1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Dua Puluh Tahun (3)

Kami semua tiba di Seram tanggal 20 Juli 1987, tepatnya di Air Besar, tidak jauh dari Wahai di bagian utara Pulau Seram, setelah semalaman dijejal dalam formasi sarden di 3 kapal kecil yang membawa kami dari Ambon. Maka beratus orang dari 14 negara yang praktis asing satu dengan lainnya -kecuali peserta Indonesia yang sempat berkumpul bersama selama 12 hari di Cibubur dan 4 hari di kapal Rinjani- memulai petualangan (dan penelitian) nya di tempat yang asing.

Ada banyak perbedaan di antara kami, ya bahasa, budaya, cara pandang, cara hidup, kepercayaan dan entah apa lagi. Konflik jelas ada, walaupun semua bisa diselesaikan dengan baik. Menurut saya, pada akhirnya ada lebih banyak kenangan bagus yang hingga sekarang masih diingat lumayan baik. Berikut beberapa kenangan itu:

Indonesia - Inggris : 2 - 0
Ya, itu hasil akhir pertandingan sepak bola dalam rangka tujuh belas agustusan. Pertandingannya berlangsung di lapangan sepak bola Desa Manusela. Menyadari lawan berbadan jauh lebih besar, tim Indonesia yang diperkuat oleh beberapa pemuda dari Desa Manusela bermain dengan sangat taktis dan cerdik serta sangat mematuhi instruksi pelatih: “Nyong … bola bole kasi lewat, tapi mister seng boleh lewat“. Hasilnya, bukan hanya kalah, para pemain Inggris juga babak belur. Sangat Indonesia sekali cara bermain bolanya.

Malu-Malu.
Sering kali kami harus menggunakan tenaga porter untuk mengangkut perbekalan karena tempat penelitian yang agak jauh dari camp induk. Porter ini entah makannya apa, jalan di hutan seperti Gundala Putra Petir sedang kebelet cari wc. Berkali-kali kami ketinggalan. Kalau mereka merasa kami sudah cukup jauh tertinggal, mereka berhenti menunggu. Pada saat kami berhasil menyusul mereka di tempat mereka beristirahat, mereka langsung bangun dan berangkat lagi sambil berteriak “bajalan malu-malu he?!!” (elo-elo pade jalannya pelan banget).

Parlente Ose.
Namanya anak kota kok disuruh ngupas kelapa, ya gayanya aneh. Bapak Raja Desa Manusela tidak tahan melihat cara salah yang dipakai anak-anak kota mengupas kelapa. Bapak Raja lantas mengambil parang dan menunjukan cara yang benar. “Begitu sudah” kata Bapak Raja sesudah mempertontonkan cara yang benar tersebut. Dasar anak jahil “eh…bagaimana tadi Bapak Raja, coba tolong ulangi lagi” sambil menyodorkan kelapa yang lain. Selesai dua, yang ketiga datang “sekali lagi Bapak Raja“. Tiga selesai, begitu kelapa keempat diserahkan, Bapak Raja lantas membacokan parang sambil melirik dan berujar “Parlente ose” (tukang tipu kamu).

Bangunan Sekolah.

Ada yang dirasa kurang oleh para anak-anak kota ini begitu melihat kondisi bangunan sekolah di Desa Manusela yang terbuat dari pelepah, daun dan kulit batang sagu. Maka para mahasiswa arsitektur dan sipil merasa inilah saat yang tepat untuk unjuk kebolehan. Gambar dibuat, semen, batu dan pasir dihitung, kumplit. Masalahnya, perlu waktu tiga hari jalan kaki turun ke kota di pantai untuk beli semen. Namanya niat baik, ya dilakoni juga itu bolak-balik ngangkut semen.

Entah karena berasal dari perguruan tinggi berbeda atau memang dasarnya jagoan teori, bangunan itu kok ya lama rampungnya. Orang-orang desa hanya menonton saja sambil senyum-senyum. Pada akhirnya bangunan itu jadi. Kabarnya, setelah jadi, bangunan itu tidak dimanfaatkan untuk sekolah …. ndak ada yang berani masuk ke dalam bangunan itu, takut rubuh katanya.

Mbok ya lain kali kalau mau bikin apa-apa itu tanya-tanya dulu sama orang situ, apa iya mereka perlu bangunan itu?

Tanah dan Batu.
Para peneliti tanah dan geologi membuat jalur transek gila-gilaan, dari mulai dataran rendah sampai puncak gunung dibuat jalur untuk mengambil sampel tanah dan batuan. Sampel diserahkan kepada para porter untuk dibawa dengan ransel. Pada akhirnya pengambilan sampel selesai, dan team peneliti kembali ke Camp Kanikeh yang dilengkapi dengan laboratorium lapangan sederhana. Siapa sangka setibanya di camp, itu ransel sampel kosong tidak ada isinya. Rupanya para porter berpikir buat apa mengangkut tanah dan batu, toh di dekat desa juga banyak tanah dan batu. Lantas pengambilan sampelnya bagaimana? …. ya di ulangi lagi … gitu saja kok repot.

Jamban.
Sungai harus bersih, buang air kecil dan besar tidak boleh di sungai. Maka Camp Kanikeh lantas melengkapi diri dengan jamban sederhana berlubang dalam. Air boleh bawa dari sungai, pake toilet paper atau daun juga boleh, tergantung kebiasaan saja. Ada dua papan sebagai tempat pijakan. Harus hati-hati juga, jika terburu-buru ada resiko terpeleset yang akibatnya kok ya agak-agak mengerikan.

Maka, ketika pada suatu malam terdengar teriakan panik minta tolong dari jamban, hampir semua orang di camp berlari kencang menuju jamban. Ada pula yang ngakak membayangkan apa yang terjadi sehingga terlambat lari.

Tiba di jamban, sang peneriak ternyata tidak ada di dalam lubang, dia masih berdiri gagah di depan jamban. Apa pasal dia berteriak. Dia hanya menunjuk lubang jamban yang sekarang terang benderang. Lampu senternya ada di dalam lubang.

16 orang ikut ndobos

1

Gravatar

06 July 2007 03:16:36

r3

hahaha.. JADUL Bgt.. jaman segitu pastinya frame ranselnya masih diluar ya…?!…

2

Gravatar

06 July 2007 08:00:22

zam

heheh.. mantab, pakde..

membaca cerita njenengan, membuat saya bisa merasa seolah-olah terlempar ke masa silam..

3

Gravatar

06 July 2007 09:24:06

djokosantoso

Bos fotonya itu loh … gak nguatin … jadul bangettttt lucu aja lihatnya, model rambut, celana, hasil fotonya … kekekekek

4

Gravatar

06 July 2007 10:38:44

pitik

pak dhe, mbok potonya digedein…

5

Gravatar

06 July 2007 11:24:34

iway

gelar tikar, nyiapin snack ama minum **kayaknya bakal bersambung terus nih** :D

6

Gravatar

06 July 2007 12:10:46

Riyogarta

Mantab foto-fotonya.
Jadi kangen jaman-jamannya sering naik gunung :(
**foto-foto ku jaman itu ada kemana ya? Cari ahhhh

7

Gravatar

06 July 2007 12:59:07

trie

Itu porter dan bapak raja, mestinya teriak aja dengan kalimat yang sama : “ose ne paling pastiu, he”
hahahaa…
*jadi kangen ama natsepa, tapi emoh balik ke sana…takutttt*

8

Gravatar

06 July 2007 14:26:32

yati

wakakakaka….ga bisa comment lagi…., parlente, sinting!

9

Gravatar

06 July 2007 14:45:23

kw

:) lucu, mengharukan. di foto itu sir mbilung yang mana ya?

10

Gravatar

06 July 2007 17:08:41

mbahatemo

orang keempat itu sampeyan kah?

11

Gravatar

06 July 2007 17:59:38

qq

Wah, ternyata ini sebagian kecil dari sejarah hidupnya Pakde ya? Hebat, masi nyimpen foto-foto jaman baheula …. tapi Pakde yang sebelah mana ya? hehehehe

12

Gravatar

06 July 2007 20:50:33

venus

hihihi…kereeeeennnn…

13

Gravatar

06 July 2007 21:01:49

mariskova

Sepak bola gaya Indonesia? hahahahahaha…. liat filmnya dwongg

14

Gravatar

06 July 2007 21:59:17

Hedi

Indonesia 2-0 Inggris? wah perlu dimasukkin ke wikipedia nih :P

15

Gravatar

07 July 2007 10:59:57

fitri mohan

huwaduhhhh, lampu senternya…..

16

Gravatar

09 July 2007 15:49:25

bangsari

Tiba di jamban, sang peneriak ternyata tidak ada di dalam lubang, dia masih berdiri gagah di depan jamban. Apa pasal dia berteriak. Dia hanya menunjuk lubang jamban yang sekarang terang benderang. Lampu senternya ada di dalam lubang.

benar benar ajaib. moso beol senter? :D

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya