1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Dua Puluh Tahun (5)

Ada beratus orang dari 14 negara seolah terperangkap di tengah hutan. Perbedaan bahasa, cara hidup dan cara pandang lantas menjadi bahan perbincangan yang menarik saban malam di semua camp.

Soal bahasa seharusnya tidak harus menjadi hambatan berarti, karena toh salah satu syarat mengikuti ekspedisi adalah kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Hanya saja bagi para venturer Indonesia, terutama pada saat emosi tinggi, semua perbendaharaan kata bisa bubar. Selain itu pada banyak kejadian masalah bahasa ini menjadi begitu membingungkan.

Lantas ada pula perbedaan cara hidup dan cara pandang yang kadang terasa ekstrim. Sebuah kejadian yang menurut sang pelaku ya biasa-biasa saja bisa membuat panas dingin pihak lain yang ujung-ujungnya malah membuat pihak lain itu susah tidur. Beberapa contoh kejadian berikut mungkin bisa memberi sedikit gambaran.

Bahasa.
Penduduk setempat umumnya hanya bisa berbicara dalam bahasa daerah mereka, selain bahasa itu … lupakan saja, termasuk Bahasa Indonesia. Maka, dalam acara perundingan dengan penduduk setempat bisa saja ada tiga bahasa yang harus saling diterjemahkan. Dari bahasa setempat ke Bahasa Indonesia lantas ke Bahasa Inggris, dan sebaliknya. Lost in translation tidak dapat dihindarkan. Dalam keadaan lelah kadang terjadi venturer Indonesia bertutur dalam Bahasa Indonesia kepada orang non-Indonesia dan bertutur dalam Bahasa Inggris kepada penduduk setempat yang harus menterjemahkannya ke dalam bahasa lokal.

Kadang menerangkan sesuatu kepada penduduk setempat sulit juga. Ada kejadian anak-anak di desa selalu memanggil para peserta ekspedisi dengan panggilan “mister”, tidak peduli apakah yang dipanggil itu orang asing atau bukan. Maka seorang kawan mencoba untuk meluruskan hal tersebut. Begini ujarnya “Anak-anak, yang namanya mister itu badannya tinggi, kulitnya putih, rambutnya pirang, hidungnya mancung. Mengerti anak-anak??” dan anak-anak menjawab serempak “Mengerti mister“.

Pakaian.
Satu minggu pertama di hutan, para venturer Indonesia - terutama yang laki-laki - amat sangat rajin mandi di kali. Gerah? Badan lengket karena keringat? Menyegarkan badan? Bukaaaaaaan, bukan itu. Itu para perempuan dari negara luar ternyata sangat menikmati alam Seram, jangan sampai pakaian menjadi penghalang untuk menikmati alam. Sementara pada saat yang sama para venturer Indonesia juga menikmati cara para perempuan tersebut menikmati alam. Maka, kata-kata “mandi aaaaaah” bisa bermakna ganda. Walaupun hasilnya sama saja … segar.

Lain bangsa lain pula perlengkapan tidurnya. Tempat ekspedisi di gunung relatif dingin di malam hari, maka para venturer Indonesia biasa membungkus diri serapat mungkin sebelum masuk ke kantung tidur (sleeping bag). Banyak peserta non-Indonesia punya cara lain, mereka malah melucuti hampir semua yang menempel di badan sebelum masuk ke kantung tidur.

Jika hal tersebut terjadi di base camp, tidak begitu besar masalahnya. Tetapi jika kejadian ini berlangsung di flying camp yang hanya berupa tenda-tenda kecil, ada penghuni tenda - yang satu tenda dengan lawan jenis - malah jadi susah tidur. Mungkin saya harus menyalahkan kejadian begini atas insomnia yang saya derita sampai sekarang. Untung juga saya tidak “khilaf” saat itu, kalau saya “khilaf” alangkah beruntung dirinya. :D

Berbagi.
Dalam satu rombongan kecil (regu) penelitian biasanya terdiri dari peneliti, venturer dan porter (orang setempat). Orang setempat sangat menggemari permen, mereka menyebutnya bonbon. Satu kantung permen ukuran sedang biasanya untuk dua orang. Pada saat mereka berkata “mister …. bonbon dolo” maka itu artinya satu kantung permen diberikan dan mereka membagi dua isinya. Cara membagi yang saya tahu, ya permen dihitung dan dibagi sama banyak. Mungkin cara ini dirasa teralu lama dan berbelit-belit bagi para porter, mereka punya cara sendiri. Kantung permen ditaruh di tanah, parang bicara. Itu kantung permen dibacok jadi dua. Cepat, langsung ke pokok persoalan. Perkara jumlah permen yang diterima oleh kedua orang tersebut tidak sama banyak, itu soal lain.

Relativitas.
Ada cerita di mana peneliti dan venturer berkunjung ke rumah penduduk setempat untuk melakukan penelitian kesehatan. Pintu rumah diketuk, seorang anak kecil membuka pintu, lantas percakapan singkat terjadi :

# “Bapak ada kah nyong?
+ “Ada

# + sama-sama terdiam, lantas sang anak masuk ke dalam rumah. Tamu menunggu … yang dicari tidak keluar-keluar. Anak kecil itu keluar lagi.

# “Bapak ada kah nyong?
+ “Ada
# “Ada mana?
+ “Ada pi
# “Pi mana nyong?
+ “Ada pi hutan
# “Lamakah?
+ “Seng. Seng lama

# + sama-sama terdiam, lantas sang anak masuk ke dalam rumah (lagi). Tamu menunggu (lagi). Sesudah agak lama anak kecil itu keluar lagi.

# “Lamakah Bapak di hutan?
+ “Seng. Seng lama
# “Berapa lama?
+ “Dua tiga hari sa

13 orang ikut ndobos

1

Gravatar

07 July 2007 10:07:17

djokosantoso

paling suka episode mandi dan tidur … asli.
klo episode Relativitas, lucu banget

2

Gravatar

07 July 2007 10:21:45

Luthfi

potonya saru

*nyungsep*

3

Gravatar

07 July 2007 10:29:52

zam

foto-foto yg jejer-jejer itu lohh…

suit-suit…

4

Gravatar

07 July 2007 11:09:12

fitri mohan

hmmm…gimana kalo ada warnet di daerah situ ya?

“sambungan internet cepat” nggak bisa bayangin gimana gaya nungging pengguna internet saking “cepet”nya sambungan internetnya…

5

Gravatar

07 July 2007 13:09:23

yati

hahahaha…dialog ini yang pernah paling bikin ngakak dan nangis kesel sekaligus…ada, ada pi hutan, seng lama, 2-3 hari. Parlente!

6

Gravatar

07 July 2007 19:36:21

mariskova

Pokonya minta pilemnya diputeeeerrrrrrrrrrrr…. terutama bagian bule-bule (laki) sedang menyegarkan badan di airrrrrrr…..!!!

7

Gravatar

07 July 2007 20:06:59

mbahatemo

lanjut…

8

Gravatar

07 July 2007 20:22:12

riza

don hasman kenal nggak pak ?

9

Gravatar

08 July 2007 11:51:11

Hedi

+ Good night, mister (siang hari di Malang)
- no, not good night, but good afternoon (bule belanda) :D

Atau,

Kita pake jaket bulu (khas naik gunung) jam 4 pagi di Bromo, tapi bule cuma kumulan pake selimut plus celana pendek sambil nenteng kamera…. Sial banget ya hahaha

10

Gravatar

08 July 2007 17:13:56

qq

Hahahaa….hal yang sama juga terjadi waktu jalan-jalan ama para bule ke suatu tempat di jakarta. Semua orang tiba-tiba jadi ramah dan menyapa si bule dengan panggilan mister, padahal yang jalan bersamaku itu kan cewek. Temenku ini cuma senyam-senyum dipanggilin mister, bingung kali ya mo menjelaskan dalam indonesia yang terbatas :D

11

Gravatar

08 July 2007 17:41:22

kw

ha ha… lucu tenan. cuman cerita mandinya kok kurang detail? :)

12

Gravatar

08 July 2007 19:10:57

wku

aku gak iso mbayangke… gak kuat… pasti kalo ikut yo mesti jadi sering-sering mandi… dan sering-sering motret…

13

Gravatar

09 July 2007 16:36:32

trie

Untung juga saya tidak “khilaf” saat itu, kalau saya “khilaf” alangkah beruntung dirinya.
mba’ jen…ditunggu komen nya, hehehee… :D

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya