1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Hanya Menjalankan Peran

Tadinya saya sudah bersiap-siap untuk menulis seri seribu intan untuk minggu ini. Entah kenapa, ada rasa enggan dan lantas saya melihat komentarnya Mas Ipul yang isinya begini : “jadi pengamat burung itu janjane kerjane ngapain to pakde? kalo cuman ndelak-ndelok, plesar-plesir, edad-eded, aku wae iso. tapi kan ndak mungkin cuman gitu. mbok dicritani, pengamat burung ki janjane ngopo wae”. Saya lantas berketetapan hati untuk menulis soal ini saja.

Sejatinya, mbulet kalau saya harus cerita soal ini. Walaupun demikian, apa-apa yang dikerjakan seperti ditulis Mas Ipul itu jawabannya adalah “ya”. Sebetulnya istilah pengamat burung itu ya ndak pas. Mengamati hanya satu bagian saja dari pekerjaan saya. Memahami mahluk berbulu itulah yang dituju. Dalam kasus saya, ujung-ujungnya adalah bagaimana melestarikan mereka di alam.

Namanya juga ingin berkenalan, tentu saja yang pertama-tama harus dilakukan adalah membedakan jenis burung satu dengan jenis burung lainnya. Di dunia ada lebih dari 9.000 jenis (spesies) burung, kalau di Indonesia jumlahnya sekitar 1550-an jenis, dan terus bertambah. Pekerjaan mengenali inilah yang lantas dijadikan kegiatan utama para penggemar pengamatan burung (birdwatcher). Ada yang menganggap ini adalah kegiatan yang menyenangkan, ada pula yang jengkel.

Tahap selanjutnya adalah mempelajari di mana saja mereka hidup. Bukan hanya nama tempatnya, tetapi juga di lingkungan seperti apa mereka hidup, apakah di hutan, pantai, kebun. Juga, pada ketinggian berapa.

Untuk saya yang paling menarik adalah pada tahapan mulai mempelajari kelakuan serta peran burung tersebut di alam. Lha … berhubung saya itu bukan Doctor Doolittle yang bisa berbincang dengan binatang, maka proses memahami ini jadi panjang waktunya. Kalau bisa ngomong langsung kan enak, tinggal dipanggil, lantas ngobrol. Tanya-tanya, kapan musim bertelur, cari pasangannya bagaimana, makanan kesukaannya apa, yaaaah … obrolan-obrolan kecil keseharian saja.

Peran di alam? Ya iya. Setiap mahluk hidup mestinya punya peran yang dimainkan di alam ini. Rangkong (Enggang) salah satu perannya adalah menyebar biji-biji pohon di hutan agar hutan dapat tetap terus hidup. Burung madu berperan menjadi comblang yang mengawinkan satu bunga dengan bunga lainnya. Burung sikatan dan pemakan serangga lainnya, bertugas untuk menjaga agar populasi serangga tidak lantas melimpah ruah tak terkendali. Semua memiliki peran dan memiliki tempat dalam sebuah jaring-jaring kehidupan yang sangat rumit. Jika ada mata jaring yang hilang, maka jaring bisa berantakan dan ujung-ujungnya sampeyan juga yang merana.

Lantas kalau soal “ndelak-ndelok, plesar-plesir”, itu hanyalah sesuatu yang harus dilakukan saja. Sama seperti sampeyan mau ngantor, harus meninggalkan rumah. Toh saya itu bepergian tidak melulu hanya untuk ndelak-ndelok burung. Karena seperti saya bilang di muka tadi, dalam kasus saya, ujung-ujungnya adalah bagaimana melestarikan mereka di alam, maka urusannya jadi lari ke mana-mana. Jika lantas ini dianggap plesir, itu hanya masalah persepsi saja. Boleh-boleh saja dibilang saya itu dipaksa berplesiran. Perkara saya lantas girang disuruh plesir dan situ iri, itu soal lain.

Menghabiskan banyak waktu di luar rumah adalah hal yang menyenangkan buat saya, tetapi jika terlalu lama, ya kangen juga untuk pulang. Berapa lama saya harus meninggalkan rumah dalam satu perjalanan? ya ndak mesti, ada yang hanya beberapa jam tetapi ada juga yang beberapa bulan. Seberapa sering saya harus meninggalkan rumah? Lumayan sering, lha kok ndilalah untungnya istri dan anak-anak saya itu ya santai-santai saja tuh. Mungkin mereka juga bosen melihat wajah tampan saya ini terus-terusan.

Kembali ke soal peran, lantas peran saya itu apa di alam. Saya kok percaya peran saya (dan mungkin juga kita semua) di alam, ya untuk menjaga agar tidak ada mata jaring yang rusak atau bahkan hilang. Karena itulah kita dikaruniai akal budi (bukan akalnya Budi) dan lantas kita menamai diri kita sendiri Homo sapiens, manusia yang berakal budi. Jaring-jaring kehidupan mestinya akan tetap utuh jika kita menggunakan akal budi, bukan akal-akalan … nakal. Ini peran saya menurut saya lho. Kalau menurut sampeyan, peran sampeyan itu apa?

Jadi begitulah Mas Ipul dan sederek sedoyo. Masih belum jelas? Lha mbok datang saja ke acara kumpul-kumpul Sabtu besok itu, kita bisa ngobrol.

18 orang ikut ndobos

1

Gravatar

11 May 2007 10:00:12

kawula alit

aku yo meh nulis bab iki ya dhe… :D

sip nda ……..

2

Gravatar

11 May 2007 11:18:05

kw

wah baca postingan ini aku merasa tertampar pak dhe. lha aku sampai sekarang belum punya peran apa-apa sama sekali. apalagi peran untuk planet ini.

di kopdaran aja baru sebatas pendengar. (aku tak yakin pendengar itu adalah sebuah peran, karena “pasif”).

mungkin aku harus mengejar peran itu, biar ia jadi punyaku?

lha … saya bukan tukang ngampleng, kok merasa ditampar to?

3

Gravatar

11 May 2007 11:27:13

trie

lha..ini baru jelas. :D
(huh..kopdar iku sik disinggung2 ae *jeles modeon*)

jelas ndak jelasnya?  :D

4

Gravatar

11 May 2007 12:37:15

ndoro kakung

tumben serius dan ndak ada ndobosnya :P

lha…saya ini orangnya serius kok? apa mesti mencantumkan nama ndoro sebagai donatur terbesar kegiatan saya biar dikira ndobos?

5

Gravatar

11 May 2007 13:37:05

pitik

saya masih bingung, kalo tukang ngintip manuk gitu bayarane darimana? apa manuk2 itu urunan mbayarin pengintipnya?

lha…coba tanya ndoro kakung yang jadi donatur terbesar saya itu.  ;))

6

Gravatar

11 May 2007 14:29:00

bangsari

njajal komen

7

Gravatar

11 May 2007 14:32:00

bangsari

sip, besok tak tanyain yang lain lagi. :D

soal peran, peran saya itu sudah jelas. Tukang wedang! :D

peran sampeyan itu tukang nanya  :D

8

Gravatar

11 May 2007 15:05:50

walahwalah

enak juga ya mas, kalo mbayangin yang sampeyan ceritakan…

enak-enak nyonyor  :D

9

Gravatar

11 May 2007 15:40:41

Yoki

hayooohhhh hadiri dan datanglah di kongkow-kongkow kantor pohon nangka dengan pembicara setunggal…”apah ituh burung?” :P hihihi…hayohhhh nambahin kepanikan :D

iyaaaa…ayoooo, itu kebun sudah lama ndak disapu

10

Gravatar

11 May 2007 20:52:33

Hedi

aku mau tanya…..eh besok aja wis…ditunda :D

11

Gravatar

11 May 2007 22:14:01

diditjogja

saya juga mau pakde kalo diajak jalan2 ndelok burung dan njeperet pake kamera!!

seru ketokmen!
bisa liat burung2 dari sekdar di balik monitor dan dari seribu intan nomor xxx serta istilahnya yang dijadikan kikod :p

lha yo mbok ndang …..

12

Gravatar

12 May 2007 00:07:38

Moes Jum

mas mas … sampeyan burungnya warna apa??

lha kan sampeyan sudah lihat …. sama persis warnanya sama burung sampeyan

13

Gravatar

12 May 2007 07:03:06

kenny

aku juga suka ngamati burung lho sir…tenin !! :D

diamati tok kan? ojo dipangan …

14

Gravatar

12 May 2007 12:06:41

yati

kalo mo wawancara burung, laen kali ajakin si dokter kesepian itu aja mas….tapi jangan ngajak nyicipin sup burung, itu sih dilestarikan dalam darah dan daging….:p

dokter itu memang tidak memangsa darah dan daging burung, entah kalau bulunya

15

Gravatar

12 May 2007 12:48:11

langit

wahh..sepertinya menyenangkan :)

sangat …. berminat?

16

Gravatar

12 May 2007 15:50:08

de

sampeyan birdwatcher aku birdeater hehehe

watch first, eat latter  :D

17

Gravatar

12 May 2007 16:56:10

mbahatemo

selain manuk, ngamati apa lagi pakdhe?

sing ayu-ayu

18

Gravatar

15 May 2007 13:15:09

-tikabanget-

sing ayu ayu?
wuiks.. ngamati saya nohh..!!!

*lirik ataas*

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya