Dua Puluh Tahun (6)

Dua puluh tahun sudah lewat. Kegiatan beberapa bulan di hutan dan pantai Pulau Seram telah mewarnai secara meriah kehidupan para venturer Indonesia selepas ekspedisi. Kontak masih terjalin lumayan baik, walaupun kami sudah tidak lagi bertemu sesering dahulu. Lantas kami bertemu kembali, sudah banyak pula yang berubah pada masing-masing individu. Hanya saja, paling tidak pada beberapa orang, ada satu hal yang tidak berubah …. kelakuan.

Tanggal 7 dan 8 Juli itu beberapa dari kami kami bertemu lagi di sini. Riuh rendah tiada terkira. Anak seorang kawan bertanya pada kawan itu pada saat mereka baru saja tiba di tempat acara, “Pa, kalo temen-temen Papa, norak kayak Papa juga nggak?” Konon katanya, opini anak kecil itu adalah opini yang jujur …. Bapaknya memang norak. Bapak norak yang memiliki keahlian utama nyolot dan nipu itu menjawab “lebih norak nak“.
Namanya juga reuni, acaranya ya diisi dengan ngobrol-ngobrol sampai pagi. Ngobrol dengan para ember bocor begini memang harus hati-hati. Setiap kata yang keluar disimak cermat. Begitu ada celah sedikit saja, langsung digasak untuk jadi bahan cekakakan. Beberapa kawan memang ada yang tidak menginap, ada pula yang hendak meneruskan perjalannya ke kota lain. Tiada mengapa, kerinduan (paling tidak untuk nggasak) sudah sedikit terpenuhi.
Keriuhan tidak hanya terjadi di sektor orang tua, sektor anak-anak juga tak kalah riuhnya.Beberapa anak-anak kami memang ada yang sudah saling kenal. Kalau yang belum kenal ya riuh rendah juga, berkali-kali teriak-teriak mencari ibu atau bapaknya.

Harus diakui, lensa kamera masih menjadi daya tarik utama. Soal yang satu ini tidak mengenal jenis kelamin memang. Soal gaya layak foto atau tidak, itu soal lain.

Lupakan saja soal ngakak serta riuh rendah. Buat saya yang menarik pada reunian itu adalah bagaimana para orang tua memperlakukan anak-anaknya. Ada kelemah-lembutan yang tak pernah terbayangkan bakal muncul dari teman-teman itu. Saya ngertinya teman-teman itu ya balangsak, nyablak dan nyolot, tetapi urusan anak lain perkara. Para setan itu bisa berubah menjadi peri baik budi, dengan tutur kata super lembut. Walaupun begitu, untuk urusan-urusan tertentu, seperti urusan buang sampah atau sopan-santun, ya bisa galak juga.
Mestinya saya sudah menyadari perkara sikap teman-teman itu soal perlindungan anak begini. Dahulu ada kawan yang beride begini, “Nanti kita beli tanah barengan yuk, trus bikin rumah barengan kayak kompleks gitu“. Lha tiba-tiba ada yang nyolot “eh … jangan sampe anak gue maen sama anak lo!”
Yaaaah, mudah-mudahan saja anak-anak itu ndak jadi seperti bapak ibunya. Paling tidak toh ada satu yang sudah pandai menjaga diri … “Pa, kalo temen-temen Papa, norak kayak Papa juga nggak?”

Lantas, ekspedisi itu bagaimana akhirnya? jalan-jalan doang sama penelitian yang hasilnya buat diri sendiri? Untungnya tidak begitu. Ada sebuah buku yang merupakan hasil ekspedisi besar tersebut, dengan 11 karya ilmiah di dalamnya. Buku yang hingga sekarang masih menjadi salah satu pegangan utama tentang alam Pulau Seram.

17 orang ikut ndobos
09 July 2007 00:54:27
mbahatemo
hehehe.. anak2 itu besok jadi venturer ndak ya?
09 July 2007 05:54:56
sandal
luar biasa ceritanya.
sebenernya banyak orang “dewasa” yang belum pengen dewasa, tapi terpaksa harus menjadi dewasa di depan anak-anaknya.
09 July 2007 08:16:01
kw
jadi kalau sudah menikah itu punya kepribadian ganda?
09 July 2007 09:10:11
Hedi
Paragraf terakhir nyindir blogger ya? yang kalo kopdar cuma bisa blangsak dan nyolot serta norak tapi ga punya output hehehe
09 July 2007 10:17:11
yati
“Buat saya yang menarik pada reunian itu adalah bagaimana para orang tua memperlakukan anak-anaknya. ”
ada ga ortu2 egois yg ga rela menjadi tua dan kalah keren sama anaknya? hahaha…
09 July 2007 15:47:31
Luthfi
anaknya Om Rudy paling jangkung
09 July 2007 16:14:13
bangsari
Endinge top markotop!
btw, membayangkan nikah dan ngurusi anak? aduh biyung. po yo kuat?
09 July 2007 16:44:53
trie
itu 20 thn yang lalu…. besok yang 19, 18 dst..ya..ya…
ato boleh juga yg sebelumnya, hehehe…
09 July 2007 17:47:04
zam
wah.. andai 20 tahun yg lalu udah ada blog.. pasti anak-anaknya bisa baca tingkah laku bapaknya di masa muda..
*liat potonya*
ternyata pakde mbilung itu: FOTOGENIT!!
gyahahahahahaahh
09 July 2007 21:36:13
Aa Jim
kerennn… hebat, kirain kompetensi Sir Mbilung cuma nyolot dengan grammar lokal saja ternyata ragam tulisannya sangat mengalir uenak. Maning-maning… sambungannya mannah?
10 July 2007 09:14:52
maya
menjadi tua bukan berarti kehilangan sisi ‘kekanakan’ dalam diri.. kalo sudah tidak ada sisi kekanakan berarti kita akan kehilangan kejujuran diri……….
10 July 2007 16:06:09
qq
Doooohh, jadi ceritanya reunian yaaaa… Duh, nunggu 20 taon lagi masi lama donk buat Qq reunian
10 July 2007 23:42:09
Domba Garut!
Mendekatkan diri ke alam, wah sebuah fenomena yang perlu digakalkkan kembali nih… udah lama nggak mianbole di tegalan sawah kering nih…
Kapan yah bisa jalan2 ke pulau seram? Hm….
11 July 2007 19:01:55
atta
wah seru ya
dulu dua puluh tahun lalu pasti ada kalimat gini:
eh kalo kita berkeluarga nanti, kita bikin reunian yuk
hiihihihi
dan 20 tahun pun lewat
keren banget
12 July 2007 00:48:24
merahitam
Hihihi…Terharu
20 tahun mendatang kira-kira masih ngeblol dan bisa kumpul-kumpul ndak ya?
12 July 2007 00:49:46
merahitam
Ih, ralat.
masih ngeblog nggak ya?
12 July 2007 16:44:51
tetangga jauh
Dimana-mana sama. Betemen mau, tapi anak sendiri gak boleh betemen sama anaknya temen hehehehehe…… (contoh nyata betapa bapak-ibu pun bisa ‘salah’ gaul kakakaks)
ps: laptop dibawa papap, ngenet dikantor gak puassssssss