Jul 6 2007 - 20:37
Beberapa masalah utama bagi para anak kota dalam berpetualang dan meneliti di alam bebas tidak jauh dengan urusan perut, beberapa ada yang menjadikan perawatan penampilan sebagai masalah, tetapi itu jumlahnya kecil saja. Urusan perut itu sebenarnya lebih ke isi perut dan urusan pembuangannya. Air untuk cuci-cuci lubang keluar sebenarnya bukan barang langka selama ekspedisi, tetapi menjadikan sungai sebagai jamban bisa rame urusannya karena penduduk desa sangat menjaga kebersihan sungai. Maka beberapa kejadian seputar makan dan buang-buang bisa menjadi cerita tersendiri.
Continue Reading
11 Comments
Jul 6 2007 - 01:08
Kami semua tiba di Seram tanggal 20 Juli 1987, tepatnya di Air Besar, tidak jauh dari Wahai di bagian utara Pulau Seram, setelah semalaman dijejal dalam formasi sarden di 3 kapal kecil yang membawa kami dari Ambon. Maka beratus orang dari 14 negara yang praktis asing satu dengan lainnya -kecuali peserta Indonesia yang sempat berkumpul bersama selama 12 hari di Cibubur dan 4 hari di kapal Rinjani- memulai petualangan (dan penelitian) nya di tempat yang asing.
Ada banyak perbedaan di antara kami, ya bahasa, budaya, cara pandang, cara hidup, kepercayaan dan entah apa lagi. Konflik jelas ada, walaupun semua bisa diselesaikan dengan baik. Menurut saya, pada akhirnya ada lebih banyak kenangan bagus yang hingga sekarang masih diingat lumayan baik. Berikut beberapa kenangan itu:
Continue Reading
16 Comments
Jul 5 2007 - 00:01
Ada beberapa kejadian menyenangkan (bagi pelaku) tetapi ngeselin (bagi korban kelakuan pelaku) pada dua puluh tahun yang lalu itu. Pada waktu itu peserta ekspedisi dibagi dalam tiga kelompok, para panitia (mereka menamakan dirinya staff … entah kenapa), para peneliti dan kelompok yang paling besar dinamai oleh panitia sebagai venturer. Para venturer sendiri ada yang menamai kelompok besar ini gerombolan biang panu, belatung nangka dan beberapa nama “kurang sedap” lainnya. Saya ada di kelompok kurang sedap itu.
Para panitia tentunya menampilkan citra garang dan berwibawa, maunya begitu. Paling tidak sikap begitu dipertontonkan selama dua belas hari kami di Cibubur. Untuk menggembleng mental dan fisik, begitu kata mereka. Sementara kelompok biang panu, yang dianggap mental dan fisiknya perlu dibenahi itu cengengesan, banci foto dan biang keonaran. Begitulah hampir saban hari, bahkan saban saat, acara yang mestinya berlangsung tertib malah jadi ajang ngakak. Kalu sudah begini, entah siapa yang mentalnya perlu diperkuat.
Continue Reading
12 Comments
Jul 4 2007 - 13:06
Dua puluh tahun yang lalu, 4 Juli 1987, kami untuk pertama kalinya berkumpul bersama di bumi perkemahan Cibubur. Saya kok ya ndak inget persis ada berapa jumlah kami (peserta dari Indonesia) seluruhnya waktu itu, hanya saja masih bisa dikatakan muda-muda semua.
Setelah proses seleksi yang panjang, akhirnya yang pada lulus itu berkumpul di Cibubur untuk mengikuti latihan dasar dan orientasi sebelum kami dijerumuskan ke tengah hutan di Pulau Seram. Kami tengah dipersiapkan untuk mengikuti ekspedisi ilmiah internasional yang lantas diberi nama Operation Raleigh dengan kode ekspedisi 10F. Boleh dibilang, inilah awal karir saya di bidang yang saya tekuni hingga sekarang.
Continue Reading
13 Comments
Jul 3 2007 - 11:47
Pada suatu siang, duduk di samping supir angkot yang sedang bekerja, Jalanan macet lumayan panjang, ada angkot lain berhenti di perempatan yang ramai. Itu suara klakson bertalu-talu. Pak supir nggerundel kesal, lantas teriak, “heeeee goblog….ereun sangeunahna wae, ooooi macet yeuuuuh” (berhenti seenaknya saja, macet ini).
Akhirnya angkot “penyebab macet” pergi juga. Antrian bergerak lagi…..sampai di perempatan sibuk itu penumpang ada yang teriak, “kiriiiiiiii“. Angkot berhenti mendadak, lebih cepat dari bayangannya. Penumpang turun, membayar dua ribu rupiah, angkot belum beranjak. Pak supir malah sibuk memanggil-manggil “calon penumpang” …. “neng raja neng … raja“. Suara klakson dari mobil-mobil di belakang kembali bertalu-talu, bikin kesal Pak supir saja.
Kepala Pak supir ditongolkan ke luar, lantas menoleh ke belakang sambil teriak “sabar woi, sabaaaaar …. “
Continue Reading
13 Comments