1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for June, 2007

Bubut jawa

Seribu Intan nomer 32

Ada cerita yang konon-konon begitu tetapi sadis. Carilah anak burung bubut yang baru menetas, patahkan kakinya, tinggalkan barang beberapa hari, datangi lagi, itu kakinya sudah sembuh, patahkan lagi. Ulangi beberapa kali, lantas bunuh burungnya, lalu rendam dalam ramuan. Manjur untuk obat patah tulang. Apa betul begitu, ya ndak tahu juga saya. Saya ndak tega untuk mencobanya.

Cerita kali ini adalah mengenai burung bubut yang hanya diketahui ada di Pulau Jawa, Bubut jawa namanya, Centropus nigrorufus. Ukurannya lumayan besar, 46 cm. Berwarna gelap, kepala, punggung, paruh, kaki serta ekornya berwarna hitam mengkilat, sayapnya coklat dan matanya merah menyala. Baunya juga khas, ndak enak gimana-gimana gitu.

Continue Reading 22 Comments

Gaudeamus

Anak saya menyelesaikan sekolah SMP-nya, dan pagi hingga siang tadi saya menemaninya mengikuti acara “wisuda”. Banyak juga para orang tua yang (menyempatkan diri) datang. Acara dimulai dengan masuknya barisan murid-murid yang akan diwisuda bersama para guru-gurunya. Lantas ada, paduan suara menyanyikan lagu mengiringi langkah mereka memasuki ruangan upacara. Lagu yang membuat saya tertawa agak keras. Akibatnya saya harus menerima tatapan mendelik beberapa orang tua murid. Ndeso, katro, dasar udik, wong acara serius dan khidmat begini kok tertawa. Begitu rasanya ucapan diam yang terlontar dari pelototan itu. Saya tertawa karena lagu itu kok, bukan bermaksud mentertawakan siapa-siapa. Lagu Gaudeamus itu …..

Continue Reading 17 Comments

Musim Bingung

Si Mas sudah lulus SMP sedangkan si Adik sudah lulus SD, lantas datanglah kebingungan musiman itu, saat masa liburan panjang sekolah. Mau dibawa atau “dibuang” ke mana ini anak-anak. Dikurung di rumah saja? saya kok masih punya belas kasihan. Maka mulailah sang Ibu sibuk menyusun acara liburan untuk mereka, sang Ayah terima jadi seperti biasa.

Akhir pekan kemarin itu, setelah menculik anaknya simbok, kami menghabiskan waktu di tempatnya Paklik Baba (foto di atas). Lantas ada pula rencana untuk menyambangi tempatnya Bude Impu. Terpikirkan juga untuk menyambangi tempatnya Pakde Lody atau tempatnya Ndoro Bedhes biasa tertirah. Hanya saja kok semua itu temanya sama ya? pentalitan di alam terbuka. Mungkin belajar membatik di museum batik patut dicoba. Atau, pergi saja ke Bali, sekalian mengunjungi Buliknya anak-anak itu. Banyak pilihan sebetulnya, lantas masalahnya apa?

Mungkin masalah terbesar justru ada di orang tua. Sedang tidak libur kerja, sibuk pula. Atau mungkin juga pilihan-pilihan yang ada tidak berkenan di hati dan/atau di saku orang tua, walaupun sangat berkenan di hati sang anak. Melepas sang anak untuk menikmati liburannya sendiri saja tanpa orang tua? Mungkin anaknya ya senang-senang saja, atau malah makin senang. Tetapi apakah orang tuanya siap ditinggal pergi oleh anak? Coba tanyakan pada Paman Kemplu.

Continue Reading 10 Comments

Salju, Fettucini dan Sate

Saya teringat akan salju. Iya …. salju, bukan es, dua benda yang berbeda dan keduanya memancing reaksi yang berbeda pula. Saya ingat, jika salju turun, saya menghambur keluar rumah, jingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Walaupun ujung-ujungnya mengumpat dahsyat jika lapisan salju tebal lantas menutupi pintu di depan rumah. Sementara, jika es yang datang dari langit, saya ngumpet sembari was was akan nasib genteng dan kaca jendela.

Kecuali di Papua, rasanya tidak ada salju di Indonesia. Entah datang dari mana kata “salju” itu di Bahasa Indonesia. Menurut Wikipedia kata salju berasal dari Bahasa Arab, tsalji. Dalam Bahasa Melayu, benda tersebut disebut salji. Tidak, saya tidak akan ndobos soal asal muasal kata atau soal salju.

Continue Reading 14 Comments

Aturan Makan

Jadi table manner ya? sesuai pesanannya Pippy. Repot ini urusannya, karena walaupun saya itu punya “table” tapi “manner” nya itu yang agak repot nyarinya, saya lupa nyimpennya di mana. Begini saja, saya ndongeng sajalah.

Ada sebuah cerita pendek yang berkaitan dengan tata cara makan yang baik dan benar. Jaman Indonesia masih susah dulu (sekarang juga masih yak?) H. Agus Salim pernah diundang makan oleh orang Belanda di Belanda. Sebelum dan sesudah makan Pak Haji mencuci tangannya dengan air di kobokan yang sebelumnya sudah dia minta untuk disediakan. Pak Haji makan dengan tangannya, ndak pakai sendok dan garpu. Si Belanda yang merasa tidak nyaman dengan pemandangan “jorok” Pak Haji makan itu lantas berkata dengan mimik muka melecehkan, “kenapa kamu tidak pakai sendok dan garpu?”
Pak Haji menjawab, “saya dikasih tangan ini oleh Tuhan untuk dipakai oleh saya sendiri, nah itu sendok sama garpu yang kamu punya dipakai oleh banyak orang”

Continue Reading 30 Comments

Ndobosan lama |