Dua Puluh Tahun (4)

Beberapa masalah utama bagi para anak kota dalam berpetualang dan meneliti di alam bebas tidak jauh dengan urusan perut, beberapa ada yang menjadikan perawatan penampilan sebagai masalah, tetapi itu jumlahnya kecil saja. Urusan perut itu sebenarnya lebih ke isi perut dan urusan pembuangannya. Air untuk cuci-cuci lubang keluar sebenarnya bukan barang langka selama ekspedisi, tetapi menjadikan sungai sebagai jamban bisa rame urusannya karena penduduk desa sangat menjaga kebersihan sungai. Maka beberapa kejadian seputar makan dan buang-buang bisa menjadi cerita tersendiri.
Makan.
Sebetulnya makanan ransum yang diberikan selama ekspedisi itu secara kalori sudah amat sangat mencukupi, agak berlebih malah. Makanan-makanan berkalori tinggi yang memang diramu untuk ekspedisi seperti ini biasanya bervolume kecil. Jangan tanya soal rasa, improvisasi bisa dilakukan. Makanan juga dikemas dalam bungkus relatif kecil dan mudah disiapkan untuk disantap …. tinggal tuang air panas saja.

Bagi para venturer Indonesia, soal rasa dan tekstur makanan bukan masalah, lha wong karung bergigi semua gitu kok. Masalahnya adalah volume, kurang banyak, amat sangat kurang banyak. Berhubung yang namanya perut susah dikendalikan maunya, maka menggangsir gudang makanan adalah keahlian sampingan yang dipelajari dalam waktu singkat dan dengan hasil sangat memuaskan oleh para venturer Indonesia. Satu porsi makanan yang sebetulnya sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, terpaksa harus dikali tiga agar memenuhi syarat kenyang.Pada akhir ekspedisi, bisa dikatakan semua venturer Indonesia mengalami kenaikan berat tubuh minimal 5 kg. Saya sendiri naik 12 kg. Kalau sudah begini masalah lain timbul. Pada masa-masa akhir ekspedisi, setahu saya tidak satupun yang bisa mengancingkan celananya dengan lengkap, mesti saja ada kancing yang terbuka (sudaaah … ndak usah dibayangkan).
Hal sebaliknya terjadi pada para venturer non-Indonesia. Mereka pulang dengan berat badan yang jauh berkurang. Entah karena kurang kreatif atau terlalu berani bereksperimen perut mereka malah berantakan jadinya.
Dahulu ada cerita olok-olok soal rebung, bambu muda yang enak dimakan. Bambu muda saja enak, apalagi yang tua. Mana pernah terbayangkan oleh saya kalau yang begini ini bisa terjadi di alam nyata. Adalah seorang venturer asal Swiss yang kepergok sedang asik mencoba menggerogoti bambu. Mungkin orang Swiss satu ini memang turunan rayap atau panda.
Buang-Buang Bermasalah.
Kodratnya barang yang masuk mulut lantas ke perut untuk dicerna itu ya harus dikeluarkan lagi lewat jalan lain. Menggali lubang di tengah hutan sambil berbekal seember kecil air atau toilet paper untuk bersih-bersih diakhir proses harus dilakukan untuk melaksanakan hajat yang satu ini. Jangan coba-coba buang-buang secara sembarangan di dekat sumber air atau di dekat sungai. Bisa berurusan dengan parang.

Jika hajat sudah tak tertahankan, air tiada ada di dekat-dekat lokasi dan toilet paper juga tak tersedia, daun adalah perangkat andalan. Hanya saja, kekurang tahuan akan jenis-jenis tumbuhan bisa berakibat mengerikan.
Alkisah seorang venturer asal Jepang berada dalam kondisi kepepet begitu. Ada daun cukup lebar yang dijumpainya, yang lantas dipetiknya … beberapa. Hajat selesai, daun-daun beraksi. Beres. Hanya saja itu daun yang dipakai adalah daun dari tanaman sejenis pulus atau jelatang. Daun tanaman ini jika tersentuh kulit rasanya … makdirabit, campuran antara panas, gatal dan perih yang luar biasa, dan itu bisa bertahan hingga berhari-hari. Paling tidak selama seminggu, Jepang malang satu itu hanya bisa tidur tengkurep, belum kaing-kaingnya kalau kesenggol.
Jika acara buang-buang harus dilakukan di sekitar pantai, tempat paling ideal adalah di pasir, gampang digali dan gampang ditutup. Apalagi jika banyak lubang kepiting, pekerjaan menggali bisa dikurangi. Hanya saja, pemilihan kontur pantai dan jadwal pasang surut harus dicermati terlebih dahulu. Pantai yang landai berpemandangan indah memang tampaknya cocok sangat untuk dijadikan jamban sekali pakai.
Demi alasan keamanan maka sang penghajat tidak menghadap pantai, tetapi membelakangi pantai untuk mengamati kalau-kalau ada orang datang. Akibatnya air pasang yang datang sering kali tidak terperhatikan. Maka adalah pemandangan yang menarik melihat teman lintang-pukang dikejar ombak - dan barang buangannya sendiri (lubang belum sempat ditutup) - pada saat sedang berhajat.
11 orang ikut ndobos
06 July 2007 20:47:23
venus
lha endi foto sing nganggo hotpants???
06 July 2007 21:07:28
mariskova
Amit-amiiiiiiiiiiitttttttttttttttt………….. gue jadi ngebayangin jamban pantai diserang ombak!!!! Aaaaaarrrrgggggggghhhhhhh!!!
06 July 2007 21:45:44
endikz
wah tak kiro foto foto behain nde skine catatan si boy yen ora lupus..
06 July 2007 21:46:39
endikz
kenal karo yenni farida utowo enny beatrice ora pakdhe..???
06 July 2007 22:07:52
Hedi
Walah si endiks…takon 80-an rupane gae komen nang kene tho
07 July 2007 01:36:11
kw
memangnya tidak boleh numpang di rumah penduduk? atau memang penduduk juga melakukan hal yang sama seperti sir mbilung cs?
07 July 2007 10:19:07
zam
gyahahahahahahaha…
saya ndak bisa membayangkan ekspresi wajah si jepang yang cawik pake daun “bertuah” itu..
gyahahahahahahahah
07 July 2007 11:03:19
fitri mohan
pandanganku tentang romantisme pantai jadi agak sedikit mengalami guncangan…
07 July 2007 12:59:05
yati
wakakaka….untung saya udah makan baru baca :p
oh, daun itu…?
07 July 2007 19:33:03
sandal
wah, ternyata ada bule nggragas juga ya Pak
daun jelatang buat cawik?
wow, neraka dunia! ha.ha.ha.
09 July 2007 15:57:41
bangsari
ha ha ha ha…
moso dikejar telek?