1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

M

“Mereka membunuh ayah dan adik saya di depan mata saya, tetapi mereka melakukan kesalahan besar, karena mereka tidak membunuh saya. Masalah sebetulnya hanya soal batas tanah, tetapi mereka membunuh keluarga saya dan sudah menjadi tugas saya untuk membalas kematian itu. Saya membunuh bukan karena saya ingin membunuh ….. saya harus membunuh”.

Kawan baru saya itu, sebut saja namanya M, bercerita mengapa dia masuk penjara, sesekali dia mengayunkan golok memotong ranting-ranting kayu untuk api unggun. Sesekali sipir penjara pengawal kami ikut membantu, senapan M 4 masih terselempang di dadanya, dengan kunci pengaman senjata diset “semi”. Kami sedang berkemah di tengah hutan Siburan, setelah seharian tadi bekerja membuat jalur penelitian.

Saya lantas bertanya pada M, berapa orang yang dia bunuh untuk membalas kematian ayah dan adiknya itu. Datar saja jawabannya … “sepuluh, saya berondong mereka di ruang tengah rumah mereka, selepas acara pemakaman”. Saya lalu menyerahkan diri. Saya terkejut mendengar kata sepuluh. M tersenyum sebentar dan lantas berkata, “itu tidak termasuk tiga orang yang saya bunuh di penjara Muntinlupa pada saat terjadi kerusuhan antar narapidana di sana”. Muntinlupa adalah kota tempat Penjara Bilibid yang merupakan tempat penahanan para penjahat paling berbahaya dengan pengamanan maksimum.

M diganjar hukuman mati pada awalnya, akan tetapi karena hukuman mati dicabut dari perundang-undangan di Philippina, hukumannya berganti menjadi hukuman seumur hidup. Lepas dari pembunuhan yang dilakukannya di Muntinlupa, M dinilai berkelakukan baik dan jumlah hukumannya terus berkurang. Bulan Juli nanti tepat 17 tahun dia sudah mendekam di Sablayan Prison and Penal Farm (SPPF), dan katanya bulan Juli nanti itu, dia sudah boleh menjalani masa bebas bersyarat.

M sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukannya selepas penjara nanti, mungkin dia akan tetap tinggal saja di SPPF, menjaga hutan Siburan katanya. M memang sudah akrab dengan hutan ini, hutan dataran rendah paling penting di Pulau Mindoro. Dia juga rajin mengumpulkan anakan pohon dari hutan ini untuk ditanam di bukit-bukit gundul di sekitar penjara. Dia sudah tidak ingat lagi berapa pohon yang sudah ditanamnya. M juga hafal banyak nama-nama tumbuhan dan sifat-sifat kayunya serta tumbuhan apa saja yang disukai oleh burung Mindoro Tarictic (Penelopides mindorensis).

Sebelum saya beranjak tidur, M sempat bertanya apakah di Indonesia ada banyak penjara? dan apakah para narapidananya juga menanam pohon dan menjaga hutan? Saya katakan bahwa di Indonesia juga banyak penjara tetapi saya tidak tahu apakah ada narapidanan yang ikut menjaga hutan. M menutup ceritanya malam itu dengan berkata “Saya bisa mengajari mereka menjaga hutan kalau mau. Tidurlah …. saya akan berjaga malam ini”.

Begitulah, malam itu saya tidur nyenyak di tenda, mungkin karena lelah, mungkin juga karena merasa aman dijaga oleh seorang pembunuh.

9 orang ikut ndobos

1

03 June 2007 19:07:28

yati

mmmm..komentar apa ya? :( takut, sekaligus agak terharu…

napi yg jaga hutan? dulu di nusakambangan, ada sih napi, tapi perusak hutan, bob hasan namanya!

2

03 June 2007 19:31:55

Goio

mungkin juga karena merasa aman dijaga oleh seorang pembunuh.

Pembunuh? membaca ceritanya pakdhe kok aku merasa penggunaan kata ‘pembunuh’ terlalu kasar untuk beliau (M). Membunuh itu memang perbuatan yang tidak baik, apapun alasannya. Tapi… beliau (M) ini tidak lagi layak disebut pembunuh…

Ataukah ini hanya perasaanku saja? Ah, sudahlah…

3

03 June 2007 20:16:47

Luthfi

kapan2 fieldtrip nyang nusakambangan pakde ;-)

4

03 June 2007 21:03:36

fitri mohan

yuhuuuuu! mantap! ayo pakde, lanjutttt!

5

04 June 2007 00:12:54

Hedi

Pake inisial M, apa itu maksudnya murderer? ;)

6

04 June 2007 08:02:03

kw

ngeri sekali. membunuh karena tak ingin membunuh, tapi karena harus membunuh? :(

7

04 June 2007 15:11:26

anima

untung dia dapet second chance untuk jalanin hidupnya yah :)

8

04 June 2007 16:41:41

anakperi

huebat, kyai… huebat….

9

05 June 2007 10:07:46

mei

jadi ingat nasehat batman sama robin, saat robin mau balas dendam membunuh two-face. “saat kamu sudah berhasil membunuhnya, tapi perasaan bencimu belum hilang kamu pasti akan terus membunuh untuk menghilangkan sakit hati itu”

Ikutan Ndobos

|