

6

30 March 2007 18:38:35

yati

akhirnya diposting yak? :p
kok pas ngumpul dirumah, wts-nya ga diajak? jangan2 bukan karena susah minjem ke suaminya mereka tapi karena dekolgen-nya yg takut dibongkar :p

7

31 March 2007 03:42:04

Hedi

kalo yang WTS reuni-an, saya diundang ya :P

8

31 March 2007 10:42:14

venus

‘Penampakan saya banyak sekali berubah … saya makin tampan.’

dooooohhh….sombongnya gak berubah gitu lho, sir. sisa2 kejayaan masa muda?

9

02 April 2007 13:15:39

Blanthik Ayu

ksembongan harus di toleransi dengan susu bayi hihihihi
tampan?????….iya seeh kalo liatnya dari samping ….samping monas maksudnya huahahahahahaha

10

02 April 2007 15:19:14

De'Tiz

Waahahaha…. anak2 garasi…. jadi inget, dulu srasa punya cem-ceman 8 orang. baru krasa to mas… kalo dulu ‘sombong’, sampe ‘stroke’ segala. Tapi sekarang kayaknya masih ‘sombong’ n ‘pokoknya’ bgitu, lhaa ubannya tambah buanyak, migrennya tambah sering. Ato itu cuma U2? Usia Uzur….

11

03 April 2007 14:56:44

adong

Wah… DEKOLGEN… aku juga inget tuh… idealisnya minta ampun deh…. kerjanya ngritik pemerintah, tapi sekarang ada berapatuh DEKOLGEN yang jadi Pegawai Negeri ? udah luntur yee…… Untuk DE’TIZ… engkau harus banyak terima kasih sama 8 punggawamu itu lho…… inget waktu mobilmu diikuti orang ? he 3X

Ikutan Ndobos

|