Mar 21 2007 - 12:35
Mengunjungi candi kuno tanpa dicegat dan diuber-uber penjaja cindera mata dan penjaja makanan - minuman benar-benar menyenangkan. Kesunyian begitu membuat saya punya waktu untuk menikmati candi. Duduk manis sambil menatapi tumpukan batu lantas melamun dan menduga-duga cerita apa yang ada di tumpukan batu itu. Begitulah, saya menyambangi sebuah candi kecil di utara Jogja yang diberi nama Candi Kedulan.
Candi ini kecil saja, tidak semegah dan sebesar Borobudur atau Prambanan. Candi bercorak Hindu yang tampaknya dibangun pada masa Mataram kuno di masa pemerintahan Rakai Kayu Wangi. Ada satu candi utama dengan 3 candi perwara (pendamping). Candi yang ditemukan secara tidak sengaja pada bulan November 1993 oleh para penggali pasir ini masih dalam tahap disusun ulang.
Continue Reading
7 Comments
Mar 13 2007 - 06:46
Jika sampeyan punya hobi off-road, atau selip-selipan menurut istilah anaknya Mbah Mo teman saya itu, ada kabar bagus untuk sampeyan. Arena selip-selipan yang lain daripada yang lain sudah tersedia. Lengkap dengan kebun asri yang memiliki koleksi tanaman dari berbagai negara. Dilengkapi pula dengan tempat belanja busana serta pernak-perniknya. Tidak boleh dilewatkan pula tempat-tempat makan setelah sampeyan lelah berselip-selipan. Jadi, tunggu apa lagi? Bersegeralah datang ke Bogor.
Dengar-dengar, arena untuk selip-selipan ini dalam waktu dekat akan segera dibikin mulus kembali. Ah … tidak usah risau, Bogor kan kota hujan. Itu jalanan diguyur hujan barang beberapa hari saja juga bakal rompal lagi. Lantas, di mana yang paling sedap untuk selip-selipannya? Jalan Baru yang menghubungkan Bogor dengan Parung, mulai dari perlintasan kereta api di Kebon Pedes hingga ke pertigaan jalan ke Taman Yasmin. Tidak ketinggalan disediakan pula tantangan tambahan dalam berselip-selipan, bus umum, angkot dan sepeda motor.
Continue Reading
24 Comments
Mar 9 2007 - 12:15
Seribu Intan nomer 21
Burung yang satu ini rajin klayaban di lantai-lantai hutan pegunungan. Di seluruh dunia burung ini hanya ada di ujung timur Pulau Jawa, persisnya di kompleks Gunung Ijen-Raung dan Meru Betiri. Sampai sekarang burung ini belum diberi nama dalam Bahasa Indonesia. Lha … karena hidupnya di ujung timur Pulau Jawa, mungkin bagus juga kalau diberi nama Puyuh-gonggong menakjinggo atau Puyuh-gonggong osing. Akan tetapi karena mukanya yang putih seperti habis pupuran begitu, mungkin lebih pas jika diberi nama Puyuh-gonggong muka-putih. Lagi pula Menakjinggo mukanya merah.
Continue Reading
12 Comments
Mar 8 2007 - 15:06
Sebuah negara besar di masa dahulu biasanya meninggalkan monumen-monumen berukuran luar biasa. Tengok saja itu Angkor Wat, Borobudur atau Prambanan. Keindahan dan ukurannya benar-benar mengundang decak kagum … ck ck geleng-geleng. Sebuah karya yang tentunya merupakan hasil pengerahan sumber daya negara yang sangat besar tentunya. Bangunan-bangunan seperti itu tidak hanya membutuhkan buruh angkut batu, tetapi juga seniman (pematung dan pemahat), ahli-ahli berhitung dan ahli-ahli perancangan bangunan. Belum lagi keperluan-keperluan penunjang pembangunan besar seperti logistik. Makmur betul itu negara sampai-sampai bisa membuat bangunan seperti itu.
Lantas, apa peninggalan dari Kerajaan Majapahit yang kabarnya amat besar itu? Mana candi-candi raksasa bikinan mereka? Jika penggambaran dalam Nagarakretagama (Desawarnnana) tentang kebesaran Majapahit (hingga masa pemerintahan Hayam Wuruk) adalah benar adanya. Ataukah kebesaran Majapahit dalam Nagarakretagama itu hanya bisa-bisanya penulisnya saja, Dang Acarya Nadendra, yang menyamarkan dirinya dengan nama Prapanca?
Continue Reading
18 Comments
Mar 6 2007 - 15:55
Jaman sekarang jika seseorang dicalonkan menjadi pejabat publik maka sang calon lantas dimintai untuk mengemukakan apa-apa yang hendak dikerjakannnya. Pada saat sang calon akhirnya terpilih, adalah lazim jika kemudian ia menegaskan kembali apa-apa yang akan dilakukannya demi kemakmuran dan kemajuan negeri.
Pada suatu masa yang telah lama lewat, tersebutlah sebuah kerajaan besar yang berpusat di Jawa Timur. Majapahit namanya. Pada tahun 1334 Patih Amangkubhumi Arya Tadah yang sudah sepuh dan sakit-sakitan digantikan oleh seorang perwira muda yang sedang naik daun, Gajah Mada.
Continue Reading
19 Comments