1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Grande Dame

Sudah lewat pertengahan April, sebentar lagi hari yang dahulu biasanya dirayakan dengan gegap gempita mirip karnaval itu akan datang. Hari Kartini. Maka akan ada bapak-bapak berlomba masak atau bertanding sepakbola dengan memakai pakaian perempuan, ditingkahi sorak sorai atau kikik geli para istri. Ada pula keriaan lain yang berkonotasi “pekerjaan perempuan”. Ada pula yang merayakan hari kelahiran Kartini itu dengan cara lain. Dengan diskusi peran perempuan misalnya, atau pertunjukan ini itu oleh perempuan. Meriah.

Kartini memang punya tempat khusus dalam sejarah Indonesia. Kumpulan kata-kata dalam surat-suratnya telah mengangkat Kartini menjadi figur pahlawan. “Pendekar kaumnya untuk merdeka”, begitu penggalan lirik pada lagu yang diciptakan untuknya. Perempuan hebat dia tentunya. Lhaaa, bicara soal perempuan hebat, saya lantas ingin bercerita sedikit tentang sosok perempuan lain, yang berbeda generasai dari Kartini. Perempuan yang untuknya tidak ada lagu pujian. Laksamana perempuan pertama di dunia. Petarung garis depan. Pemimpin laskar Inong Balee yang disegani musuh dan kawan. Laksamana Malahayati.

Kisah Laksamana Malahayati walaupun tidak banyak, semua bercerita tentang kepahlawanannya. Pada saat dibentuk pasukan yang prajuritnya terdiri dari para janda yang kemudian dikenal dengan nama pasukan Inong Balee, Malahayati adalah panglimanya (suami Malahayati sendiri gugur pada pertempuran melawan Portugis). Konon kabarnya, pembentukan Inong Balee sendiri adalah hasil buah pikiran Malahayati. Malahayati juga membangun benteng bersama pasukannya dan benteng tersebut dinamai Benteng Inong Balee.

Karir militer Malahayati terus menanjak hingga ia menduduki jabatan tertinggi di angkatan laut Kerajaan Aceh kala itu. Sebagaimana layaknya para pemimpin jaman itu, Laksamana Malahayati turut bertempur di garis depan melawan kekuatan Portugis dan Belanda yang hendak menguasai jalur laut Selat Malaka.

Di bawah kepemimpinan Malahayati, Angkatan Laut Kerajaan Aceh terbilang besar dengan armada yang terdiri dari ratusan kapal perang. Adalah Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, pada kunjungannya yang ke dua mencoba untuk menggoyang kekuasaan Aceh pada tahun 1599. Cornelis de Houtman yang terkenal berangasan, kali ini ketemu batunya. Alih-alih bisa meruntuhkan Aceh, armadanya malah porak poranda digebuk armada Laksamana Malahayati. Banyak orang-orangnya yang ditawan dan Cornelis de Houtman sendiri mati dibunuh oleh Laksamana Malahayati pada tanggal 11 September 1599.

Selain armada Belanda, Laksamana Malahayati juga berhasil menggebuk armada Portugis. Reputasi Malahayati sebagai penjaga pintu gerbang kerajaan membuat Inggris yang belakangan masuk ke wilayah ini, memilih untuk menempuh jalan damai. Surat baik-baik dari Ratu Elizabeth I yang dibawa oleh James Lancaster untuk Sultan Aceh, membuka jalan bagi Inggris untuk menuju Jawa dan membuka pos dagang di Banten. Keberhasilan ini membuat James Lancaster dianugrahi gelar bangsawan sepulangnya ia ke Inggris.

Nama Malahayati saat ini terserak di mana-mana, sebagai nama jalan, pelabuhan, rumah sakit, perguruan tinggi dan tentu saja … nama kapal perang. KRI Malahayati, satu dari tiga fregat berpeluru kendali MM-38 Exocet kelas Fatahillah. Pun demikian, entah kenapa tak banyak yang mengenal namanya. “Siapa sih Malahayati itu?” begitu sering saya dengar. Saya hanya menjawab, “Oh, dia itu Laksamana“.

Laksamana Malahayati …. grande dame (perempuan yang agung).

Gambar oleh Dede E Supria.

19 orang ikut ndobos

1

19 April 2007 01:12:23

-tikabanget-

waow…
bener bener laksamana pertama di dunia?
itu ada bukti empiris ndak ituh?
*opo tho empiris ki..?*

betewe, kalo malahayati itu grande dame, saya dame apa , pakdhe?
hehe..

2

19 April 2007 08:15:39

didi

ah..akhirnya… ndongeng lagi. bikin buku dong pakdhe!

3

19 April 2007 09:45:32

anakperi

iya ya, kyai…, saya baru ngeh dari penjelasan kyai… keterlaluan, ya?
saya jadi bertanya-tanya, sejarah sepenting itu kok nggak populer, ya?

4

19 April 2007 09:51:11

mbahatemo

pakdhe, kenapa kartini lebih kondang ya? apa karena kartini tukang nulis dan malahayati tukang perang ya? haduhh..
kesimpulannya, yg di belakang meja vs orang lapangan..
haiyahh.. opo sih?

5

19 April 2007 14:16:23

trie

lha saya sdg baca tentang kerajaan perlak ini, sir..
ehh…gak nyambung yo

6

19 April 2007 14:31:27

Evy

Wah keren Laksamana rek, jman segitu Aceh udah maju yaa…
mas2 usul dong bikin buku tentang manuk surmanuk…

7

19 April 2007 14:44:30

yoyok

dan kalau tidak salah Benteng Inong Balee sudah tak terawat…
Papan namanya dah mau roboh..bekas benteng hampir rata dengan tanah…diumbuhin tanaman liar…
sedih…

8

19 April 2007 17:00:38

yati

masih ngotot dengan pertanyaan yg sama…trus kenapa harus kartini????
sampe skrg ga ada kan laksamana perempuan selain beliau? kalo yg nulis surat dan pake kebaya sih, banyak kaleee…

*tetep ga puas, tapi mo protes kemana yak? atau 11 september aja dijadiin hari Perempuan Agung (yg bukan agung, ga punya perempuan dan hari :p garing deh)

9

19 April 2007 20:42:40

diditjogja

sek..sek…cari di wikipedia sek….

10

19 April 2007 20:50:07

diditjogja

waduh pakde!

korelasi nya cuma 0,9% itu cuman sak ucrit!!
gak nulis disana pakde?

11

19 April 2007 21:46:06

roel

rekayasa siapa ya hingga kartini jadi ikon perempuan (kemayu) di negeri ini? Padahal dia sendiri kagak mampu melawan saat dijodohpaksakan (lha kata majemuk apa ini?) oleh orangtuanya untuk sudi dikawini residen yang sebenarnya bagian dari rekayasa belanda supaya dia minimal bisa lebih dikontrol kalau kagak bisa dibungkam. Masih ada Cut Nya’ Dien juga kaleee. Kalau tetap ngotot Kartini, masih ada Kartini yang lain. Dulu dia tetangga saya, biasa kami panggil teteh. Dia itu kapten kapal pertama di Indonesia, bekerja di PT PELNI dan orang pertama yang menakhodai KM Awu dari galangan kapal di Jerman ke Tanjung Priok. Kepanjangan ya kang? hehehe
gileee gue dapet keycode macrocephalon. maleo dooooong!

12

20 April 2007 23:42:04

tito

lho..ada yoyok disini :D

13

23 April 2007 10:41:41

mpokb

kalo buat aye, pahlawan wanita ya emak. bisa lahirin dan numbuhin aye sampe segede gini, hehe

14

24 April 2007 10:41:55

timpakul

adakah lagi pejuang negeri ini yang terlupakan? :-(

15

26 April 2007 13:48:04

meiy

penetapan pahwlawan dipengaruhi kekuasaan. padahal byk pahlawan wanita yg lebih hebat dari kartini…

16

30 January 2008 20:12:53

Hamed Akhi

kalo mau bener2 jujur, laksamana malahayati tu jauh lebijh berjasa dari pada kartini. dan beliau merupakaan bukti nyata bahwa emansipasi sudah ada jauh sebelum kartini bisa nulis. yah setidaknya di tanah jawa.

dan perlu dicatat mas, kartini menulis untuk kebebasan wanita jawa, bukan indonesia. coba baca bukunya deh “..beri kebebasan pada wanita jawa” kutipan langusng tu.

17

28 March 2008 20:26:13

yOhAnA

pWeNgEn iQoT nImbRuNg DoWaNk . . JBU . .

18

08 April 2009 19:23:37

rzl

Trims mas Ndobos atas posting sejarah yg spt ini.Sebenarnya Indonesia itu sangat kaya akan budaya, sejarah, tapi banyak yg tidak ditimbulan, utk sejarah emansipasi wanita hrs diakui daerah Aceh sangat banyak karena kultur nya orang Aceh yg dr dulu tidak terlalu membedakan perlakauan thd wanita dan pria.Ratu (pemimpin kerajaan) juga banyak di kerajaan Aceh.Kalau kisah ratu Aceh, laksamana Malahayati dan srikandi srikandi perang aceh (Cut Nyak Dhien,Cut Nyak mutia,Pocut baren etc yang tidak terdetect) difilmkan kisahnya oleh Hollywood, sy yakin dalam satu minggu langsung boxoffice. Dan kisahnya tidak akan ada yang komplain karena memang tercatat dimeuseum Eropa, Belanda dan Inggris.

19

21 April 2011 16:14:44

Irma

cakeeeppp kang ijo!

Ikutan Ndobos

|