Salju, Fettucini dan Sate

Saya teringat akan salju. Iya …. salju, bukan es, dua benda yang berbeda dan keduanya memancing reaksi yang berbeda pula. Saya ingat, jika salju turun, saya menghambur keluar rumah, jingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Walaupun ujung-ujungnya mengumpat dahsyat jika lapisan salju tebal lantas menutupi pintu di depan rumah. Sementara, jika es yang datang dari langit, saya ngumpet sembari was was akan nasib genteng dan kaca jendela.

Kecuali di Papua, rasanya tidak ada salju di Indonesia. Entah datang dari mana kata “salju” itu di Bahasa Indonesia. Menurut Wikipedia kata salju berasal dari Bahasa Arab, tsalji. Dalam Bahasa Melayu, benda tersebut disebut salji. Tidak, saya tidak akan ndobos soal asal muasal kata atau soal salju.

Pekerjaan saya menuntut saya untuk sering bepergian. Beberapa dari perjalanan tersebut ada yang bisa saya nikmati. Saya menikmatinya jika saya bisa melakukan eksplorasi. Apa saja, mulai dari makanan, cuaca, pemandangan, tingkah orang. Lantas saya membaca sebuah tulisan pendek di majalah ini yang baru saya terima. Betapa benarnya tulisan itu. Imitation Destinations, begitu judulnya.

Betapa gabungan uang dan teknologi mampu menghadirkan apa-apa yang dulunya harus diraih secara susah payah. Walaupun saya mbatin, lha untuk dapat uangnya toh juga harus susah payah. Dituliskan bagaimana orang di Timur Tengah pada bulan Juli yang kangen dengan salju dan hendak meluncur di salju, ndak usah jauh-jauh pergi, ada Ski Dubai. Sama halnya dengan Snow City di Singapura. Lokasi dan musim tidak lagi ada pengaruhnya.

Pada skala yang lebih kecil, saya pernah melihat papan iklan untuk mainan salju di Bandung. Atau yang umum dijumpai ya tempat makan. Di Indonesia ada rumah makan yang menyediakan makanan Cina, Italia, India, Yunani atau makanan dari Timur Tengah. Penyesuaian biasanya dilakukan pada racikan agar pas dengan lidah lokal, begitu juga dengan porsinya. Maka bagi saya fettucini pesto alla genovese Jakarta lebih enak dan pas kenyangnya dari pada fettucini yang sama di Genoa.

Imitation destination? ah, selama masih bisa dinikmati ya biarkan saja. Walaupun toh kadang menggelikan juga jika direnungkan, tetapi apa yang salah dengan salju di Dubai, restoran padang asli nguling atau sate madura. Eh, sebentar, soal sate madura, apa iya di Madura ada sate seperti itu?

Join the Conversation

14 Comments

  1. di Jogja malah baru ada itu Snow World.. nyobain ngerasain salju.. 😀

    di Madura, ndak ada itu Sate Madura.. Adanya Sate Ayam.. Kalo Madura disate, sunduknya segede apa?

  2. Emang masakan asing lebih enak kalo di-indonesiakan.. contohnya saya lebih suka pizza hut yang di Indo, dari pada yang disini.. Ayam kentaki di Indo jega lebih mantab daripada disini… malahan spagetti ala si mbok di rumah rasanya belih dasyat daripada spagetti yang kemarin aku makan di salah satu restoran itali dengan koki yang orang itali juga….!

  3. Gak ada Pak Dhe. Di Madura gak dikenal tuh Sate Madura… (yang pernah kecele muter2 keliling pulau nyariin sate Madura)

    Btw, kalo Hanami, bisa di imitasi gak? :p

  4. Di Kew Garden ada bagian taman tropis, inget gak mas? rasane yo.. sumuk…. imitasi? saya kadang bingung kalo nyari sesuatu yg dibilang asli itu yang kayak apa ya….

  5. yang jual sate madura podo boyongan dodolan nang nggon liyo, sir. jadi dah gak ada lagi di sana 😀
    merdeka ?, emangnya kita dah merdeka po ? *nyolot oleh kikod*

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *