Rp.750 Rp.250 Rp.100

Saya menyukai museum, bukan hanya karena saya seusia dengan barang-barang yang dipamerkan di sana tetapi saya seperti mendapat cerita setiap kali melihat barang-barang yang dipamerkan. Maka saya tidak menolak ketika istri saya mengajak saya mengunjungi Museum Nasional bersama kumpulannya itu, Sahabat Museum. Lagipula saat itu sedang ada pameran tentang Majapahit yang katanya bakal digelar hingga tanggal 22 Juli yang akan datang.

Soal bagaimana acara kumpul-kumpulnya, biarlah istri saya saja yang cerita. Saya sendiri lebih tertarik soal harga karcis masuk ke Museum Nasional. Untuk masuk ke Museum Nasional sampeyan bisa beli karcis ketengan, Rp.750 untuk dewasa dan Rp.250 untuk anak-anak. Lantas, jika berhasil membujuk orang sekampung untuk ikut berkunjung maka harganya menjadi Rp.250 untuk dewasa dan Rp.100 untuk anak-anak.


Murah? Kata beberapa orang itu harga murah sekali, lha wong ke wc umum saja ditarik Rp.1.000 kok, masak masuk Museum Nasional kurang dari itu? Bahkan di Museum Nasional juga ada wc yang bersih yang tidak menarik bayaran tambahan untuk memakainya. Mbok ya jangan membandingkan bayaran masuk ke Museum Nasional dengan masuk ke wc umum. Kalau ke wc umum itu ada faktor keterdesakan yang amat tinggi … kebelet. Berapa banyak sih manusia yang kebelet ke museum?

Umumnya museum memang menarik biaya dari para pengunjungnya. Musée du Louvre yang terkenal di Paris itu menarik €6 hingga €9 untuk sekali kunjungan, bahkan pada tanggal 14 Juli kemarin itu, ndak narik bayaran apa-apa untuk masuk. Tetapi tidak semua museum menarik bayaran untuk masuk. British Museum yang dahulu adalah salah satu tempat favorit saya, tidak menarik sepeserpun dari pengunjungnya. National Museum di Sigapura juga tidak menarik bayaran untuk masuk gedung museum, walaupun untuk galeri-galeri atau pameran tertentu mereka manarik bayaran antara S$5 hingga S$10.

Secara teknis Museum Nasional juga tidak menarik biaya kok, karena karcis yang dijual itu diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Jakarta Pusat, bukan oleh Museum Nasional atau instansi yang menaunginya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen tersebut ada menerbitkan karcis jika sampeyan hendak membawa kamera ke dalam gedung museum, harga karcisnya Rp.3.000 per kamera.

Dengan harga karcis tadi, bagaimana Museum Nasional dapat bertahan? Lha, itu pinter-pinternya yang ngurus museum lah, toh buktinya sampai sekarang museum tersebut masih berdiri dan relatif terawat pula. Selain anggaran dari pemerintah, yang saya tidak tahu seberapa kecilnya, tampaknya Museum Nasional juga mendapat bantuan dari banyak pihak dari dalam maupun dari luar negri.

Saya mencoba mencari informasi perkara bantuan-bantuan ini di website Museum Nasional. Sayangnya website tersebut tampaknya sudah tidak pernah diperbaharui lagi sejak tahun 2001. Untuk ukuran dunia maya, menurut saya kalau sudah tidak diperbaharui sekian lama, ya sudah layak masuk museum itu website. Keberadaan penyandang dana dari luar lingkungan museum tampaknya adalah hal yang masih mutlak untuk Museum Nasional, termasuk penyandang dana untuk urusan website itu.

Hanya mengandalkan karcis untuk kamera jelas tidak akan dapat membuat museum mandiri. Harga karcis dinaikan besar-besaran? Mbok sebentar, lha itu nyaris gratis begitu yang datang atas kemauan sendiri saja sedikit kok. Bapak penjaga mengatakan pengunjung terbanyak itu ya anak-anak sekolah yang digiring oleh gurunya untuk datang ke museum ….. yang begini ini mbayarnya Rp.100 per orang.

Join the Conversation

19 Comments

  1. Saya menyukai museum, bukan hanya karena saya seusia dengan barang-barang yang dipamerkan —-> apa sir ndobos perlu dimuseumkan jg nih hihihihihi

    iyo murah banget, melok sirrr

  2. Waktu masih jadi kuli majalah gaya, saya pernah mau mewawancarai pejabat musium itu. Disuruh nunggu di ruangan yang isinya barang-barang ‘antik’. Kursinya aja sepertinya peninggalah majapahit. Udah bolong-bolong begitu. Kalo diduduki tengahnya, pantat ini langsung menyentuh lantai. Hebat deh koleksinya…

    Oh, katanya sih, mereka hidup dari dana pemerintah (yang cuma sekedarnya) dan sumbangan donatur. Duluuuu tapinya…

  3. kalo ada acara ke surabaya, monggo disempatkan mampir nengok museum house of sampoerna, bagus sir.

    masuk gratis, parkir gratis, bahkan dilarang ngasih tip ke mas2 ato mbak2 yg kerja di museum. foto2 juga bebas sepuasnya. bahkan mas2 dan mbak2 itu juga nawarkan diri sebagai juru foto kalo gejala narsisisme kumat.

    trus kalo capek pingin ngaso, bisa ngopi2 sambil ngemil ato ngerokok di cafe sebelah museum. eh tapi kalo yg disini kopi dan cemilannya mbayar hehe 😀

  4. ya berarti memang wc umum lebih menarik minat pengunjung daripada museum.
    ibarat kata hukum ekonomi, makin banyak peminat maka harganya akan makin meningkat, bukankah?! 😉

  5. wekekekekekek .. seneng saya bagian yang ininya ..

    Selain anggaran dari pemerintah, yang saya tidak tahu seberapa kecilnya hahahahaha mantabbb!!!!

    bayar murah aja ndak ada yang mau, apalagi bayar mahal, atau jangan2 buat manusia indonesia yang suka gengsian musti diset harganya mahal sekali biar pada ke museum, new life style gitu? hmmm

  6. Huaaa……kejutan! Ternyata Pakde juga ke museum gajah ya kemaren? hehehhehe. Iya, Qq juga ke sana, nasib kita sama Pakde, diajak…hehehehe. Tapi yang jelas Qq seneng ke museum bukan karena udah seumuran dengan koleksi di sana yaa… 🙂

    Btw, Pakde yang mana yaaa? Perasaan banyak banget pesertanya kemaren. Maaf ya pakde, bukannya sombong, tapi Qq belum tahu pakde yang mana … jadi ga bisa minta ditraktir ama Pakde 😀

  7. sama kek museum kartini di sini juga tiket masuknya murah bianget, kenopo yow?
    eh pakdhe ngecamp nang sentul yuk??

  8. sementara disini entah kenapa antusiasme orang utk dateng ke museum (yg bayarnya mahal), bisa relatif banyak..

    bagaimana museum2 di indo bs bertahan kalo begini terus? *kuatir*

  9. karcis museum satria mandala juga sepertinya masih 750 perak untuk dewasa.. terakhir ke sana sekitar 2-3 tahun lalu bareng2 temen satu departemen, bukan untuk belajar sejarah, tapi sekadar bernostalgila “masa2 digiring ke museum” itu..

  10. beberapa waktu yang lalu sya ke Museum jawa Klasik Ullen Sentallu. Tiketnya mahal, 30 rebu untuk umum dan 10 rbu untuk pelajar/mahasiswa dengan syarat nunjukkin Kartu Mahasiswa..

    harga mahal, tapi museumnya bener-bener bagus, terawat, pokoke sip lah.. dan ternyata, usut punya usut, itu museum dikelola oleh pihak swasta..

    bandingkan dengan museum yang dikelola pemerintah, harga tiket yang murah dan kondisi yang memprihatinkan membuat kita malas datang. alih-alih dapet ilmu, bisa-bisa malah bersin-bersin dan kesurupan karena suasana yang singup.

    heheh.. lain kali saya posting, ah..

  11. tapi coba panjenengan bertandang ke museum pas tanggal merah alias public holiday yg non-weekend. saya dulu kena ditarik goceng, weh lumayaaan … (tapi masih lebih murah daripada dolan ke mall, parkirnya gratis lagi)

    lha di loket ada tulisan begini “Hari Senin dan Hari Besar tutup”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *