Bubut jawa

Ada cerita yang konon-konon begitu tetapi sadis. Carilah anak burung bubut yang baru menetas, patahkan kakinya, tinggalkan barang beberapa hari, datangi lagi, itu kakinya sudah sembuh, patahkan lagi. Ulangi beberapa kali, lantas bunuh burungnya, lalu rendam dalam ramuan. Manjur untuk obat patah tulang. Apa betul begitu, ya ndak tahu juga saya. Saya ndak tega untuk mencobanya.
Cerita kali ini adalah mengenai burung bubut yang hanya diketahui ada di Pulau Jawa, Bubut jawa namanya, Centropus nigrorufus. Ukurannya lumayan besar, 46 cm. Berwarna gelap, kepala, punggung, paruh, kaki serta ekornya berwarna hitam mengkilat, sayapnya coklat dan matanya merah menyala. Baunya juga khas, ndak enak gimana-gimana gitu.
Walaupun rupa, bau dan suaranya tergolong ndak menarik tetapi ya pernah juga saya melihatnya dijual di pasar burung. Mungkin burung nahas yang tertangkap pemburu burung yang kepepet untuk dapat uang. Tidak tahu juga saya, apakah pada akhirnya ada orang yang membelinya.
Bau khas burung ini mungkin bersumber dari makanannya. Dalam soal makanan, burung ini bukanlah burung yang pemilih. Serangga, siput, kelabang, kepiting kecil, telur burung, katak dan ular pohon disantapnya. Hanya saja walaupun apa-apa disantap, untuk tenpat tinggal tampaknya burung ini pemilih. Bubut jawa memilih daerah berawa-rawa di pinggir pantai sebagai tempat hidupnya. Celakanya daerah seperti ini menarik untuk diuruk, direklamasi.
Saya ingat pertama kali melihat burung ini di Muara Angke, Jakarta. Rawa-rawa di tempat ini sekarang sudah nyaris habis berubah menjadi pemukiman. Kabarnya masih ada beberapa ekor Bubut jawa yang tersisa di Muara Angke. Di luar Jakarta saya masih menemukannya dalam jumlah yang bisa dibilang banyak di sekitar Muara Gembong, Muara Cimanuk. Sejumlah kecil pernah saya lihat juga di Ujung Pangkah dan di Lumajang Selatan. Kabarnya di Tanjung Sedari dan di Semarang juga masih bisa dijumpai.
Makin sempitnya tempat hidup Bubut jawa dianggap sebagai ancaman utama untuk kelangsungan hidup jenis burung ini. IUCN memasukan jenis ini ke dalam daftar jenis burung yang terancam punah dengan status Rentan (Vulnerable). Suara, rupa dan bau boleh saja tidak sedap, tetapi bukan berarti jenis ini lantas boleh dienyahkan.
Foto © Craig Robson (Birdquest), diambil dari sini.
13 orang ikut ndobos
29 June 2007 02:46:22
kw
setuju. karena dia pasti punya peran.
29 June 2007 08:56:56
pitik
koyo gagak yo pakdhe…
29 June 2007 09:02:54
sing ora ngeh bab burung
akhirnya Ujung Pangkah ke sebut juga, sir.
Kog yang saya tau di sana cuma burung2 putih yang macam bangau itu toh ?
29 June 2007 09:17:10
didi
mbedain nya sama gagak gimana pakde?
29 June 2007 13:13:12
Hedi
Habitatnya di rawa? Apa berarti bisa juga di daerah persawahan yang banyak airnya?
29 June 2007 13:16:11
rime
oh, dia ada di muara angke toh… kok dulu saya ga nemu ya?
btw, ini burung yang suaranya “but.. but.. but…” itu kan?
29 June 2007 13:58:51
yati
patah tulang ya ke tukang urut…
lho? ga nyambung ya?
29 June 2007 19:03:19
r3
Ya ampun… sadis amat!… kadang manusia suka semena-mena gitu deh…
29 June 2007 21:04:03
tito
lho kalau kakinya patah ya dibawa ke tempat saya.
Keywordku, pas banget:”terapikomik”
30 June 2007 11:13:41
-tikabanget-
iya e, sayah kira tadi gagak..
30 June 2007 14:22:00
aribowo
bisa nyembuhin patah tulang, udah yang pernah nyoba lum?
tapi beneran tuh burung jika kakinya di patahin bisa tumbuh lagi kakinya?
05 July 2007 11:00:33
bumisegoro
burung ini yg dipake maskot jakarta bukan sih kang?
08 September 2008 12:14:19
Taufik Katamso
Thanks infonya bro!