1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Terbang Ramah (2)

“Baiklah, saya ingin melakukan offset karbon dari hasil kegiatan saya wara-wiri, saya mau bayar”. Tetapi, apakah membayar itu langkah pertama yang mestinya saya lakukan? Kok jumawa ya? “terserah saya dong mau plesir ke mana saja, pokoknya saya bisa bayar dampak buruk dari polah saya”. Lantas kalau diplintir sedikit jadinya “terserah dong saya mau jadi polusiwan, kan saya bisa bayar”. Begitu?

Lantas apa ada pilihan lain? Menurut pikir saya (yang ndak humble ini), mengurangi polusi adalah langkah pertama sebelum kegiatan hitung-hitung harus membayar berapa dilakukan. Caranya, saya memilih penerbangan yang menggunakan pesawat terbang yang “ramah lingkungan”. Misalnya, saya bisa memilih untuk terbang dengan Boeing 737-900 dan ogah naik Boeing 737-200 yang lebih rakus bahan bakar dan lebih banyak membuang gas-gas berbahaya untuk jarak terbang yang sama per penumpangnya.

Tidak mudah memang, lha wong waktu beli tiket ya ndak ada informasi ini nanti naik pesawat jenis apa kok, apalagi informasi soal jenis mesin apa yang akan digunakan. Kalau begitu pakai cara rada serampanganyangpentingada, pilih perusahaan penerbangan yang umur rata-rata pesawat terbangnya paling muda. Website ini tampaknya bisa membantu, lumayan akurat.

Jika upaya-upaya meminimalkan polusi sudah dilakukan dan masih ada karbon yang harus di-offset, barulah dipikirkan cara membayarnya. Beberapa perusahaan penerbangan ada menyediakan jasa menampung bayaran offset karbon begini. Cara lain adalah mencari lembaga yang menerima penyaluran dana karbon offset.

Jika ada keraguan apakah uang yang akan dibayarkan tersebut nantinya benar-benar dipakai untuk pelestarian alam, itu sudah masuk ke ranah kepercayaan. Jika keraguan timbul, cara lain masih bisa dilakukan. Lakukan offset secara mandiri, seperti saran yang diberikan oleh Moes Jum dan Didi terhadap kegundahan saya kemarin itu. Saran mereka ujungnya sama, tanam pohon.

Halaman rumah saya tidaklah luas, itupun sudah “dihutankan” oleh istri saya. Lagipula tangan saya itu “panas”, nanem singkong saja pohon singkongnya mati. Begini saja, saya terima usulan Moes Jum, uang offset bisa saya belanjakan bibit. Lantas kepada para tangan dingin penanam pohon, saya ndobos kenceng, ayo tanam …. ini bibit pohonnya. Manggis, durian, rambutan, kecapi, gowok. Begitu? Apa sampeyan mau ikut?

5 orang ikut ndobos

1

Gravatar

24 August 2007 07:58:05

didi

*nunggu kiriman pohon

2

Gravatar

24 August 2007 08:59:41

Yuda

Wah baru tau klo 737-200 lebih tidak bersahabt daripada 737-900. Berarti pesawat barunya lion air termasuk baik dong ?

3

Gravatar

24 August 2007 18:05:21

mariskova

Asiiiiiiikkkk, Pak Dhe mau bagi-bagi bibit…
Saya minta bibit pohon yang bisa jadi peneduh di taman mungil, dan tidak membuat taring tetangga muncul karena daun-daunnya mampir ke halamannya. Oh iya, satu lagi: si pohon kalo udah gedenya gak boleh lebih gede dari rumahnya secara rumahnya satu size sama pohon jagung.
Sekalian nanemnya juga boleh kok hihihihi….

4

Gravatar

27 August 2007 16:32:47

qq

Setuju banget Pakde, Qq dukung makin bertambahnya lahan hijau dgn keberadaan pohon-pohon baru :). Tapi Qq harus ebaljar cara nanam ala hidroponik kayanya ya? Di kos-anku ga ada lahan :(

5

Gravatar

30 August 2007 15:32:41

trie

eh… aku mau biji nya anthurium aja, ada nggak ? :D

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya