Melancong

Sablayan adalah nama kota kecil di tepi pantai yang juga merupakan ibu kota Kabupaten (Municipality) bernama sama yang terletak di Propinsi Occidental Mindoro, Pulau Mindoro, Philippina. Sebagai sebuah municipality, Sabalayan adalah municipality terluas di seantero Philippina (218.880 ha) dengan jumlah penduduk kurang dari 65 ribu jiwa (sensus tahun 2000). Pertanian adalah sektor penting di Sablayan yang menjadi sumber penghasilan utama municipality ini. Pariwisata walaupun belum berperan besar, tampaknya akan menjadi andalah di masa depan untuk municipality ini. Sabalayan merupakan pintu gerbang untuk menuju Apo Reef yang merupakan tempat menyelam tersohor itu, yang tentunya dibanjiri turis yang hobi menikmati keindahan alam bawah laut.
Lha kan ….. gaya bertutur seperti di atas itu mengingatkan saya pada guru ilmu bumi saya di SMP. Tapi ya begitu itu gaya bertutur Eduardo Gadiano (Pak Ed), sang Wakil Bupati Sablayan. Saya mengenal Pak Ed sejak tahun 2004, ketika dia datang berkunjung ke Indonesia. Kami melancong bersama ke Sumba, Bali dan Menado. Saya berjanji pada Pak Ed, suatu saat nanti saya akan datang ke Sablayan. Janji itu sudah saya penuhi, dan saya masih ingin kembali lagi.
Kecil, kering dan berdebu itu kesan awal pada saat tiba di Sablayan. Jalan beraspal tidak saya temukan, saya hanya melihat jalan bersemen atau yang hanya diperkeras saja. Walaupun kecil, Sablayan adalah kota yang mengundang senyum, walaupun mungkin mereka tidak bermaksud begitu. Bola basket adalah olah raga utama di Philippina, dan sebuah kota, sekecil apapun seolah wajib memiliki lapangan basket. Sablayan memiliki sebuah lapangan basket utama dalam sebuah gedung beratap seng yang nama gedungnya ditulis dengan huruf berukuran besar …. Sablayan Astrodome. Tidak jauh dari Astrodome itu, ada lapangan tenis yang tidak mau kalah gagah dalam hal nama …. Wimbledon Court.
Pak Ed bilang, sebuah kota tidak lengkap tanpa museum, dan Sablayan memiliki satu. Sebuah bangunan kecil sederhana yang dijejali barang-barang “tua”. Ada telepon engkol dari tahun 1945, botol air dari gelas hijau berukuran setengah galon dari tahun 1950-an, setrika kuno dari besi yang menggunakan arang dari tahun 30-an, koleksi baju-baju kuno, tengkorak Tamaraw (Bubalus mindorensis) sejenis kerbau kerdil yang hanya terdapat di Mindoro, dan ada pula miniatur rumah orang Mangyan, penduduk asli Mindoro. Semua diatur sekenanya saja tanpa ada keterangan apa-apa.

Tampaknya mall sudah merupakan kebutuhan mendasar bagi penduduk Philippina. Beberapa mall di Philippina tercantum dalam daftar mall-mall terbesar di dunia, misalnya SM Mall of Asia di Pasay yang menempati urutan ke 5 sebagai mall terbesar di dunia. Lantas ada SM City North EDSA, SM Megamall yang bertengger di urutan 7 dan 8. Ketiga mall tersebut dimiliki oleh SM Prime Holding, Inc. Sablayan juga merasa perlu memiliki sebuah mall, SM ….. Sablayan Mall berdiri megah di tepi muara Sungai Sabang. Penjual daging, ikan, sayur, bumbu dapur, kios-kios makanan dan kios kelontong bertebaran di “mall” satu ini. Lengkap dengan hiruk-pikuk para penjual yang mempromosikan barang dagangannya. Suasana dan aroma pasar mengingatkan saya ke masa kecil di Pasar Cinde, Palembang, dan Pasar Kosambi di Bandung.

Di depan Sablayan Mall terbentang sebuah jembatan gantung yang menghubungkan daratan utama Sablayan dengan gosong pasir di muara Sungai Sabang yang padat penduduk. Tidak ada nama mentereng melekat pada jembatan tersebut. Hanya tertulis “Sabang River, Hanging Bridge”. Jembatan beralas kayu yang ramai, dan selalu bergoyang bikin gamang. Manusia, sapi, babi dan kadang kerbau melintas jembatan sepanjang 104 meter ini. Entah kenapa tidak ada nama melekat pada jembatan ini, padahal dari tempat ini keindahan matahari terbenam yang keemasan di pantai Sablayan dengan latar belakang Pulau Pandan bisa dinikmati. Golden Gate, nama yang pas sepertinya untuk jembatan ini.

Satu saat nanti saya ingin kembali ke Sablayan. Seperti yang pernah ditulis oleh Don, kawan saya itu di sini, ada sesuatu yang membuat saya merasa nyaman di kota kecil yang panas dan berdebu itu.
8 orang ikut ndobos
07 June 2007 09:57:42
bimo
akhirnya saya bisa ikut commen juga hiks
07 June 2007 10:25:41
gita
wuah pakdhe jane setrika antik kae buat oleh oleh bisa loh
07 June 2007 11:39:11
de
wah setrikanya bisa jadi alat KDRT tuh hihihi. disawatno hehehe
07 June 2007 12:06:34
Luthfi
sama parung enakan mana om ?
07 June 2007 14:05:07
mei
“Sabang River, Hanging Bridgeâ€
ketokke tempate romantis go pacaran..hehe
07 June 2007 18:39:06
kw
waduh baca postingan ini makin pengen cepet pergi aja. jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi manusia… ke mars
07 June 2007 21:46:20
Hedi
urusan panas dan berdebu, saya justru inget jalanan ke Pandan Valley
21 September 2008 19:40:39
zhick fahrezy
aku ama teman2 pingin melancong keliling indonesia tapi adakah komunitas buat kita gabung gk?