1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Mandar talaud

Seribu Intan nomer 29

Burung satu ini, di seluruh dunia hanya dapat dijumpai di Pulau Karakelang, di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, yang merupakan wilayah paling utara Indonesia yang langsung berbatasan dengan negara Philippina.

Berita penemuannya sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan para pengamat burung. Masih banyak ternyata tempat di negara dengan jumlah penduduk ke-empat terbesar di dunia ini ternyata yang masih belum “dijamah”. Ada kata-kata yang sering saya dengar “kita adalah negara yang kaya”, jika kemudian ditanya “seberapa kaya”, ya ndak tahu juga jawaban pastinya. Maklum saja, burung yang satu ini ditemukan pada jaman teknologi sudah maju, persisnya tahun 1996.

Begini cerita seputar penemuannya. Pagi hari pada tanggal 15 Agustus 1996, Frank Lambert dan Christian Mamengko melihat seekor “burung aneh” sedang melintas jalan di dekat Tarohan. Sempat dilihat sekitar setengah menitan dari jarak sekitar 10 meteran, lantas “burung aneh” itu lari menghilang dalam kerimbunan semak. Keduanya tidak tahu burung apa itu. Tanya-tanya dengan penduduk setempat, mereka mengetahui perkara burung ini dan mereka menamainya Tuu-a atau Tu’a. Sangat pemalu katanya, tapi burung yang sial ya kadang tertangkap juga dan lantas disantap.

Tanggal 6 September 1996, ada seorang penjual burung yang ternyata diantara barang dagangannya terdapat “burung aneh” tadi dalam keadaan sudah sekarat. Menurut pedagangnya burung itu ditangkapnya di Rainis pada tanggal 15 Agustus. Burung itu mati pada hari itu dan lantas dijadikan spesimen. Spesimen burung tersebut saat ini tersimpan di Museum Zoologi Bogor dengan nomer MZB 30.271.

Setelah diamat-amati dan diteliti secara seksama, burung MZB 30.271 tersebut ternyata merupakan jenis burung baru untuk dunia ilmu pengetahuan. Dalam sebuah jurnal ilmiah burung, Forktail, penemuan tersebut lantas disiarkan ke seluruh dunia dan burung MZB 30.271 lantas diberi nama ilmiah Gymnocrex talaudensis.

Masih sangat sedikit yang diketahui tentang burung ini. Tempat di mana burung ini pernah terlihat juga sangat sedikit, hanya di Tarohan, Rainis, Beo dan Rae. Mungkin karena kepiawaian burung satu ini untuk bersembunyi, tetapi mungkin juga karena memang sudah langka. Oleh IUCN burung ini lantas dimasukan ke dalam daftar spesies yang terancam punah.

Kabarnya habitat rawa dan semak belukar di pinggir hutan masih lumayan banyak di Karakelang walaupun kabarnya lagi juga sudah semakin menyempit. Belum lagi burungnya sendiri kabarnya lezat sehingga layak buru.

Di sisi lain ada harapan bagus, pulau-pulau di sekitar Karakelang masih belum di survey, seperti Pulau Salibabu dan Kabaruang. Mungkin saja burung ini juga ada di sana. Selain itu, wisata pengamatan burung juga makin meningkat ke Karakelang. Jika ini terus berlangsung, burung hidup dan bebas di alam bisa jadi lebih mahal dari pada burung yang sudah digoreng.

Jika ada yang membuat saya bersedih dari kisah penemuan Mandar talaud, kenapa dalam jurnal ilmiah pengumuman ditemukannya jenis baru itu hanya ditulis oleh satu orang saja, sedangkan Chris Mamengko (dan M.B. Hutajulu) kawan-kawan saya itu hanya disebut dalam ucapan terima kasih.

Gambar diambil dari sini.

10 orang ikut ndobos

1

08 June 2007 12:10:42

de

horeeeeee pertamaaaaaxxxxx

2

08 June 2007 12:50:23

ikutan ndobos

wuiik lucu rek manuke warnanya bagus, merah ama hijau…itu cowo apa cewe mas? kok ga kliatan itu-nya jare ndowo…. ;)

3

08 June 2007 19:01:12

bimo

Wah…, ‘burung’ baru nih…

4

11 June 2007 20:17:41

roelus

Hwalah! jenis yang umum di Talaud. orang sana menyebut jenis ini Tu’a. Kalo orang ke kebun biasanya suka ketemu burung ini karena dikejar-kejar anjing berburu. kalau sudah terdesak dia akan melompat ke atas pohon dan meneteslah airmatanya. pokoknya umum lah. kecuali buat saya yang sampai sekarang belum juga mujur bisa melihatnya :( hiks…

5

18 July 2008 16:10:00

towos

isi perut laut sekitar sangihe talaud

6

25 August 2008 20:07:58

halena

maju terus Talaud…..itu baru Burung mungkin masi banyak hal tentang Talaud yang Dunia perlu tahu……ceeerr..

7

13 October 2008 15:25:42

Robinhood Tindige

kalau burung tu’a di atas dikampung saya mah banyak di Desa Tabang Kec. Rainis Kab. Talaud. Walaupun demikian kelestariannya mesti dijaga karena anak-anak disana sering memasang jerat untuk menjerat burung malang ini untuk dibakar dan disantap sebab sangat enak rasanya.
Masih banyak lagi burung yang cantik-cantik misalnya dalam bahasa daerah disebiot akkaru’u yang suaranya merdu dan warna bulunya sangat indah sayang saya belum tahu bahasa ilmiahnya

8

13 December 2008 12:28:57

menthil

memang uaneh tapi cuantik banget burungnya

9

30 August 2011 19:16:37

e2ra_b

kalau soal burung..si banyak juqa di p.salibabu coba aja di survey sekalian lautnya..yaaah..indah banget

10

24 July 2013 10:39:11

christian mamengko

Itulah mas Ijo, padahal saya yang mengumpulkan data dan informasi setelah penemuan burung itu, karena tidak beberapa lama “sang penulis” sakit parah dan pulang ke negaranya.

Ikutan Ndobos

|