1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Rumah Itu

Rumah itu nyaris masih seperti dulu, kecuali atapnya bukan lagi terbuat dari sirap, sudah diganti genteng keramik. Warna cat temboknya juga masih seperti dulu, putih dan abu-abu. Pintu dan jendela lebar, banyak lubang udara, langit-langit yang tinggi, cocok untuk rumah di daerah tropis. Halamannya yang luas juga masih tidak berpagar. Pohon mahoni masih ada di depan rumah itu.

Saya masih ingat, walaupun agak samar, seorang anak kecil menaiki sepeda roda tiga kebanggaannya yang terjun bebas langsung nyungsep di got depan rumah itu. Kepalanya berdarah dahsyat, bekas lukanya masih ada hingga kini, pitak. Bocah yang sama berkali-kali mencicipi buah mahoni yang jatuh seperti kitiran, mencari-cari mana yang sudah matang. Semua yang diicipinya pahit, masih mentah semua buah ini pikirnya.

Ada juga seorang ibu muda yang mengobrol ramai di teras rumah bersama teman-temannya, semua memakai rok mini dengan potongan rambut tinggi-tinggi, gaya nona agogo. Bapak anak itu kadang masih sibuk sesudah makan malam, dengan tumpukan kertas dan mistar hitungnya.

Suatu malam yang saya tidak ingat lagi sedang ada festival apa, ada kembang api yang dinyalakan di teras rumah itu. Itu kali pertama sang anak tahu kalau kembang api itu jangan dipegang bagian yang menyala, panas.

Saya ndak bisa lupa rumah itu, semua kenangan awal masa kecil saya dimulai di situ. Ibu, Bapak …. saya kemarin itu menengok lagi rumah kita di Balikpapan. Masih seperti dulu, masih mirip seperti 36 tahun yang lewat.

21 orang ikut ndobos

1

Gravatar

03 September 2007 20:40:50

yoki

senang rasanya ya kembali ke tempat dimana pernah menyimpan sesuatu dalam kenangan…dan pasti sahaja yang bonyok & nyungsep ituh sampeyan sendiri :P itulah makanya pendarahan otaknya masih sampai sekarang :P..betul gak?

2

Gravatar

03 September 2007 23:04:08

Deny Sri Supriyono

wuah, rumah yang asri.
menyimpan sejuta kenangan ya, sir.
itu turunan dipake buat maen perosotan pake dahan pohon kelapa nggak tuh?

3

Gravatar

04 September 2007 00:33:26

mariskova

Hebat itu Bapak dan Ibunya. Punya rasa tega utk memberikan pelajaran hidup secara langsung kpd si anak kalau… kembang api itu panas! :D

4

Gravatar

04 September 2007 05:12:57

Goio

wuih, itu di bagian mana dari Balikpapan ya? di daerah perumahan Pertamina kah?

5

Gravatar

04 September 2007 05:49:11

Ujang

ah… kelihatan seperti rumah di Gunung Dubbs, jangan-jangan kita tetangga dulu atau malah satu tk di tk patra…

kenangan memang selalu bittersweet

6

Gravatar

04 September 2007 06:38:48

de

duuuh rumahnya itu lo menenangkan… boleh numpang nginep ngga? aetau 2 taun gitu :P

7

Gravatar

04 September 2007 07:29:49

mbahatemo

waktu itu melawai wis rame durung, pakdhe?

8

Gravatar

04 September 2007 07:46:17

nana

postingan ini mengindikasikan usia sir hihi…

vivid memory, sama kayak saya yang (ngaku) nias ini selalu aja lebih bergetar kalo lewat depan rumah di salatiga, first love never dies (loh?)

:D

9

Gravatar

04 September 2007 08:22:29

iway

gak ke dalem pak?, liat bercak-bercak itu masih ada apa ga? :)

10

Gravatar

04 September 2007 08:53:57

annots

wah jadi inget suasana rumah simbah saya dengan pekarangan yang luas, cuma dari kecil saya sudah tau kalo buah mahoni itu pahit.

11

Gravatar

04 September 2007 09:17:07

Hedi

sepedanya masih ada ga?

12

Gravatar

04 September 2007 10:52:09

may

banyak kenangannya ya..
ikutan seneng bacanya, membuka kenangan masa…
masih ada….

13

Gravatar

04 September 2007 11:06:13

Parmin

Hebat betul ingatannya. Pasti jatuh itu penyebabnya, otaknya jadi encer..

14

Gravatar

04 September 2007 14:14:22

Beta Uliansyah

No place like home..

Kayak halaman akhir Lucky Luke, naik kuda Jolly Joker menuju matahari terbenam sambil nyanyi ala cowboy..

Kalo di kota kelahiranku, indahnya memandang matahari terbenam dari jembatan layang stasiun Lempuyangan. Matahari terbenam di balik rel kereta dan hotel garuda.

15

Gravatar

04 September 2007 14:33:13

yati

mengenang masa kecil…mengenang ..kebodohan… :( hihihi…

16

Gravatar

04 September 2007 16:29:31

bangsari

edian. mosos 36 tahun yang lewat? umurku nembe 17 tahun pakde…

lho, key code bangsari kok metu neh?

17

Gravatar

04 September 2007 17:17:04

u-knee

rumahnya asri banget..aman..nyaman..damai..tentram..bisa ga ya punya rumah seperti itu di jakarta..

18

Gravatar

04 September 2007 19:56:46

kw

mengingat masa bocah, hmm aku paling suka. meskioun di sana tak selalu ceria.

ngomongin rumah, paling berkesan tentu rumah nenek yang bentuknya limasan. luas, aku bisa belajar naik sepeda di dalamnya, mengitari seperangkat kursi kayu yang berada di tengahnya.

salah satu ujung kursi itu memberiku sejarah, membolongi kepalaku. sampai kini masih tampak bekas melintang di jidatku. (aku belum sempatkan mengoperasi plastiknya).

dinding-dindingnya kayu, menempel satu lukisan kaca, sepasang pengantin warna biru dan hitam.

menyenangkan… !

19

Gravatar

04 September 2007 22:04:57

venus

nangis gak waktu lewat situ lagi? you know, memories…

20

Gravatar

05 September 2007 00:42:06

sandal

ya ampun, panjenengan nyicipin buah mahoni? ^o^
sudah ketemu yang manis apa belum pakdhe?

21

Gravatar

12 September 2007 08:57:36

trie

mbayangke waktu sampeyan pas di depan rumah itu… sambil mbrebes mili nggak yo ??… tapi ragu juga, apa sampeyan bisa nangis ya , sir..hihihiii… *kaburrrr* :D

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya