1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Menyanyi

Saya ndak tahu apa sebetulnya kesalahan mereka dan mereka juga hanya senyam-senyum setiap kali saya tanya, atau paling-paling jawaban yang diberikan juga ndak jelas. Paling tidak sudah 14 tahun mereka ada di penjara ini, dan mereka adalah “penyanyi resmi” penjara. Sejak masih bebas dulu mereka juga selalu bertiga dan selalu menyanyi bersama di kampungnya.

Begitulah, hampir saban malam mereka bersama kami di perkemahan kami di pinggir Danau Libuao di kaki Gunung Siburan, menyanyi bersama hingga larut malam sampai mobil penjara menjemput mereka untuk kembali ke sel.

Suara mereka bagus, petikan gitarnya juga indah. Setiap kali mereka selalu membawa buku nyanyian lusuh yang entah berapa jumlahnya itu dan kamipun menyanyi. Lagu-lagu lama dari tahun 80-an. Hanya saja ndak ada lagu-lagu Indonesia yang mereka tahu.

Genjringan gitar malam-malam begini memang memiliki keasyikan tersendiri, dan kemangkelan tersendiri juga. Lha bagaimana ndak mangkel, jaman SMA dan kuliah dulu, tiap kali ada acara berkemah, itu para perempuan manis-manis selalu merubung pemain gitar. Upacara unjuk otot di siang hari dalam upaya mengundang kekaguman lawan jenis, sirna begitu saja dengan petikan gitar.

Saya memang tidak bisa memainkan gitar, pernah coba untuk belajar, tapi kalah oleh rasa malas. Tapi toh saya masih memiliki pita suara yang menurut saya kok ya bisa bergetar indah dan lantas saya mendaftarkan diri untuk mengikuti paduan suara. Langkah aman sebetulnya, jika suara saya ternyata mengerikan masih bisa ditutupi oleh yang lain. Hanya saja, kok ya tidak ada kembang sekolah atau kembang kampus yang ikut paduan suara.

Sia-sia? ya tidak juga. Di Siburan kemarin itu toh akhirnya saya bisa unjuk kebolehan menyanyi, a cappella, tanpa iringan musik. Lagu Melati Putih-nya Iwan Abdurachman. Selesai saya menyanyi, semua bertepuk tangan riang …. tanda kelegaan karena saya akhirnya selesai menyanyi tampaknya. Tidak ada yang meminta saya menyanyi lagi setelah itu.

13 orang ikut ndobos

1

04 June 2007 12:01:47

pitik

wah berarti sampeyan bagus kalo nyanyi, tetapi lebih bagus lagi kalo diam, begitu mungkin pikir mereka..:D

2

04 June 2007 12:22:15

Anang

hehe lega banget mereka…

3

04 June 2007 13:26:35

zam

hwehehehehe..

coba kalo pakde “nyanyi” sambil gelantungan di bis.. :D

4

04 June 2007 15:14:30

yati

hahaha…dalam hati mereka: toloooong toloooong…hargai telinga kami dengan diammu!

5

04 June 2007 16:05:58

kw

tulisane lucu. :) bisa jadi karena mereka tak paham kerennya lagu melati putihnya iwan a.

kalau kopdaran pasti banyak yang request.

6

04 June 2007 17:43:41

gita

mungkin mereka nyesel pakdhe, hrusnya ndak usah minta pakdhe buat nyanyi :D

7

04 June 2007 19:38:45

mbahatemo

pesona sampeyan barangkali ada pada tulisan sampeyan itu, pakdhe… atau, kursus nyanyi-nya sama juraganne kikod ini.. simbok venus..

8

05 June 2007 07:16:15

galih

salah satu enaknya bisa main gitar salah satunya ya… mata wanita-wanita akan memandang takjub hehehe…

9

05 June 2007 10:23:40

mei

wahahahaha..lucu pakde, lucu..bikin saya ngakak pagi ini mbacanya=)

10

05 June 2007 11:23:00

Gatot Burisrowo

ngelu ndas, masuk blog ndoro kakung, eh malah pecas ndahe. mlebu rene, moco nbosane sampean, ah…ah…..ha..ha..ha…ha…ha….. matur nuwun mas rud, mugo-mugo jenengan diparingi sehat lan kuat kali Gusti Allah.

11

05 June 2007 11:53:19

dendi

wah lama tak berkunjung, ada oleh-oleh dari filipina rupanya..

12

06 June 2007 09:53:54

mariskova

Sudahlah, Pak Dhe, ngeblog saja. Apa mau jadi selebriti penyanyi juga? :D

13

14 June 2007 17:05:58

Ipang

Wah bozz kan nyayi’in Lagu Melati Putih, pnya Iwan Abdurachman. mkin mereka berfikir, “biarlah yang nyanyi Iwan Abdurachman…”
hehehehe, salam kenal bozz…

Ikutan Ndobos

|