Jun 7 2007 - 09:50
Sablayan adalah nama kota kecil di tepi pantai yang juga merupakan ibu kota Kabupaten (Municipality) bernama sama yang terletak di Propinsi Occidental Mindoro, Pulau Mindoro, Philippina. Sebagai sebuah municipality, Sabalayan adalah municipality terluas di seantero Philippina (218.880 ha) dengan jumlah penduduk kurang dari 65 ribu jiwa (sensus tahun 2000). Pertanian adalah sektor penting di Sablayan yang menjadi sumber penghasilan utama municipality ini. Pariwisata walaupun belum berperan besar, tampaknya akan menjadi andalah di masa depan untuk municipality ini. Sabalayan merupakan pintu gerbang untuk menuju Apo Reef yang merupakan tempat menyelam tersohor itu, yang tentunya dibanjiri turis yang hobi menikmati keindahan alam bawah laut.
Lha kan ….. gaya bertutur seperti di atas itu mengingatkan saya pada guru ilmu bumi saya di SMP. Tapi ya begitu itu gaya bertutur Eduardo Gadiano (Pak Ed), sang Wakil Bupati Sablayan. Saya mengenal Pak Ed sejak tahun 2004, ketika dia datang berkunjung ke Indonesia. Kami melancong bersama ke Sumba, Bali dan Menado. Saya berjanji pada Pak Ed, suatu saat nanti saya akan datang ke Sablayan. Janji itu sudah saya penuhi, dan saya masih ingin kembali lagi.
Continue Reading
8 Comments
Jun 6 2007 - 00:01
Sudah lama sebetulnya saya ndak klayaban di hutan tropis, apalagi pakai acara naik gunung. Namun begitu saya masih ingat, walaupun samar, rasanya tergores duri rotan dan daun pandan hutan, atau bagaimana jengkelnya ditempeli pacet. Belum lagi kelembaban tinggi yang membuat badan basah seperti habis nyemplung di kali.
Mengingat-ingat hal-hal tidak nyaman tersebut, malam itu saya memutuskan untuk tidak ikut saja ke hutan di Gunung Siburan. Apalagi ini tidak sekedar mendaki, tetapi juga mencari jalur penelitian (transek) lama dan membuat jalur baru. Saya lalu memutuskan untuk mengajari saja teman yang biasa nyelem itu (dia spesialis biologi laut sebetulnya) bagaimana cara menggunakan alat Global Positioning System (GPS) dan pernak-perniknya.
Continue Reading
20 Comments
Jun 5 2007 - 07:37
“Dari Indonesia, kamu harus menanam pohon di sini sebelum pulang. Kita bikin acara penghijauan saja pada hari terakhir kalian di sini” begitu ujar Bapak Kepala Penjara, Mario Trasmonte, pada saat saya memperkenalkan diri di hari pertama kunjungan kami ke Sablayan Prison and Penal Farm (SPPF). Penghijauan? Lha baru ini, biasanya saya kalau bertamu disuguhi kambing guling.
Saya pikir tadinya dia hanya bercanda saja, atau paling-paling hanya ada satu pohon yang harus ditanam dan yang harus menanam itu saya. Lha kok ndilalah yang mau ditanam ternyata lebih dari 1000 pohon. Yang mau menanam sebanyak itu siapa? “Saya punya banyak narapidana” Pak Mario berujar sembari nyengir. “Nanti kita tanam di bukit gundul di Sub-Prison Pasugui saja”.
Continue Reading
13 Comments
Jun 4 2007 - 11:44
Saya ndak tahu apa sebetulnya kesalahan mereka dan mereka juga hanya senyam-senyum setiap kali saya tanya, atau paling-paling jawaban yang diberikan juga ndak jelas. Paling tidak sudah 14 tahun mereka ada di penjara ini, dan mereka adalah “penyanyi resmi” penjara. Sejak masih bebas dulu mereka juga selalu bertiga dan selalu menyanyi bersama di kampungnya.
Begitulah, hampir saban malam mereka bersama kami di perkemahan kami di pinggir Danau Libuao di kaki Gunung Siburan, menyanyi bersama hingga larut malam sampai mobil penjara menjemput mereka untuk kembali ke sel.
Continue Reading
13 Comments
Jun 3 2007 - 18:50
“Mereka membunuh ayah dan adik saya di depan mata saya, tetapi mereka melakukan kesalahan besar, karena mereka tidak membunuh saya. Masalah sebetulnya hanya soal batas tanah, tetapi mereka membunuh keluarga saya dan sudah menjadi tugas saya untuk membalas kematian itu. Saya membunuh bukan karena saya ingin membunuh ….. saya harus membunuh”.
Kawan baru saya itu, sebut saja namanya M, bercerita mengapa dia masuk penjara, sesekali dia mengayunkan golok memotong ranting-ranting kayu untuk api unggun. Sesekali sipir penjara pengawal kami ikut membantu, senapan M 4 masih terselempang di dadanya, dengan kunci pengaman senjata diset “semi”. Kami sedang berkemah di tengah hutan Siburan, setelah seharian tadi bekerja membuat jalur penelitian.
Continue Reading
9 Comments