Bungkus
Nona Gita pengrokot aprikot ada menulis perkara makanan Jepang di sini. Makanan Jepang bagus bungkusnya, tetapi rasanya ya biasa-biasa saja begitu katanya. Secara langsung pengrokot aprikot itu berkata “bungkuse tok sing memikat ning rasane gak enak blas“. Lantas diteruskan dengan rentetan hasil uji cobanya. Sulit kalau sudah soal rasa, tidak ada patokannya ini. Walaupun saya sendiri ada setujunya dengan pendapatnya. Ada banyak makanan Jepang yang saya tidak suka.
Konon kabarnya perkara enak tidaknya makanan itu tidak hanya bergantung pada lidah. Tetapi peran mata dan hidung lumayan besar. Bahkan ada yang bilang indra penciuman lah yang memiliki peran besar untuk membedakan mana makanan enak dan mana makanan yang lebih baik dikasihkan orang lain saja.
Makanan Jepang, terutama kudapan ringannya, tampaknya dirancang dengan prinsip itu. Kudapan ringan dibungkus dengan indahnya, mengundang selera. Lantas perkara baunya? Weeeee …. halus, tidak menyengat, menggugah selera untuk segera memasukannya ke mulut. Perkara bagaimana nasib makanan atau pemakan setelah makanan itu masuk mulut, itu urusan lain.
Tidak hanya kudapan ringan yang dibungkus bagus. Foto di atas adalah makanan untuk makan siang, daging yang ditata indah. Semua yang terpampang itu bisa di makan, kecuali piring dan mejanya, keras. Dengan hidangan ikan, penataannya bisa lebih bagus lagi, ada yang dibentuk seperti burung merak misalnya.
Semua dilakukan untuk menggugah selera, toh bagi banyak orang, makan tidak hanya urusan perut, tetapi juga mata. Maka bungkus yang bagus memang perlu. Bicara perkara bungkus bagus, apakah juga berlaku bagi manusia Jepang? Dibungkus bagus, berbau harum, sehingga orang-orang Jepang itu tampak indah, tetapi begitu bungkus dibuka dan diicipi rasanya sepa? Tak tahu saya. Sampeyan mungkin bisa tanya pada balibul, pitik atau endik, mereka jagonya.
Oh ya, daging di foto di atas itu daging kuda. Saya pernah menceritakannya di sini.
15 orang ikut ndobos
28 September 2007 14:49:29
gita
nah klo soal pera tidaknya manusia jepangnya itu, emang pitik, balibul dan endik sing paling tahu :D, soale aku rung tahu nyoba pakdhe
28 September 2007 15:32:40
iway
sambil makan ngebayangin jadi mbek yang lagi makan pagar tetangga
28 September 2007 15:32:50
Paman Tyo
Saya kagum sama orang Jepang dalam hal mengemas makanan, seni bungkus kado, seni lipat dan potong kertas, wah pokoke hebat.
28 September 2007 15:55:37
oon
si tukang ngrokot aprikot kok sama ya pikiranya tentang masakan jepang dengan saya :p
makanan yang penting rasanya, masalah wujud toh kalau dah masuk mulut gak kliatan lagi to ndoro
28 September 2007 16:04:20
Luthfi
Setidaknya, dengan keluarnya produk tsb ke pasaran, artinya produk tsb sudah lolos berbagai macam uji, termasuk uji organoleptik (rasa, tekstur, aroma dll).
Klo rasanya gak pas dilidah om mbilung dan mbak gita, wajar saja, krn mungkin waktu itu gak ada orang indonesia yg jd panelis produk tsb
28 September 2007 20:05:45
Hedi
Saya lebih seneng kalo yg bungkusin makanannya cewek jepang, terserah makanannya dari mana
28 September 2007 21:20:57
yati
itu daging kuda? ada yg mau makan? duh…. manusia emang rakus, kuda aja dimakan
28 September 2007 22:24:35
kw
aku lapar… tak penting bungkus dan rasanya….:)
29 September 2007 00:40:17
mariskova
Yang saya benci bukan makanan atau bungkus makanan Jepangnya. Yang saya benci adalah kenapa sih kalo mereka minta kita nyobain makanan mereka, trus muka kita harus diplototi begitu?
Udah nelennya susah, pake disimak pulak!
29 September 2007 12:45:06
ayahshiva
mungkin bukan rasa yang menjadi prioritas orang jepang tapi yang penting sehat
29 September 2007 22:35:13
bibi SP
oh, itu daging kuda. aku pikir mas mbilung udah jadi jaran kepang, atau sejenis demit karena makan kembang mawar….
.
01 October 2007 10:28:13
merahitam
Aku kok malah nggak tega makannya. sayang banget kalau dirusak, udah bagus gitu loh penataannya. :d
01 October 2007 15:49:40
trie
akur ma mba’ merah hitam
tadi malah aku kira itu meja utk org yg lagi ngrayain plentin… mawar.. gitu looohhh!!!…
02 October 2007 09:23:48
balibul
elloh kok ono aku, pdhl wes tak woco ket wingi..jan pekok tenan aku ki. bungkus opo yo pakdhe kok takone aku…sak mudeng ku nek manusia manapun kalo pake bungkus itu ga enak … yang tak berbungkus itu yang sip
03 July 2008 19:29:43
Kudapan Malam | aprikot & the paperplane
[…] bungkus membungkus makanan orang jepang jagonya. Termasuk pula penamaannya. Strategi pasar untuk menarik minat […]