Tiramisu Latah
Jaman saya kecil dulu, Adi Bing Slamet yang masih kecil ada menyanyikan lagu tentang Mak Inem yang latah. Jika kaget, Mak Inem langsung mecotot eh copot eh copot copot … Tingkat kelatahan yang masih ringan menurut saya, karena toh juga ada yang keluarnya kata-kata lain yang bisa bikin orang lain terbelalak.
Latah tidak harus muncul dalam bentuk perkataan yang tidak jelas dari mana asalnya itu. Ada yang latah dengan menirukan dan menyetujui apa-apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Celakanya, jika lawan bicaranya lebih dari satu dan para lawan bicara tengah beradu argumentasi, sang pelatah mengiyakan semuanya, bahkan pakai acara mengulang ucapan para lawan bicaranya.
Ada pula bentuk latah yang justru dilakukan oleh orang-orang yang katanya tidak latah. Ada beberapa kali saya bermain-main dengan hal ini, tingkat keberhasilannya sampai sekarang mencapai 100%. Walaupun harus diakui, percobaan begini mesti didukung dengan suasana awal yang kondusif untuk percobaan. Sederhana saja sebetulnya.
Datanglah ke sebuah restoran beramai-ramai, jangan hanya berdua atau bertiga, beramai-ramai. Carilah tempat makan yang ramai. Datanglah dengan suasana gembira, meriah. Pesan minuman terlebih dahulu. Pada saat memilih-milih makanan apa yang hendak dipesan, mulailah aksi. Nyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan meriah, sambil bertepuk tangan. Pengalaman menunjukan, satu meja tempat sampeyan duduk bersama juga bakal menyanyikan lagu itu. Perhatikan juga sekeliling, beberapa meja (bahkan terkadang seluruh pengunjung) juga ikut menyanyikannya.
Pada semua kasus, sang pengelola tempat makan beserta para pekerjanya juga ikut menyanyi dan bahkan memberikan “hadiah” ulang tahun. Entah itu berupa minuman gratis atau makanan gratis. Lha yang ulang tahun siapa? ya ndak ada. Wong saya itu cuma kepengen nyanyi saja kok.
Walaupun yang namanya latah konon hanya dikenal di Asia Tenggara saja, hal tersebut menurut saya tidaklah benar. Latah menyanyi begini justru terjadi di luar Asia Tenggara. Jepang dan Italia adalah yang paling responsif, sementara negara-negara seperti Inggris, Perancis dan Jerman dingin pada awalnya.
Saya mencobanya sekali lagi di Kota Kinabalu minggu lalu. Seluruh pengunjung ikut bernyanyi, dan pemilik tempat makan memberikan minuman gratis untuk semua orang di meja kami dan satu set makanan gratis untuk yang “berulang tahun”. Setelah terbelalak sebentar karena akhirnya sang pemilik diberi tahu bahwa tidak ada yang berulang tahun, sang pemilik sambil tertawa lebar malah memberikan makanan pencuci mulut gratis untuk semua orang di meja kami.
Saya yang dimintai pendapat makanan apa yang sebaiknya dipilih, merenung sejenak. Lantas berteriak lantang …. tiramisu. Dan semua mengamini dengan berteriak lantang….tiramisu. Kudapan yang lezat, tandas dengan cepat. Beberapa orang memuji rasa tiramisu tersebut sambil berkata, “enak sekali kueh Jepang ini”. He???? Tiramisu kok Jepang sih? Ya ndak apa-apa, namanya juga latah.
15 orang ikut ndobos
30 April 2007 14:27:33
kawula alit
ternyata bakat ndeso dan loewak tidak luntur meskipun di negeri lain yo dhe…
sip tenan tidak meninggalkan budaya..
30 April 2007 16:12:09
kenny
yo penuk yen latahe marai wareg
30 April 2007 17:30:00
Blanthik Ayu
latah melu ndobos juga:D apa kabar pakde??? kapan kembali?
30 April 2007 20:14:40
yati
huahahaha…dassaarrrr! saya pernah, karena temennya kebetulan gila2 juga, tapi ga dikasih gratisan sama yg punya resto. mungkin ketahuan, muka boong semua
30 April 2007 22:39:55
doyan tiramsu
bagi dooong tiramisunya… latah neeh… hwehehehe
30 April 2007 22:59:21
Moes Jum
tiramisu kii sebangsa tisu opo tiram Kang? atau jangan2 sebangsa asu … hehe
30 April 2007 23:02:06
mariskova
Duh, untung di jembatan merah kemaren gak ada latah-latahan begini. Wong ndablek macem saya gak bisa diajak spontan hehehehehe
01 May 2007 04:24:59
-tikabanget-
huiihihihi…
nyanyi sembarang ulang taon??!!
wekekek..
bisa dicoba ini, buat dapet makanan gratis.. *winkwink*
01 May 2007 08:08:45
Nananging Jagad
Untung ora ditakoke KTP ro akte klairane Dhe……..
01 May 2007 08:12:26
bangsari
moso makanan penutup roti?
01 May 2007 10:28:30
trie
woo…mari lungo maneh toh jebule. rupanya meski udah “ngandang” di rumah, bakat “mabur” masih ada juga, hahahaa..
01 May 2007 13:19:09
kikie
bahasa inggrisnya “latah” apa ya pak
tadinya saya pikir, tiramisu itu kue pake tiram. jadi awalnya ga pernah pengen nyicip, da jijay duluan
tapi ternyata kok ya bukan tiram. enak, lagi. hahaha.
jadi mau …
01 May 2007 20:37:01
ahmad bio unpad
ikutan ah……beuneur kang. di bandung juga penyakit latahnya lumayan.tapi yg ini mah latah2 campur jail. ini cerita dari temen.jadi ceritanya ketika itu pas bubaran pertandingan persib bandung lawan tamu undangan (entah siapa).singkatnya tibalah saat pulang. kan di stadion siliwangi tuh banyak pohon2 yg tinggi tuh, tiba2 beberapa anak muda ber’inisiatif’ menunjukkan tangannya ke satu pohon . “Eh, itu naon euy?itu naon?” terus aja sampe banyak orang ikutan mendongakkan kepalanya sambil “nyidik2″ ada apakah gerangan di atas pohon tersebut. semakin lama orang yg berkerumun.eh, kelompok anak muda yg bikin ulah itu tiba2 ngeloyor pergi. sementara yg berkerumun bukan berkurang jumlahnya malah semakin bertambah karena penasaran. he..he..he…
02 May 2007 21:46:21
venus
lhaaa…nanti di citos pura2nya sampeyan ulang taun ya mas? siapa tau dapet makanan gratis juga
17 May 2007 00:11:03
Moci Arane
wah tips nya bagus neh…