Bubut jawa

Seribu Intan nomer 32

Ada cerita yang konon-konon begitu tetapi sadis. Carilah anak burung bubut yang baru menetas, patahkan kakinya, tinggalkan barang beberapa hari, datangi lagi, itu kakinya sudah sembuh, patahkan lagi. Ulangi beberapa kali, lantas bunuh burungnya, lalu rendam dalam ramuan. Manjur untuk obat patah tulang. Apa betul begitu, ya ndak tahu juga saya. Saya ndak tega untuk mencobanya.

Cerita kali ini adalah mengenai burung bubut yang hanya diketahui ada di Pulau Jawa, Bubut jawa namanya, Centropus nigrorufus. Ukurannya lumayan besar, 46 cm. Berwarna gelap, kepala, punggung, paruh, kaki serta ekornya berwarna hitam mengkilat, sayapnya coklat dan matanya merah menyala. Baunya juga khas, ndak enak gimana-gimana gitu.

Walaupun rupa, bau dan suaranya tergolong ndak menarik tetapi ya pernah juga saya melihatnya dijual di pasar burung. Mungkin burung nahas yang tertangkap pemburu burung yang kepepet untuk dapat uang. Tidak tahu juga saya, apakah pada akhirnya ada orang yang membelinya.

Bau khas burung ini mungkin bersumber dari makanannya. Dalam soal makanan, burung ini bukanlah burung yang pemilih. Serangga, siput, kelabang, kepiting kecil, telur burung, katak dan ular pohon disantapnya. Hanya saja walaupun apa-apa disantap, untuk tenpat tinggal tampaknya burung ini pemilih. Bubut jawa memilih daerah berawa-rawa di pinggir pantai sebagai tempat hidupnya. Celakanya daerah seperti ini menarik untuk diuruk, direklamasi.

Saya ingat pertama kali melihat burung ini di Muara Angke, Jakarta. Rawa-rawa di tempat ini sekarang sudah nyaris habis berubah menjadi pemukiman. Kabarnya masih ada beberapa ekor Bubut jawa yang tersisa di Muara Angke. Di luar Jakarta saya masih menemukannya dalam jumlah yang bisa dibilang banyak di sekitar Muara Gembong, Muara Cimanuk. Sejumlah kecil pernah saya lihat juga di Ujung Pangkah dan di Lumajang Selatan. Kabarnya di Tanjung Sedari dan di Semarang juga masih bisa dijumpai.

Makin sempitnya tempat hidup Bubut jawa dianggap sebagai ancaman utama untuk kelangsungan hidup jenis burung ini. IUCN memasukan jenis ini ke dalam daftar jenis burung yang terancam punah dengan status Rentan (Vulnerable). Suara, rupa dan bau boleh saja tidak sedap, tetapi bukan berarti jenis ini lantas boleh dienyahkan.

Foto © Craig Robson (Birdquest), diambil dari sini.

Join the Conversation

22 Comments

  1. oh, dia ada di muara angke toh… kok dulu saya ga nemu ya?

    btw, ini burung yang suaranya “but.. but.. but…” itu kan?

    iyah, suaranya begitu deh tapi suka ketuker sama Bubut alang-alang.

  2. tidak sadarkah anda atas tulisan yang anda muat ini. kalo kita tau info dari kawan2 yang konsen untuk meneliti bubut jawa, jenis burung ini terbilang langka. bahkan menurut kawan-kawan JGM d SMMA hanya tinggal 4-6 ekor saja. klo ada orang yang iseng dan mencoba apa yang anda sampaikan, hitungannya bukan hanya 10 tahun jenis ini akan punah. 1 tahun kedepan jenis ini mungkin sudah punah. renungkanlah mas.

  3. Wah,saya selama ni dari 0 sampai 17thn cuma lihat 6x bos,saya tinggal d dekat jembatan Karanggeneng, Lamongan, Jawa timur

  4. kebetulan tmnku nemukan 3 anakan bubut, tp dy dptnya di pegunungan. trs q piara, smp skrng udh besar.satu mati krn duel. wkt kecil q ksih makan tahu ama por. skrng hrs daging ayam atw jangkrik.

Leave a comment

Leave a Reply to r3 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *