1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for May, 2007

Ritual

Ini telepon genggam baru saja dinyalakan, langsung ada satu pesan masuk mengucapkan selamat datang di Philippina dan langsung ngajak mengadakan ritual pertemuan di tempat biasa. Don sang pengirim pesan adalah teman saya, tidak hanya di blog, juga di dunia nyata. Kami memiliki ritual pertemuan di kedai kopi sembari bertukar cerita dan mentertawakan diri sendiri. Ritual yang selalu kami lakukan, entah itu pada saat Don ke Indonesia, saya yang ke Philippina atau pada saat kami bertemu entah di mana. Ritual ngopi sambil gojek kere.

Dengan seorang teman lain saya juga punya ritual, yang juga masih berkaitan dengan makanan. Menyantap tiram mentah dan lantas berbual-bual sampai pagi sembari menghisap kretek tanpa filter.

Continue Reading 22 Comments

Pintu WC

Pintu ke kamar kecil (wc) perempuan selalu tertutup sedangkan pintu ke kamar kecil laki-laki selalu terbuka, ngablak-ngablak, kalau perlu pakai diganjal kain pel. Paling tidak itu yang selalu saya temukan di sebuah ruang tunggu di bandar udara Soekarno-Hatta ini. Entah kenapa begitu, saya ndak pernah bertemu dengan petugas yang berwenang dengan masalah buka tutup pintu setiap kali saya mengunjungi wc itu.

Menjumpai laki-laki berkemih di bawah pohon sambil menghadap batang pohon sudah sering. Seolah itu hal yang biasa saja. Kalau menjumpai perempuan melakukan hal yang sama kok seingat saya belum pernah, atau mungkin sayanya saja yang kurang jeli (jelalatan liar).

Continue Reading 19 Comments

Pada Suatu Sabtu

Awalnya ya hanya ingin kumpul-kumpul saja. Datang, makan, ngobrol ringan, mesam-mesem, pakai acara berfoto sebagai selingan, lantas pulang. Tidak usahlah lantas beracara yang berat-berat, apalagi sampai menggagas ini itu, toh selama seminggu sudah 5 hari (malah ada yang 6) pikiran ini dijejali yang berat-berat. Begitulah, ada 40 jiwa yang berkumpul Sabtu pagi kemarin itu hingga malam hari.

——
.

Continue Reading 34 Comments

Hanya Menjalankan Peran

Tadinya saya sudah bersiap-siap untuk menulis seri seribu intan untuk minggu ini. Entah kenapa, ada rasa enggan dan lantas saya melihat komentarnya Mas Ipul yang isinya begini : “jadi pengamat burung itu janjane kerjane ngapain to pakde? kalo cuman ndelak-ndelok, plesar-plesir, edad-eded, aku wae iso. tapi kan ndak mungkin cuman gitu. mbok dicritani, pengamat burung ki janjane ngopo wae”. Saya lantas berketetapan hati untuk menulis soal ini saja.

Sejatinya, mbulet kalau saya harus cerita soal ini. Walaupun demikian, apa-apa yang dikerjakan seperti ditulis Mas Ipul itu jawabannya adalah “ya”. Sebetulnya istilah pengamat burung itu ya ndak pas. Mengamati hanya satu bagian saja dari pekerjaan saya. Memahami mahluk berbulu itulah yang dituju. Dalam kasus saya, ujung-ujungnya adalah bagaimana melestarikan mereka di alam.

Continue Reading 18 Comments

Mengamati Burung …. Gampang

Sulitkah menjadi pengamat burung? Begitu sering saya dengar pertanyaan yang ditujukan kepada saya. Lha … yang pengamat burung itu siapa? Saya harus mengakui, kemampuan saya mengamati burung itu hanya pada kelas biasa-biasa saja. Kalau soal pertanyaan tadi, jawabannya bisa berupa pertanyaan lagi. Sulitkah menjadi seorang penjahit? Kata “penjahit” bisa saja diganti dengan profesi lain.

Lantas ada yang berpendapat dengan semena-mena. Wah, kalau ngamati burung mesti harus berlatar belakang biologi, kehutanan atau yang sekitar-sekitar itu. Weeeits, nanti dulu sobat. Tidak demikian kenyataannya. Beberapa pengamat burung piawai yang saya kenal justru bukan berlatar belakang seperti yang saya sebut tadi.

Continue Reading 20 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru