Seriwang sangihe

Seribu Intan nomer 30

Burung ini tadinya dikira sudah punah, habis. Tidak ada kabarnya lagi sejak pertama kali ditemukan oleh Meyer tahun 1878 di dekat Tabukan (sekarang Tabukan lama) di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Ada beberapa kali laporan mengenai ditemukannya kembali burung ini, tetapi semua diragukan. Misalnya “penemuan tahun 1978” di lereng Gunung Awu di Pulau Sangihe. Lha Gunung Awunya baru meletus tahun 1966, hutannya masih gundul, gimana caranya itu burung bisa ada di sana?

Upaya pencarian yang dilakukan beberapa kali semua pulang dengan tangan kosong. Seratus tahun sejak pertama kali ditemukan sudah lewat, masih pada gagal juga. Akhirnya diyakini kalau burung ini sudah tinggal nama saja. Hingga pada akhir tahun 1998 dua pasang burung ini dengan dua anak dilihat di lembah Gunung Sahengbalira, Pegunungan Sahendaruman di Pulau Sangihe.

Sampeyan bisa membayangkan ekspresi wajah anak-anak muda York (Inggris) dan Menado yang tergabung dalam Action Sampiri saat melihat burung hilang itu, hilang selama seratus dua puluh tahun. Kegembiraan, kecemasan mestinya campur aduk. Lha bagaimana ndak cemas, mereka akhirnya hanya menemukan 19 ekor di lima titik lokasi di kaki Gunung Sahengbalira. Lebih cemas lagi, karena hutan di Pulau Sangihe praktis sudah habis, hanya tersisa di Pegunungan Sahendaruman saja. Hutan yang dikemudian hari dianggap sebagai hutan paling penting di Asia (mungkin juga di dunia) untuk burung. Kenapa? Sampeyan tanya saja sama kawan satu ini, dia mestinya punya banyak cerita.

Seperti juga keluarga burung sikatan lainnya, Seriwang sangihe adalah penyikat serangga yang sedang terbang. Warnanya yang biru-biru gimana gitu (mirip biru langit) membuat burung ini dalam Bahasa Inggris dinamai dengan Cerulean Paradise-flycatcher dan bernama latin Eutrichomyias rowleyi. Warna itu juga ternyata pas untuk menyamarkannya diri di rerimbunan pepohonan tempatnya mencari makan.

Sedikit jumlahnya, sedikit sisa tempat hidupnya, kumplit, IUCN lantas menggolongkan spesies yang didunia hanya dapat dijumpai di kaki Gunung Sahengbalira ini sebagai spesies terancam punah dengan kategori tertinggi, Critical. Saya hanya berharap, hutan kecil itu mampu bertahan.

Gambar diambil dari sini.

Join the Conversation

15 Comments

  1. kasian sekali burung-burung dan hutannya. kenapa ya manusia masih saja membasmi hutan yang jelas-jelas ia paham itu salah?

    (bingung….)

    perut? keserakahan?

  2. sir mbilung bekerja di perburungan ya ?
    suka juga donk mengamati migrasi burung2 di daerah puncak bogor?

    lha jalur itu dulu saya yang nemu kok  😀

  3. iihhh…cakep ya burungnya…seumur2 baru liat burung biru muda…keren! tapi lebih keren lagi orang2 yang bisa nemuin burung ini….uh, kebayang senengnya!

    yang nemu keren, burungnya cakep. burung yang nemu?

  4. saya lebih suka jenis yang ada jambulnya, nyanyiannya merdu dan kicauannya lucu, saya punya satu tapi ndak tahu apa namanya….. sir mbilung tahu??

    lha fotonya mana?

  5. Yang gak boleh dilupakan adalah orang yang pertama nemuin burung ini setelah seratus tahun tak terlihat. Namanya Om Niu (Anius Dadowali). Dialah yang pertama kali melihat seriwang sangihe saat mencari air untuk tim peneliti di salah satu lembah di Sahengbalira. Untuk menghormatinya, nama daerah untuk burung ini adalah “Manuk Niu”. Thank you kang, it reminds me of something I’d like to do about the local islanders.

  6. Mengingatkan saya saat-saat yang paling menyenangkan selama pengembaraan mencari burung di atas Sahengbalira, hmmm…
    tak akan pernah terlupakan.

  7. kasian ya…

    q anak sangihe tp lahir n besar d perantauan???

    qt hrs bktiin k’lo alam it shbat qt

    qt babat, mrka marah..

    qt syang, mrka jg syang..

    iy g??

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *