Burung-madu sangihe

Seribu Intan nomer 35

Untuk mata belum terlatih, kadang hanya terlihat sekelebat saja, burung kecil berwarna gelap. Jika lantas dapat dilihat dengan menggunakan teropong dengan cahaya yang pas, burung gelap tadi tampak berwarna-warni didominasi warna kuning mulai dari kerongkongan hingga tunggir bawah. Lantas ada juga warna biru mengkilat, hijau di punggung yang juga mengkilat, dengan kekang berwarna merah bata. Paruhnya relatif panjang dan melengkung, pas untuk mengambil madu di bunga yang merupakan makanannya.

Burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei) hanya dapat dijumpai di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Dulu kabarnya pernah juga dijumpai di Pulau Siau, tetapi entah bagaimana nasib burung ini di pulau tersebut. Sekitar pertengahan tahun 1990-an ada dua lokasi penting bagi burung ini di Pulau Sangihe, yakni di Gunung Awu dan di Pegunungan Sahendaruman. Catatan-catatan yang ada menunjukkan burung ini tidak hanya hidup di gunung tetapi juga di dataran rendah seperti di Tabukanlama, Petta, Tahuna, Ulung Peliang dan Kedang.

Tadinya burung ini sempat disangka sebagai burung paling langka di kawasan Wallacea (Indonesia bagian tengah), tetapi ternyata masih lumayan melimpah di daerah pinggiran hutan Gunung Sahendaruman. Hanya saja, hutan yang merupakan habitat utamanya sudah makin mengecil di Pulau Sangihe. Pernah ada upaya untuk mencari burung ini di Pulau Siau, tetapi hasilnya nihil. Mungkin sudah punah.

Selain menenggak madu, burung ini juga menyantap serangga kecil. Mereka mencari makan bergerombol dengan burung-burung kecil lainnya. Namanya juga pemakan madu, sulit juga melihat burung ini sedang makan yang dilakukannya di tajuk-tajuk pohon tinggi. Termasuk kelompok burung pematah leher, begitu para birdwatcher menyebutnya. Jika mengamati burung ini, sesudahnya dijamin nagih dipijet.

Kecilnya luasan hutan yang tersisa di Pulau Sangihe yang merupakan satu-satunya tempat di mana burung ini hidup menjadikannya sebagai salah satu burung yang masuk ke dalam jenis burung yang secara global terancam punah dengan status Genting (Endangered).

Gambar diambil dari sini.

Join the Conversation

11 Comments

  1. burung ini seharusnya tidak punah kalo ajah pinter dikit, daripada cari madu di hutan mending beli madurasa di toko jamu..kan biarpun habitatnya habis, dia akan tetap bertahan..

  2. #pitik: burung itu lebih suka yang alami tik. di pasaran termasuk di toko , apotik dan mal konon 80% madu yang dijual palsu.

    jadi mending si madu sangihe disuruh kost deket peternakan lebah aja. 🙂

  3. burung paling cantik yang pernah saya lihat kang. birunya kontras, hijaunya gemerlap, merahnya merah beludru dan kuningnya keemasan, membuat penampilannya sangat elegan. gak salah kalo nama londonya “Elegant Sunbird”. Kita pernah muter2 siau kagak dapet tuh kang. kayaknya pas ngurus awetan burung dari Sangihe, si Duyvenbode salah masang tag, dikiranya ada awetan dari Siau juga, waktu ngirim specimen dari manado ke eropa sana.

  4. torang orang siau…………
    tu burung masih p byk d siau……..
    baleo ngoni kang?????
    ngoni dapa info dari mana?

Leave a comment

Leave a Reply to bangsari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *