Rindu yang Terlarang

Itu karena faktor “U”, umur maksudnya, begitu ndoro bedhes itu selalu berkata tiap kali saya bercerita perkara limitasi tubuh dalam mengkonsumsi beberapa macam makanan seperti duren, emping, daging kambing atau jeroan. “Leher sampeyan pegel-pegel toh? lhaaa … faktor “U” itu mesti”. Jika kemudian konsumsi lezat-lezat tersebut akhirnya toh dikurangi, itu karena pertimbangan praktis saja. Saya masih harus sering kelayapan, lha yang namanya klayapan dengan badan remuk mana ada asiknya.

Sering lantas timbul rasa rindu yang terlarang untuk menyantap sedap-sedap itu. Sedikit saja toh tidak apa-apa, begitu pikir saya. Masalahnya yang namanya sedikit itu ndak jelas takarannya. Sedikit itu satu dua suap atau satu dua piring?

Masalah sedap-sedap begini paling repot jika menghadiri acara pesta pernikahan. Walaupun antriannya paling panjang, toh dilakoni juga, antrian untuk mendapatkan sepiring kambing guling. Jika ternyata sajiannya layak santap, mengantri untuk kedua kalinya dilakoni juga.

Jeroan sapi lain lagi masalahnya. Sajian usus sapi atau babat memang jarang muncul sebagai salah satu sajian di acara pesta pernikahan, tetapi terpampang di banyak etalase rumah makan, dijual per kerat. Sama halnya dengan isi kepala sapi, gulai otak itu. Pada saat saya masih tinggal di luar Indonesia, yang begini-begini bukannya tidak ada, hanya saja tidak begitu mudah ditemukan. Untuk campuran makanan hewan peliharaan kabarnya. Lagipula saya toh tidak bisa masak, sehingga kalaupun jeroan mentah ditemukan, ya hanya dipandangi saja.

Lantas apa hubungannya jeroan dengan tulisan di pantat angkot itu. Ah ya ndak ada, saya hanya ingat masakan jeroan saja pada waktu melihatnya, ada rasa rindu yang terlarang.

Join the Conversation

17 Comments

  1. Lho di Jepang kan jeroan sapi banyak, tapi cuma dijadiin pakan ternak. So, kalo mau makan jeroan sapi di sana, berarti kita sejenis ternak ya hehehe

  2. lho hohohoho, jeroan itu favorit saya, di rm ampera saya pasti ambil babat sama usus buat digoreng lagi. Kalo di warung sop kambing, pasti pake komputer(otak) ama kacamata(mata) ditambahin sedikit kuping juga gpp 😀

  3. waahh padahal mau nawarin sup kambing yahud di seputar raden saleh lho, sir…

    eh tapi jauh ding dari rumahnya panjenengan. nanti saya ceritain aja, biar panjenengan ndak usah repot2 ke sana.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *