Rumah Itu
Rumah itu nyaris masih seperti dulu, kecuali atapnya bukan lagi terbuat dari sirap, sudah diganti genteng keramik. Warna cat temboknya juga masih seperti dulu, putih dan abu-abu. Pintu dan jendela lebar, banyak lubang udara, langit-langit yang tinggi, cocok untuk rumah di daerah tropis. Halamannya yang luas juga masih tidak berpagar. Pohon mahoni masih ada di depan rumah itu.
Saya masih ingat, walaupun agak samar, seorang anak kecil menaiki sepeda roda tiga kebanggaannya yang terjun bebas langsung nyungsep di got depan rumah itu. Kepalanya berdarah dahsyat, bekas lukanya masih ada hingga kini, pitak. Bocah yang sama berkali-kali mencicipi buah mahoni yang jatuh seperti kitiran, mencari-cari mana yang sudah matang. Semua yang diicipinya pahit, masih mentah semua buah ini pikirnya.
Ada juga seorang ibu muda yang mengobrol ramai di teras rumah bersama teman-temannya, semua memakai rok mini dengan potongan rambut tinggi-tinggi, gaya nona agogo. Bapak anak itu kadang masih sibuk sesudah makan malam, dengan tumpukan kertas dan mistar hitungnya.
Suatu malam yang saya tidak ingat lagi sedang ada festival apa, ada kembang api yang dinyalakan di teras rumah itu. Itu kali pertama sang anak tahu kalau kembang api itu jangan dipegang bagian yang menyala, panas.
Saya ndak bisa lupa rumah itu, semua kenangan awal masa kecil saya dimulai di situ. Ibu, Bapak …. saya kemarin itu menengok lagi rumah kita di Balikpapan. Masih seperti dulu, masih mirip seperti 36 tahun yang lewat.
21 orang ikut ndobos
03 September 2007 20:40:50
yoki
senang rasanya ya kembali ke tempat dimana pernah menyimpan sesuatu dalam kenangan…dan pasti sahaja yang bonyok & nyungsep ituh sampeyan sendiri
itulah makanya pendarahan otaknya masih sampai sekarang
..betul gak?
03 September 2007 23:04:08
Deny Sri Supriyono
wuah, rumah yang asri.
menyimpan sejuta kenangan ya, sir.
itu turunan dipake buat maen perosotan pake dahan pohon kelapa nggak tuh?
04 September 2007 00:33:26
mariskova
Hebat itu Bapak dan Ibunya. Punya rasa tega utk memberikan pelajaran hidup secara langsung kpd si anak kalau… kembang api itu panas!
04 September 2007 05:12:57
Goio
wuih, itu di bagian mana dari Balikpapan ya? di daerah perumahan Pertamina kah?
04 September 2007 05:49:11
Ujang
ah… kelihatan seperti rumah di Gunung Dubbs, jangan-jangan kita tetangga dulu atau malah satu tk di tk patra…
kenangan memang selalu bittersweet
04 September 2007 06:38:48
de
duuuh rumahnya itu lo menenangkan… boleh numpang nginep ngga? aetau 2 taun gitu
04 September 2007 07:29:49
mbahatemo
waktu itu melawai wis rame durung, pakdhe?
04 September 2007 07:46:17
nana
postingan ini mengindikasikan usia sir hihi…
vivid memory, sama kayak saya yang (ngaku) nias ini selalu aja lebih bergetar kalo lewat depan rumah di salatiga, first love never dies (loh?)
04 September 2007 08:22:29
iway
gak ke dalem pak?, liat bercak-bercak itu masih ada apa ga?
04 September 2007 08:53:57
annots
wah jadi inget suasana rumah simbah saya dengan pekarangan yang luas, cuma dari kecil saya sudah tau kalo buah mahoni itu pahit.
04 September 2007 09:17:07
Hedi
sepedanya masih ada ga?
04 September 2007 10:52:09
may
banyak kenangannya ya..
ikutan seneng bacanya, membuka kenangan masa…
masih ada….
04 September 2007 11:06:13
Parmin
Hebat betul ingatannya. Pasti jatuh itu penyebabnya, otaknya jadi encer..
04 September 2007 14:14:22
Beta Uliansyah
No place like home..
Kayak halaman akhir Lucky Luke, naik kuda Jolly Joker menuju matahari terbenam sambil nyanyi ala cowboy..
Kalo di kota kelahiranku, indahnya memandang matahari terbenam dari jembatan layang stasiun Lempuyangan. Matahari terbenam di balik rel kereta dan hotel garuda.
04 September 2007 14:33:13
yati
mengenang masa kecil…mengenang ..kebodohan…
hihihi…
04 September 2007 16:29:31
bangsari
edian. mosos 36 tahun yang lewat? umurku nembe 17 tahun pakde…
lho, key code bangsari kok metu neh?
04 September 2007 17:17:04
u-knee
rumahnya asri banget..aman..nyaman..damai..tentram..bisa ga ya punya rumah seperti itu di jakarta..
04 September 2007 19:56:46
kw
mengingat masa bocah, hmm aku paling suka. meskioun di sana tak selalu ceria.
ngomongin rumah, paling berkesan tentu rumah nenek yang bentuknya limasan. luas, aku bisa belajar naik sepeda di dalamnya, mengitari seperangkat kursi kayu yang berada di tengahnya.
salah satu ujung kursi itu memberiku sejarah, membolongi kepalaku. sampai kini masih tampak bekas melintang di jidatku. (aku belum sempatkan mengoperasi plastiknya).
dinding-dindingnya kayu, menempel satu lukisan kaca, sepasang pengantin warna biru dan hitam.
menyenangkan… !
04 September 2007 22:04:57
venus
nangis gak waktu lewat situ lagi? you know, memories…
05 September 2007 00:42:06
sandal
ya ampun, panjenengan nyicipin buah mahoni? ^o^
sudah ketemu yang manis apa belum pakdhe?
12 September 2007 08:57:36
trie
mbayangke waktu sampeyan pas di depan rumah itu… sambil mbrebes mili nggak yo ??… tapi ragu juga, apa sampeyan bisa nangis ya , sir..hihihiii… *kaburrrr*