1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Tiger

Siang itu, tanggal 16 Juli 1960, sebuah pesawat pancar gas kursi tunggal yang terbilang modern pada masa itu, melesat di angkasa Jakarta. Sebuah MiG-17 yang oleh NATO diberi julukan Fresco dikemudikan oleh Letnan Dua Penerbang Daniel “Tiger” Maukar. Kisah selanjutnya adalah berondongan senapan mesin pesawat ke Istana Merdeka, Istana Bogor dan depo penyimpanan bahan bakar di Tanjung Priok.

Perkara apa yang menyebabkan satu dari 10 pilot terbaik Angkatan Udara yang dikirim ke Mesir itu memberondong istana, saya juga tidak tahu pasti. Ada banyak versi cerita yang beredar. Dari mulai persoalan pribadi hingga keterlibatan “Tiger” dalam gerakan bernama sandi “Manguni” miliknya Permesta.

Tanggal 16 April lalu, “Tiger” berpulang dalam usia 72 tahun. Begitu berita yang saya baca di harian Kompas. “Tiger” memang pilot jempolan, sehabis aksinya dia mendaratkan pesawatnya di daerah persawahan di Garut. Kabarnya dia hendak bergabung dengan para gerilyawan DI/TII tetapi keburu tertangkap. Hukuman mati lantas dijatuhkan untuknya. Walaupun pada akhirnya hukuman itu tidak dijalaninya dan ia bebas pada tahun 1968.

Soal tak jadinya acara hukuman mati itupun kisahnya banyak, termasuk keterlibatan artis. Ulah “Tiger” juga berbuntut besar. Begitu aksi penembakan selesai, Laksamana Udara Suryadarma mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pucuk pimpinan Angakatan Udara sebagai rasa tanggung jawab atas ulah anak buahnya, walaupun anak buahnya itu “hanya” berpangkat Letnan Dua.

“Tiger” sudah berpulang, kisah hidupnya diabadikan dalam sebuah buku berjudul “Last Tiger Out: The True Story of Dan Maukar, Ace Pilot in the Indonesian Air Force” yang ditulis oleh Jan S Doward, yang diterbitkan pada tahun 1973. Kisah hidup “Tiger” mungkin seseru kisah pesawat yang dipakainya untuk mengakhiri karirnya sebagai penerbang tempur.

Pesawat MiG-17 adalah pesawat yang semula diremehkan kehandalannya oleh negara-negara barat kala itu. Baru pada perang Vietnam, kehandalan pesawat berkecepatan sub-sonic ini (0,93 kali kecepatan suara) terlihat. Aksi MiG-17 pulalah yang menggerakan Amerika untuk membentuk sekolah penerbang tersohor itu, Top Gun.

Sisa-sisa MiG-17 di Indonesia mestinya ya tidak banyak. Setahu saya, dahulu ada dua yang masih bisa dilihat. Satu ada di Yogjakarta, sedangkan satunya lagi dijadikan monumen di dekat bandar udara Juanda di Surabaya.

Foto oleh Peter de Jong diambil dari sini.

8 orang ikut ndobos

1

18 April 2007 01:06:57

mariskova

Wah, si kumendan sampe mundur. Jarang kejadian itu. Mungkin karena itu namanya dipake jadi nama salah satu universitas ya?

Hayooo… kalo cerita yang lengkap! (sekalian buat ngilangin cemas nih hehehe)

2

18 April 2007 02:36:51

KhamShe

lumayan #2
Bener yg punya tukang ndobos….. Sapa sing ora percaya, ngacung? deneng ora ana sing ngacung. Berarti ora ndobos ya lung….?

….HIDUP MBILUNG….

3

18 April 2007 08:41:13

kenny

klo jaman skr kebalikannya,lebih baek mengorbankan anak buah yg penting komandan slamettt

4

18 April 2007 09:10:58

kawula alit

sayang jaman itu Lt “Maverick” van Tom Cruise belum lahir, kalo seandainya sudah jadi pilot mesti rame tenan.. banyak bandar botohan buka lapak..

5

18 April 2007 09:20:24

trie

bukune ono sing boso jowone ra sir..yo minimal ngendonesah lah…

6

18 April 2007 13:26:53

yati

oh, pernah ada yang nulis bukunya ya? mana…?

ah, mas mbilung ga berani sebut nama….kurang neeehhh….kurang lengkap….!

7

19 April 2007 14:00:15

Moci Arane

wew, seru neh ceritanya, udah jrg loh di Indonesia ada kejadian gini trus smp komandannya mundur lg. top dah.

8

20 April 2007 20:01:28

kampret nyasar

Wah ini pasti riset dulu sebelum postingannya published, yah?
Gimana dengan AU sekarang… ayo dong ulas.

Ikutan Ndobos

|