Dua Puluh Tahun (2)

Ada beberapa kejadian menyenangkan (bagi pelaku) tetapi ngeselin (bagi korban kelakuan pelaku) pada dua puluh tahun yang lalu itu. Pada waktu itu peserta ekspedisi dibagi dalam tiga kelompok, para panitia (mereka menamakan dirinya staff … entah kenapa), para peneliti dan kelompok yang paling besar dinamai oleh panitia sebagai venturer. Para venturer sendiri ada yang menamai kelompok besar ini gerombolan biang panu, belatung nangka dan beberapa nama “kurang sedap” lainnya. Saya ada di kelompok kurang sedap itu.

Para panitia tentunya menampilkan citra garang dan berwibawa, maunya begitu. Paling tidak sikap begitu dipertontonkan selama dua belas hari kami di Cibubur. Untuk menggembleng mental dan fisik, begitu kata mereka. Sementara kelompok biang panu, yang dianggap mental dan fisiknya perlu dibenahi itu cengengesan, banci foto dan biang keonaran. Begitulah hampir saban hari, bahkan saban saat, acara yang mestinya berlangsung tertib malah jadi ajang ngakak. Kalu sudah begini, entah siapa yang mentalnya perlu diperkuat.

123.
Saban pagi, para venturer dibangunkan pada saat ayam aja masih males berkokok. Berbaris dengan ransel penuh muatan batu bata. Lantas, acara berhitung model tentara dimulai. “Kakak panitia” ganas berteriak memberi aba-aba “berhituuuuuung …. mulai“. Belum sempat hitungan dimulai, ada yang langsung pindah posisi ke nomor empat, barisan kacau sebentar. Aba-aba diulangi dan hitungan di mulai “satu … dua … tiga” tegas dengan keras. Orang keempat melanjutkannya dengan nyanyian 123-nya Farid Hardja dan Ahmad Albar sambil joget-joget riang. “telah tiba kini saatnya, kita nyanyi bersama-sama ….” yang lain tanpa diminta ikut joget sambil nyanyi juga. Vox populi, vox dei …. kakak panitia bengong aja deh i.

Dibacok saja kok marah.
Kelakuan venturer yang ngeselin sangat beragam bentuknya. Dari mulai berkurangnya jumlah peserta lari pagi pada saat putaran ke dua, tetapi lengkap kembali pada putaran akhir (kegunaan lain dari wc umum, buat tempat ndelik), nyolot “emang kita atlet? kita pan artis” pada saat disuruh jalan jongkok sambil nggendong ransel, sampai lari pagi yang berhenti sejenak karena ada kamera siap jepret. Belum lagi makanan yang selalu habis sebelum “kakak panitia” mendapat giliran makan.

Malam itu semua venturer dikumpulkan di tenda besar. Kata-kata nasehat berbumbu ancaman mengalir lancar dari “kakak panitia”, menasehati adik-adiknya yang bengal. Seorang panitia, sebut saja nona C, dengan nada tinggi berkata bahwa mereka sedang berusaha keras untuk menaikan kemampuan fisik dan memperkuat mental kami. Nona C masih ngos-ngosan dan kelihatannya belum selesai dengan wejangannya. Ditengah ada yang bersenandung dangdut “lhooo …. dibacok saja kok maraaaah” menirukan lagu dangdut yang ngetop saat itu. (lirik aslinya: lho begitu saja kok marah, lho begitu saja kok keki, padahal cuma bercanda, mengapa diambil hati. Sampeyan ada yang tahu itu lagu judulnya apa?)

Kalau sudah begini, yang lain ikut nyanyi sambil joget-joget juga. Maka tinggalah sang “kakak panitia” berwibawa tadi ujug-ujug berurai air mata, kesal, jengkel, sedih … mbuh. Lantas, untuk sesaat terjadi saling tuding di antara para venturer, “elo sih … elo sih“, buntutnya “yaaah nangis, gak asik, balik aja yuk“, peserta bubar tanpa diminta, kembali ke tenda masing-masing, sambil masih melantunkan lagu “lhooo dibacok saja kok maraaaaah“, dengan volume besar.

Cuci tangan.
Peserta akhirnya diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Periuk menuju Ambon dengan menggunakan kapal Rinjani milik PELNI pada tanggal 15 Juli 1987. Turut melepas keberangkatan beberapa pejabat tinggi dan rada tinggi negara saat itu. Petinggi paling tinggi itu Bapak Mentri Pemuda dan Olahraga. Beliau menerima laporan soal rencana ekspedisi dan lantas memberi kata sambutan. Selesai tugas Pak Mentri? Belum.

Peserta menaiki tangga kapal, Pak Mentri berdiri di dekat tangga lantas menyalami para peserta ekspedisi, satu per satu (kalau satu per dua malah medeni) ndak perduli kalau itu berarti peserta harus menaruh dulu barang tentengannya yang ndak enteng itu.

Tiba di kapal, tujuan pertama saya adalah kamar mandi. Sudah ada banyak teman di situ ternyata, sedang cuci tangan sembari senyum-senyum tahu sama tahu. Ada yang nyeletuk “pada buang sial ya?

Kami akhirnya tiba dengan selamat di Ambon pada tanggal 19 Juli, setelah meninggalkan kehebohan-kehebohan kecil di Surabaya, Makassar dan Bau-Bau.

Join the Conversation

12 Comments

  1. “meninggalkan kehebohan-kehebohan kecil di Surabaya, Makassar dan Bau-Bau.”, apa ya, cerita po o….

  2. Aduh itu poto, apalagi yang paling kanan, serta ketiga di bawah dari kanan… ampuun mak… gayanya jadul pisan.

    Saya melihat sekali, bengong.
    Liat kedua kali, nggak percaya, trus mencoba ngeklik poto, saya kira bisa diperbesar (*ternyata saya salah*)
    Liat ketiga kali, sumpah ngakak. Ternyata, emang poto jadul. Dengan gaya yang jadull. Cihuuyy marihuyyy.

    Aduh potonya, memble aje… tapi kece.

    hihi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *