Raja-udang kalung-biru

Seribu Intan nomer 33

Raja-udang kalung-biru (Alcedo euryzona), sedang-sedang saja ukurannya (sekitar 20 cm). Hidupnya sangat bergantung akan keberadaan sungai dan hutan-hutan dataran rendah di pinggir sungai. Tercatat hidup di negara-negara Myanmar, Thailand, Malaysia, Brunei dan Indonesia. Di Indonesia sendiri burung ini dapat dijumpai di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Hanya saja, burung ini sudah sangat lama tidak lagi terlihat di Pulau Jawa. Mungkin saja ada hubungannya dengan semakin habisnya hutan-hutan dataran rendah di pinggir sungai di Pulau Jawa.

Saya pertama kali melihat jenis burung ini di daerah Rawa Pasir di hulu Sungai Way Kanan di Taman Nasional Way Kambas pada awal tahun 90-an. Walaupun tongkrongannya mirip, warnanya tidaklah secerah dan semenarik saudaranya Alcedo meninting dan Alcedo atthis.

Pemangsa ikan-ikan kecil yang ditangkapnya dengan sangat cepat dengan paruhnya. Kabarnya burung ini juga memangsa kadal kecil dan serangga, walaupun ikan merupakan makanan utamanya. Menyaksikannya sedang berburu ikan dari pinggiran sungai adalah keasikan tersendiri. Bertengger diam di atas kayu atau batu dan tiba-tiba menghujamkan diri ke sungai lantas muncul kembali ke permukaan dengan ikan kecil di paruhnya. Tidak selalu berhasil memang, karena sering juga brung ini muncul kembali di permukaan air dengan paruh kosong.

Walaupun warna-warna bulunya indah, burung ini tidak diburu untuk dipelihara karena memang gampang sekali mati jika dikurung. Tidak juga diburu untuk dimakan, lha wong dagingnya sedikit. Akan tetapi rumahnya sangat mengundang untuk dihancurkan. Hutan-hutan dataran rendah di Paparan Sunda, apalagi yang dipinggir sungai, sedap betul untuk ditebangi. Kayunya bagus-bagus berharga tinggi pula, lantas tinggal tebang dan menggulingkannya ke sungai.

Laju kerusakan tempat tinggal burung ini yang begitu tinggi menyebabkan jenis ini dianggap sebagai salah satu jenis burung yang secara global terancam punah dengan status Rentan (Vulnerable).

Photo © Suppalak Klabdee diambil dari sini.

Join the Conversation

6 Comments

  1. pak mbilung boleh curhat ga? **boleh**
    mbok kalo naruh poto di flickr ato di picasa gitu, biar saya bisa lihat, soale di tempat saya webshot diblok gara-gara program desktop yang nyedot bandwith gila-gilaan itu 🙁
    nuwun dah boleh curhat 😀

  2. pakde, sma gak yang waktu di puncak ketemu ?? soalnya di daerah rumah ku, aku juga pernah ketemu raja udang , lagi mancing di aliran air nya deket rumah, mungkin lagi nyari kepiting kecil…

Leave a comment

Leave a Reply to mbahatemo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *