Cekakak murung

Seribu Intan nomer 28

Walaupun namanya cekakak, burung satu ini suaranya ya ndak ngakak, malah lebih mirip ngikik dan agak pelan. Tidak seperti kerabatnya yang riuh rendah cekakakan, Cekakak murung lebih sering diam. Cekakak pendiam ini di dunia hanya dapat dijumpai di Pulau Halmahera di Maluku Utara. Burung ini pertama kali dikoleksi pada oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1858. Tidak hanya satu, dari lokasi yang tidak diketahui dan hanya dilabeli Gilolo (nama lain untuk Pulau Halmahera), Wallace mengambil 5 burung sekaligus. Awetan burung ini masih awet sampai sekarang dan tersimpan manis di Natural History Museum, di Tring, Inggris.

Laporan keberadaan burung ini sejak pertama kali dijumpai hingga saat ini tidaklah banyak. Mungkin karena burungnya bukan jenis burung yang gaduh, atau mungkin pula karena ya memang langka. Burung ini hidup di bagian bawah dan tengah pohon-pohon di hutan, rawa-rawa sagu dan hutan bakau. Walaupun ada laporan burung ini mendiami daerah yang terbuka, tetapi hasil pengamatan-pengamatan terakhir menunjukan bahwa burung ini lebih menyukai hutan. Kadang-kadang saja dia bertandang ke kebun-kebun kelapa.

Burung ini biasanya duduk manis di cabang pohon sambil menunggu mangsanya yang berupa belalang, kelabang bahkan kadang-kadang ular dan kadal disantap juga. Selama hutan masih menyediakan binatang-binatang santapannya tersebut, Cekakak murung bisa jadi tidak akan murung. Hanya saja, ada yang membuat cekakak ini bermurung diri. Hutan di Halmahera begitu menggiurkan bagi manusia. Jika pada awal tahun 1990-an 90% pulau ini masih ditutupi hutan, maka pada akhir tahun 1990-an hutan-hutan dataran rendah yang penting bagi burung ini sudah banyak sekali yang diubah menjadi kebun, pemukiman dan daerah bekas tebangan. Daerah Kali Batu Putih di Sidangoli yang menjadi daerah tujuan utama para pengamat burung dari berbagai negara, saat ini nyaris sudah bersih walaupun Cekakak murung kadang masih bisa terlihat di tempat ini. Para wisatawan pengamatan burung bahkan mengabarkan hanya suara gergaji mesin yang terdengar sepanjang hari dari hutan-hutan di Halmahera.

Tidak ada informasi yang jelas mengenai sarangnya. Mungkin sebagaimana cekakak lainnya, cekakak ini juga membuat sarang yang berupa lubang di tebing-tebing tanah dekat sungai. Ada berapa telur dan anak yang bisa dihasilkannya dalam sekali musim bertelur, entahlah.

Ada beberapa laporan yang mengatakan burung ini juga terdapat di Pulau Ternate, Pulau Tidore dan bahkan Pulau Bacan, hanya saja hingga saat ini masih belum ada bukti yang kuat akan keberadaan burung ini di pulau-pulau tersebut.

Photo © György Szimuly diambil dari sini.

Join the Conversation

15 Comments

  1. kok kayak cekakak sungai atau raja udang biru yang di foto hitam putih ya. garis warnane hapir sama, cuman yang ini hitam putih. meski pakdhe suka ndobos…tapi burung2nya oke punya. happy mersi ya…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *